Saturday, November 22, 2008

Pacaran Dalam Islam???

Semua Artikel dibawah ini saya temukan dalam google dengan kata kunci “pacaran islami”.
Isinya ada yang Pro dan Kontra mengenai Pacaran yang Islami.

Saya mohon maaf kepada pihak2 yang tidak berkenaan dengan dimuatnya blog ini, karena sumbernya saya ambil secara acak dan tidak meminta izin terlebih dahulu.
Sekali lagi saya mohon maafa atas kesalahan yang telah saya perbuat. Insya 4JJI, 4JJI yang akan membalas semua budi baik rekan2.

——————————————————————————————————————————————————

Bagaimana Melakukan ‘Pendekatan’ yang Islami

Assalamu’alaikum

Ustadzah, saya mau bertanya, bagaimana cara yang baik berkenalan dengan seorang wanita muslimah yang Islami. Biasanya kan remaja sekarang melakukan yang namanya PDKT (pendekatan) kemudian pacaran, sedangkan dalam Islam kita tidak dibenarkan berpacaran, karena itu mendekati zina. Bagaimana penyelesaiannya, karena saat ini saya sedang tertarik kepada seorang wanita muslimah dan saya cukup bimbang dibuatnya.

Dalam Islam memang tidak dikenal proses pacaran seperti apa yang dipahami generasi muda saat ini. Proses pacaran seringkali lebih banyak membawa mudharat daripada manfaat, bahkan seringkali membawa kepada perbuatan yang dilarang dalam agama. Melihat kecenderungan aktifitas pasangan muda yang berpacaran, sesungguhnya sangat sulit untuk mengatakan bahwa pacaran itu adalah media untuk saling mencinta satu sama lain. Sebab sebuah cinta sejati tidak berbentuk sebuah perkenalan singkat, misalnya dengan bertemu di suatu kesempatan tertentu lalu saling bertelepon, tukar menukar SMS, chatting dan diteruskan dengan janji bertemu langsung.

Semua bentuk aktifitas itu cenderung bukanlah sebuah aktifitas cinta, sebab yang terjadi adalah kencan dan bersenang-senang. Sama sekali tidak ada ikatan formal yang resmi dan diakui. Juga tidak ada ikatan tanggung-jawab antara mereka. Bahkan tidak ada ketentuan tentang kesetiaan dan seterusnya.

Padahal cinta itu memiliki, tanggung-jawab, ikatan syah dan sebuah harga kesetiaan. Dalam format pacaran, semua instrumen itu tidak terdapat, sehingga jelas sekali bahwa pacaran itu sangat berbeda dengan cinta.

Pacaran Bukanlah Penjajakan/Perkenalan

Bahkan kalau pun pacaran itu dianggap sebagai sarana untuk saling melakukan penjajagan, perkenalan atau mencari titik temu antara kedua calon suami istri, bukanlah anggapan yang benar. Sebab penjajagan itu tidak adil dan kurang memberikan gambaran sesungguhnya dari data yang diperlukan dalam sebuah persiapan pernikahan.

Dalam format mencari pasangan hidup, Islam telah memberikan panduan yang jelas tentang apa saja yang perlu diperhitungkan. Misalnya sabda Rasulullah SAW tentang 4 kriteria yang terkenal itu.

Dari Abi Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW berdabda,”Wanita itu dinikahi karena 4 hal: [1] hartanya, [2] keturunannya, [3] kecantikannya dan [4] agamanya. Maka perhatikanlah agamanya kamu akan selamat.” (HR. Bukhari Kitabun Nikah Bab Al-Akfa’ fiddin nomor 4700, Muslim Kitabur-Radha’ Bab Istihbabu Nikah zatid-diin nomor 2661)

Selain empat kriteria itu, Islam membenarkan bila ketika seorang memilih pasangan hidup untuk mengetahui hal-hal yang tersembunyi yang tidak mungkin diceritakan langsung oleh yang bersangkutan. Maka dalam masalah ini, peran orang tua atau pihak keluarga menjadi sangat penting.

Inilah proses yang dikenal dalam Islam sebaga ta’aruf. Jauh lebih bermanfaat dan objektif ketimbang kencan berduaan. Sebab kecenderungan pasangan yang sedang kencan adalah menampilkan sisi-sisi terbaiknya saja. Terbukti dengan mereka mengenakan pakaian yang terbaik, bermake-up, berparfum dan mencari tempat-tempat yang indah dalam kencan. Padahal nantinya dalam berumah tangga tidak lagi demikian kondisinya.

Istri tidak selalu dalam kondisi bermake-up, tidak setiap saat berbusana terbaik dan juga lebih sering bertemua dengan suaminya dalam keadaan tanpa parfum. Bahkan rumah yang mereka tempati itu bukanlah tempat-tempat indah mereka dulu kunjungi sebelumnya. Setelah menikah mereka akan menjalani hari-hari biasa yang kondisinya jauh dari suasana romantis saat pacaran.

Maka kesan indah saat pacaran itu tidak akan ada terus menerus di dalam kehidupan sehari-hari mereka. Dengan demikian, pacaran bukanlah sebuah penjajakan yang jujur, sebaliknya sebuah penyesatan dan pengelabuhan.

Dan tidak heran kita dapati pasangan yang cukup lama berpacaran, namun segera mengurus perceraian belum lama setelah pernikahan terjadi. Padahal mereka pacaran bertahun-tahun dan membina rumah tangga dalam hitungan hari. Pacaran bukanlah perkenalan melainkan ajang kencan saja.

Etika Ta’aruf

Dalam melakukan penjajagan yang syar`i, ada beberapa ketentuan yang harus dipatuhi antara lain:

1. Tidak Berduaan (Kholwah)

Kholwah adalah bersendirian dengan seorang perempuan lain (ajnabiyah). Yang dimaksud perempuan lain, yaitu: bukan isteri, bukan salah satu kerabat yang haram dikawin untuk selama-lamanya, seperti ibu, saudara, bibi dan sebagainya.

Ini bukan berarti menghilangkan kepercayaan kedua belah pihak atau salah satunya, tetapi demi menjaga kedua insan tersebut dari perasaan-perasaan yang tidak baik yang biasa bergelora dalam hati ketika bertemunya dua jenis itu, tanpa ada orang ketiganya. Dalam hal ini Rasulullah bersabda sebagai berikut:

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka jangan sekali-kali dia bersendirian dengan seorang perempuan yang tidak bersama mahramnya, karena yang ketiganya ialah syaitan.” (Riwayat Ahmad)

“Jangan sekali-kali salah seorang di antara kamu menyendiri dengan seorang perempuan, kecuali bersama mahramnya.”

2. Tidak Melihat Jenis Lain dengan Bersyahwat

Di antara sesuatu yang diharamkan Islam dalam hubungannya dengan masalah gharizah, yaitu pandangan seorang laki-laki kepada perempuan dan seorang, perempuan memandang laki-laki. Mata adalah kuncinya hati, dan pandangan adalah jalan yang membawa fitnah dan sampai kepada perbuatan zina.

Katakanlah kepada orang-orang mu’min laki-laki, “Hendaklah mereka itu menundukkan sebagian pandangannya dan menjaga kemaluannya” (an-Nur: 30-31)

3. Menundukkan Pandangan

Yang dimaksud menundukkan pandangan itu bukan berarti memejamkan mata dan menundukkan kepala ke tanah. Bukan ini yang dimaksud dan ini satu hal yang tidak mungkin. Hal ini sama dengan menundukkan suara seperti yang disebutkan dalam al-Quran dan tundukkanlah sebagian suaramu (Luqman: 19). Di sini tidak berarti kita harus membungkam mulut sehingga tidak berbicara.

Tetapi apa yang dimaksud menundukkan pandangan, yaitu: menjaga pandangan, tidak dilepaskan begitu saja tanpa kendali sehingga dapat menelan perempuan-perempuan atau laki-laki yang beraksi.

Pandangan yang terpelihara, apabila memandang kepada jenis lain tidak mengamat-amati kecantikannya dan tidak lama menoleh kepadanya serta tidak melekatkan pandangannya kepada yang dilihatnya itu.

Oleh karena itu pesan Rasulullah kepada Ali r.a:

“Hai Ali! Jangan sampai pandangan yang satu mengikuti pandangan lainnya. Kamu hanya boleh pada pandangan pertama, adapun yang berikutnya tidak boleh.” (Riwayat Ahmad, Abu Daud dan Tarmizi)

Rasulullah s.a.w. menganggap pandangan liar dan menjurus kepada lain jenis, sebagai suatu perbuatan zina mata. Sabda beliau: “Dua mata itu bisa berzina, dan zinanya ialah melihat.” (Riwayat Bukhari)

4. Hindari Berhias Yang Berlebihan (Tabarruj)

Tabarruj ini mempunyai bentuk dan corak yang bermacam-macam yang sudah dikenal oleh orang-orang banyak sejak zaman dahulu sampai sekarang. Ahli-ahli tafsir dalam menafsirkan ayat yang mengatakan:

“Dan tinggallah kamu (hai isteri-isteri Nabi) di rumah-rumah kamu dan jangan kamu menampak-nampakkan perhiasanmu seperti orang jahiliah dahulu.” (QS Ahzab: 33)

5. Dalam Teknisnya, tidak harus selalu dengan langkah formal, resmi atau protokoler. Bisa juga dengan cara yang tersamar yang tidak bisa dengan mudah ditafsirkan dengan mudah oleh pihak wanita sebagai bentuk penjajagan. Sebab bila sejak awal seorang wanita sadar bahwa dirinya sedang dijajagi, bisa jadi dia malah nervous, salah tingkah atau mungkin malah bertindak yang tidak-tidak. Maka bisa saja dilakukan secara pergaulan yang alami dan normal.

6. Selain itu bisa juga menggunakan utusan orang yang bisa dipercaya. Dan yang lebih utama adalah utusan yang berfungsi sekaligus sebagai konselor dalam urusan pernikahan. Sosoknya adalah orang yang sudah berpengalaman mendalam dalam urusan keluarga, sehingga apa yang diinformasikannya bukan semta-mata bahan mentah, melainkan dilengkapi dengan analisa yang sudah siap dijadikan bahan pertimbangan oleh anda.

Wassalamu’alaikum wr. wb.

——————————————————————————————————————————————————

Leo F. Buscaglia, begitu namanya. Seorang professor pendidikan di
University of Southren California, di Amerika. Ia seorang dengan seabreg
kegiatan sosial dan ceramah-ceramah tentang pendidikan. Satu tema yang terus
menerus dibawanya dalam banyak ceramah, adalah tentang cinta.

“Manusia tidak jatuh ‘ke dalam’ cinta, dan tidak juga keluar ‘dari cinta’.
Tapi manusia tumbuh dan besar dalam, cinta,” begitu katanya dalam sebuah
ceramah.

Cinta, di banyak waktu dan peristiwa orang selalu berbeda mengartikannya.
Tak ada yang salah, tapi tak ada juga yang benar sempurna penafsirannya.
Karena cinta selalu berkembang, ia seperti udara yang mengisi ruang kosong.

Cinta juga seperti air yang mengalir ke dataran yang lebih rendah. Tapi
ada satu yang bisa kita sepakati bersama tentang cinta.

Bahwa cinta, akan membawa sesuatu menjadi lebih baik, membawa kita untuk
berbuat lebih sempurna. Mengajarkan pada kita betapa, besar kekuatan yang
dihasilkannya.

Cinta membuat dunia yang penat dan bising ini terasa indah, paling tidak
bisa kita nikmati dengan cinta. Cinta mengajarkan pada kita, bagaimana
caranya harus berlaku jujur dan berkorban, berjuang dan menerima, memberi
dan mempertahankan.

Bandung Bondowoso tak tanggung-tanggung membangunkan seluruh jin dari
tidurnya dan menegakkan seribu candi untuk Lorojonggrang seorang. Sakuriang
tak kalah dahsyatnya, diukirnya tanah menjadi sebuah telaga dengan perahu
yang megah dalam semalam demi Dayang Sumbi terkasih yang ternyata ibu
sendiri. Tajmahal yang indah di India, di setiap jengkal marmer bangunannya
terpahat nama kekasih buah hati sang raja juga terbangun karena cinta. Bisa
jadi, semua kisah besar dunia, berawal dari cinta.

Cinta adalah kaki-kaki yang melangkah membangun samudera kebaikan. Cinta
adalah tangan-tangan yang merajut hamparan permadani kasih sayang.

Cinta adalah hati yang selalu berharap dan mewujudkan dunia dan kehidupan
yang lebih baik.

Dan Islam tidak saja mengagungkan cinta tapi memberikan contoh kongkrit
dalam kehidupan. Lewat kehidupan manusia mulia, Rasulullah tercinta. Ada
sebuah kisah tentang totalitas cinta yang dicontohkan Allah lewat kehidupan
Rasul-Nya.

Pagi itu, meski langit telah mulai menguning, burung-burung gurun enggan
mengepakkan sayap. Pagi itu, Rasulullah dengan suara terbata memberikan
petuah, “Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta
kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua hal pada
kalian, sunnah dan Al Qur’an. Barang siapa mencintai sunnahku, berati
mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan bersama-sama
masuk surga bersama aku.” Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata
Rasulullah yang teduh menatap sahabatnya satu persatu.

Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar (^_^)Vnya naik turun
menahan napas dan tangisnya. Ustman menghela napas panjang dan Ali
menundukkan kepalanya dalam-dalam. Isyarat itu telah datang, saatnya sudah
tiba. “Rasulullah akan meninggalkan kita semua,” desah hati semua sahabat
kala itu. Manusia tercinta itu, hampir usai menunaikan tugasnya di dunia.
Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan sigap menangkap
Rasulullah yang limbung saat turun dari mimbar. Saat itu, seluruh sahabat
yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu, kalau bisa.

Matahari kian tinggi, tapi pintu Rasulullah masih tertutup. Sedang di
dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang
berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya.
Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam.
“Bolehkah saya masuk?” tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk,

“Maafkanlah, ayahku sedang demam,” kata Fatimah yang membalikkan badan dan
menutup pintu. Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah
membukan mata dan bertanya pada Fatimah, “Siapakah itu wahai anakku?” “Tak
tahulah aku ayah, sepertinya ia baru sekali ini aku melihatnya,” tutur
Fatimah lembut. Lalu, Rasulullah menatap putrinya itu dengan pandangan yang
menggetarkan. Satu-satu bagian wajahnya seolah hendak di kenang.
“Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang
memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malakul maut,” kata Rasulullah,
Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri,
tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tak ikut menyertai. Kemudian
dipang(^_^)Vh Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia
menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini.

“Jibril, jelaskan apa hakku nanti dihadapan Allah?” Tanya Rasululllah
dengan suara yang amat lemah. “Pintu-pintu langit telah terbuka, para
malaikat telah menanti ruhmu. Semua surga terbuka lebar menanti
kedatanganmu,” kata jibril. Tapi itu ternyata tak membuat Rasulullah lega,
matanya masih penuh kecemasan. “Engkau tidak senang mendengar kabar ini?”
Tanya Jibril lagi. “Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?”
“Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman
kepadaku: ‘Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah
berada di dalamnya,” kata Jibril.

Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh
Rasulullah ditarik tampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh,
urat-urat lehernya menegang. “Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini.”
Lirih Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk
semakin dalam dan Jibril membuang muka. “Jijikkah kau melihatku, hingga kau
palingkan wajahmu Jibril?” Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu
itu. “Siapakah yang tega, melihat kekasih Allah direnggut ajal,” kata
Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah v(^_^)vik, karena sakit yang
tak tertahankan lagi. “Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua
siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku.” Badan Rasulullah mulai dingin,
kaki dan (^_^)Vnya sudah tak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak
membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya. “Uushiikum bis
shalati, wa maa malakat aimanuku, peliharalah shalat dan santuni orang-orang
lemah di antaramu.” Di luar !
pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah
menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telingan ke bibir
Rasulullah yang mulai kebiruan. “Ummatii, ummatii, ummatiii…” Dan,
pupuslah kembang hidup manusia mulia itu.

Istilah pacaran itu sebenarnya bukan bahasa hukum, karena pengertian dan batasannya tidak sama buat setiap orang. Dan sangat mungkin berbeda dalam setiap budaya. Karena itu kami tidak akan menggunakan istilah `pacaran` dalam masalah ini, agar tidak salah konotasi.

Pacaran Dalam Pandangan Islam

a. Islam Mengakui Rasa Cinta

Islam mengakui adanya rasa cinta yang ada dalam diri manusia. Ketika seseorang memiliki rasa cinta, maka hal itu adalah anugerah Yang Kuasa. Termasuk rasa cinta kepada wanita (lawan jenis) dan lain-lainnya.

“Dijadikan indah pada manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik .”(QS. Ali Imran :14).

Khusus kepada wanita, Islam menganjurkan untuk mengejwantahkan rasa cinta itu dengan perlakuan yang baik, bijaksana, jujur, ramah dan yang paling penting dari semau itu adalah penuh dengan tanggung-jawab. Sehingga bila seseorang mencintai wanita, maka menjadi kewajibannya untuk memperlakukannya dengan cara yang paling baik.

Rasulullah SAW bersabda,”Orang yang paling baik diantara kamu adalah orang yang paling baik terhadap pasangannya (istrinya). Dan aku adalah orang yang paling baik terhadap istriku”.

b. Cinta Kepada Lain Jenis Hanya Ada Dalam Wujud Ikatan Formal

Namun dalam konsep Islam, cinta kepada lain jenis itu hanya dibenarkan manakala ikatan di antara mereka berdua sudah jelas. Sebelum adanya ikatan itu, maka pada hakikatnya bukan sebuah cinta, melainkan nafsu syahwat dan ketertarikan sesaat.

Sebab cinta dalam pandangan Islam adalah sebuah tanggung jawab yang tidak mungkin sekedar diucapkan atau digoreskan di atas kertas surat cinta belaka. Atau janji muluk-muluk lewat SMS, chatting dan sejenisnya. Tapi cinta sejati haruslah berbentuk ikrar dan pernyataan tanggung-jawab yang disaksikan oleh orang banyak.

Bahkan lebih ‘keren’nya, ucapan janji itu tidaklah ditujukan kepada pasangan, melainkan kepada ayah kandung wanita itu. Maka seorang laki-laki yang bertanggung-jawab akan berikrar dan melakukan ikatan untuk menjadikan wanita itu sebagai orang yang menjadi pendamping hidupnya, mencukupi seluruh kebutuhan hidupnya dan menjadi `pelindung` dan ‘pengayomnya`. Bahkan `mengambil alih` kepemimpinannya dari bahu sang ayah ke atas bahunya.

Dengan ikatan itu, jadilah seorang laki-laki itu `the real gentleman`. Karena dia telah menjadi suami dari seorang wnaita. Dan hanya ikatan inilah yang bisa memastikan apakah seorang laki-laki itu betul serorang gentlemen atau sekedar kelas laki-laki iseng tanpa nyali. Beraninya hanya menikmati sensasi seksual, tapi tidak siap menjadi the real man.

Dalam Islam, hanya hubungan suami istri sajalah yang membolehkan terjadinya kontak-kontak yang mengarah kepada birahi. Baik itu sentuhan, pegangan, cium dan juga seks. Sedangkan di luar nikah, Islam tidak pernah membenarkan semua itu. Kecuali memang ada hubungan `mahram` (keharaman untuk menikahi). Akhlaq ini sebenarnya bukan hanya monopoli agama Islam saja, tapi hampir semua agama mengharamkan perzinaan. Apalagi agama Kristen yang dulunya adalah agama Islam juga, namun karena terjadi penyimpangan besar sampai masalah sendi yang paling pokok, akhirnya tidak pernah terdengar kejelasan agama ini mengharamkan zina dan perbuatan yang menyerampet kesana.

Sedangkan pemandangan yang lihat dimana ada orang Islam yang melakukan praktek pacaran dengan pegang-pegangan, ini menunjukkan bahwa umumnya manusia memang telah terlalu jauh dari agama. Karena praktek itu bukan hanya terjadi pada masyarakat Islam yang nota bene masih sangat kental dengan keaslian agamanya, tapi masyakat dunia ini memang benar-benar telah dilanda degradasi agama.

Barat yang mayoritas nasrani justru merupakan sumber dari hedonisme dan permisifisme ini. Sehingga kalau pemandangan buruk itu terjadi juga pada sebagian pemuda-pemudi Islam, tentu kita tidak melihat dari satu sudut pandang saja. Tapi lihatlah bahwa kemerosotan moral ini juga terjadi pada agama lain, bahkan justru lebih parah.

c. Pacaran Bukan Cinta

Melihat kecenderungan aktifitas pasangan muda yang berpacaran, sesungguhnya sangat sulit untuk mengatakan bahwa pacaran itu adalah media untuk saling mencinta satu sama lain. Sebab sebuah cinta sejati tidak berentu sebuah perkenalan singkat, misalnya dengan bertemu di suatu kesempatan tertentu lalu saling bertelepon, tukar menukar SMS, chatting dan diteruskan dengan janji bertemua langsung.

Semua bentuk aktifitas itu sebenarnya bukanlah aktifitas cinta, sebab yang terjadi adalah kencan dan bersenang-senang. Sama sekali tidak ada ikatan formal yang resmi dan diakui. Juga tidak ada ikatan tanggung-jawab antara mereka. Bahkan tidak ada ketentuan tentang kesetiaan dan seterusnya.

Padahal cinta itu memiliki, tanggung-jawab, ikatan syah dan sebuah harga kesetiaan. Dalam format pacaran, semua instrumen itu tidak terdapat, sehingga jelas sekali bahwa pacaran itu sangat berbeda dengan cinta.

d. Pacaran Bukanlah Penjajakan / Perkenalan

Bahkan kalau pun pacaran itu dianggap sebagai sarana untuk saling melakukan penjajakan, perkenalan atau mencari titik temu antara kedua calon suami istri, bukanlah anggapan yang benar. Sebab penjajagan itu tidak adil dan kurang memberikan gambaran sesungguhnya dari data yang diperlukan dalam sebuah persiapan pernikahan.

Dalam format mencari pasangan hidup, Islam telah memberikan panduan yang jelas tentang apa saja yang perlu diperhitungkan. Misalnya sabda Rasulullah SAW tentang 4 kriteria yang terkenal itu.

Dari Abi Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW berdabda,”Wanita itu dinikahi karena 4 hal : [1] hartanya, [2] keturunannya, [3] kecantikannya dan [4] agamanya. Maka perhatikanlah agamanya kamu akan selamat. (HR. Bukhari Kitabun Nikah Bab Al-Akfa’ fiddin nomor 4700, Muslim Kitabur-Radha’ Bab Istihbabu Nikah zatid-diin nomor 2661)

Selain keempat kriteria itu, Islam membenarkan bila ketika seorang memilih pasangan hidup untuk mengetahui hal-hal yang tersembunyi yang tidak mungkin diceritakan langsung oleh yang bersangkutan. Maka dalam masalah ini, peran orang tua atau pihak keluarga menjadi sangat penting.

Inilah proses yang dikenal dalam Islam sebaga ta’aruf. Jauh lebih bermanfaat dan objektif ketimbang kencan berduaan. Sebab kecenderungan pasangan yang sedang kencan adalah menampilkan sisi-sisi terbaiknya saja. Terbukti dengan mereka mengenakan pakaian yang terbaik, bermake-up, berparfum dan mencari tempat-tempat yang indah dalam kencan. Padahal nantinya dalam berumah tangga tidak lagi demikian kondisinya.

Istri tidak selalu dalam kondisi bermake-up, tidak setiap saat berbusana terbaik dan juga lebih sering bertemua dengan suaminya dalam keadaan tanpa parfum. Bahkan rumah yang mereka tempati itu bukanlah tempat-tempat indah mereka dulu kunjungi sebelumnya. Setelah menikah mereka akan menjalani hari-hari biasa yang kondisinya jauh dari suasana romantis saat pacaran.

Maka kesan indah saat pacaran itu tidak akan ada terus menerus di dalam kehidupan sehari-hari mereka. Dengan demikian, pacaran bukanlah sebuah penjajakan yang jujur, sebaliknya sebuah penyesatan dan pengelabuhan.

Dan tidak heran kita dapati pasangan yang cukup lama berpacaran, namun segera mengurus perceraian belum lama setelah pernikahan terjadi. Padahal mereka pacaran bertahun-tahun dan membina rumah tangga dalam hitungan hari. Pacaran bukanlah perkenalan melainkan ajang kencan saja.

Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,
Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

Pusat Konsultasi syariah
——————————————————————————————————————————————————
Pacaran Islami, Memang Ada?
Publikasi : 15-02-2005

KotaSantri.com : Bagi remaja, bila istilah itu disebut-sebut bisa membuat jantung berdebar. Siapa sich yang enggak semangat bila bercerita seputar pacaran? Semua orang yang normal pasti senang dan bikin deg-degan.

Bicara soal cinta memang diakui mampu membangkitkan semangat hidup. Termasuk anak masjid, yang katanya “dicurigai” tak kenal cinta. Sama saja, anak masjid juga manusia, yang memiliki rasa cinta dan kasih sayang. Pasti dong, mereka juga butuh cinta dan dicintai. Soalnya perasaan itu wajar dan alami. Malah aneh bila ada orang yang enggak kenal cinta, jangan-jangan bukan orang.

Nah, biasanya bagi remaja yang sedang kasmaran, mereka mewujudkan cinta dan kasih sayangnya dengan aktivitas pacaran. Kaya’ gimana sich? Deuuh, pura-pura enggak tau. Itu tuch, cowok dan cewek yang saling tertarik, lalu mengikat janji, dan akhirnya ada yang sampai hidup bersama layaknya suami istri.

Omong-omong soal pacaran, ternyata sekarang ada gossip baru tentang pacaran islami. Ini kabar benar atau *****a upaya melegalkan aktivitas baku syahwat itu? Malah disinyalir, katanya banyak pula yang melakukannya adalah anak masjid. Artinya mereka itu pengen Islam, tapi pengen pacaran juga. Ah, ada-ada saja!!!!!

Memang betul, kalo dikatakan bahwa ada anak masjid yang meneladani tingkah James Van Der Beek dalam serial Dawson’s Creek, tapi bukan berarti kemudian dikatakan ada pacaraan Islami, itu enggak benar. Siapapun yang berbuat maksiat, tetap saja dosa. Jangan karena yang melakukan adalah anak masjid, lalu ada istilah pacaran Islami. Enggak bisa, jangan-jangan nanti kalau ada anak masjid kebetulan lagi nongkrongin judi togel, disebut judi Islam? Wah gawat bin bahaya.

Tentu lucu bin menggelikan dong bila suatu saat nanti teman-teman remaja yang berstatus anak masjid atau aktivis dakwah terkena “virus” cinta kemudian mengekspresikannya lewat pacaran. Itu enggak bisa disebut pacaran Islami karena memang enggak ada istilah itu. Jangan salah sangka, mentang-mentang pacarannya pakai jilbab, baju koko, dan berjenggot, lalu mojoknya di masjid, kita sebut aktivitas pacaran Islami. Wah salah besar itu!!!

Lalu bagaimana dengan sepak terjang teman-teman remaja yang terlanjur menganggap aktivitas baku syahwatnya sebagai pacaran Islami? Sekali lagi dosa! Iya dong. Soalnya siapa saja yang melakukan kemaksiatan jelas dosa sebagai ganjarannya. Apalagi anak masjid, malu-maluin ajach.

Coba simak QS. An-Nuur : 30, “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan menjaga kehormatannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” Kemudian QS. An-Nuur : 31, “Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan menjaga kehormatannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya…”.

Jadi gimana dong? Dalam Islam tetep tak ada yang namanya pacaran Islami. Lalu kenapa istilah itu bisa muncul? Boleh jadi karena teman-teman remaja hanya punya semangat keislaman saja tapi minus tsaqafah ‘pengetahuan’ Islamnya. So? Ngaji lagi yuk!!! (jilbab_is_good@yahoo.com) (m1ta)
——————————————————————————————————————————————————
[Sarikata.com] terpeleset akibat pujian

-==-
Tue, 28 Mar 2006 19:55:29 -0800

masjidits.com-Saya pernah berada dalam satu lingkungan dengan ikhwan yang Allah
karuniakan kepadanya wajah yang subhanallah, tutur kata yang sopan, lemah
lembut, dan alim, sehingga membuatnya dikagumi oleh banyak ikhwan maupun
akhwat. Ia benar-benar dijadikan teladan bagi ikhwah pada umumnya. Pujian
sering dilontarkan kepadanya, entah hanya dalam bentuk celetukan ringan ataupun
memang serius ingin memuji setinggi langit.

Hari demi hari berlalu. Hanya ada namanya di setiap event. Dalam arti, selalu
ia yang menjadi figur untuk ditampilkan di depan sebagai pembawa acara, kultum
dan sebagainya. Semua, bergantung kepadanya. Pun, ketika digelar teater Islam,
ia menjadi pemeran utama yang –sudah dapat dipastikan– membuat para penonton
ammah wanita berteriak histeris memanggil namanya. Sampai–sampai ada yang
memberi sekuntum bunga, usai pementasan tersebut.

Hingga …suatu hari, tersiarlah kabar yang membuat hati para ikhwah tersentak
luar biasa dan terluka. Karena sang ikhwan yang selama ini dijadikan teladan,
telah mengumandangkan gerakan pacaran Islami. Ia membela diri bahwa yang
dilakukannya memang pacaran, tetapi Islami, sehingga sah-sah saja di dalam
Islam. Ia pun memasang artikel yang membolehkan pacaran Islami, di mading.
Dengan siapakah ia berpacaran? Dengan salah satu fans-nya.

Ikhwah yang lain tentu tak tinggal diam melihat tindakan nyeleneh ini, dan
segera memberi pertolongan pertama berupa tausiyah (nasehat). Karena kejadian
ini bukan hanya akan berdampak pada pribadi saja, namun bisa berdampak luas
pada khalayak, sebab ia figur terdepan dakwah. Terjadilah, sebuah polemik di
lapangan. Banyak ammah yang mempertanyakan hal ini, “Bukankah si fulan, sang
aktivis masjid itu, juga pacaran?”

Meski saya sadari kedudukan saya ketika itu, yang notabene baru pemula dalam
mendalami Islam, tetapi hati saya terpanggil untuk ikut beramar ma’ruf nahi
munkar, setelah hampir semua ikhwan tak sanggup menasehatinya. Saya
memberanikan diri memberikan buku hadits dan menunjukkan kepadanya sebuah
hadits mengenai zina tangan, zina kaki, zina lisan, zina telinga, zina mata,
dan zina hati. Pun hadits tentang pemuda yang sebaiknya berpuasa bila belum
mampu menikah. Saya tinggalkan begitu saja ia dengan buku itu. Ia tertunduk
sejenak, membaca, dan menutup buku itu. Entah apa yang dipikirkannya.

Waktu berlalu cukup lama. Hingga suatu hari terdengar kabar di kalangan ikhwah
bahwa sang ikhwan tersebut sudah memutuskan kekasihnya. Semua ikhwah bersyukur
karena ia masih mau mendengar nasehat-nasehat kami, dan kembali ke jalan yang
benar.

Kisah ini hanyalah untuk kita ambil hikmahnya, bahwa kita semua turut
bertanggung jawab atas pengkondisian saudara kita. Memuji berlebihan dan
mengidolakan di hadapannya, akan membawa dampak yang kurang baik. Jika orang
yang kita rujuki itu ada dalam keadaan lemah iman, maka dapat membuatnya lupa
daratan, bahkan bisa lupa ibadah dan bersyukur kepada-Nya. Alhamdulillah sang
ikhwan ini segera bertaubat, tetapi bagaimana bila tidak? Disorientasi dalam
da’wah. Kala niat yang semula ikhlas hanya karena-Nya, namun di tengah
perjalanan, banyak rintangan dan godaan, yang merusak keikhlasan. Entah itu
disebabkan karena wanita, kekuasaan, atau harta.

Dan untuk akhiku dan ukhtiku yang lain… Suka atau tidak, terkadang dakwah
memang mengharuskan kita tampil di depan umum, hingga banyak orang yang
mengenal kita. Dan di antara para aktivis, pasti ada beberapa orang yang memang
sangat menonjol, atau memang sengaja ditonjolkan oleh jamaah. Konsekuensinya,
hal ini dapat membuat aktivis dan muslim lain terkagum-kagum padanya. Adalah
menjadi tanggung jawab kita juga untuk menjaga akhi dan ukhti kita, agar ia
tetap bercahaya keikhlasannya, hingga bertemu Rabbnya.

Dikisahkan, Hasan Al Banna dipuji oleh sang pembawa acara, bahwa inilah sang
pemuda bak Rasulullah saw dan para ikhwan adalah bak para sahabat. Hasan Al
Banna sontak segera meluruskan pernyataan itu dan mengatakan bahwa dirinya
bukanlah seperti yang dikatakan sang pembawa acara itu, karena ia hanyalah
seorang Hasan Al Banna yang memiliki kekurangan dan tidak selayaknya
disejajarkan dengan Rasululah saw yang ma’sum.

Berhati-hati terhadap lisan, untuk tidak memuji manusia hingga setinggi langit.
Inginkah kita kehilangan saudara, lantaran kita tidak bisa menjaga ucapan dan
celetukan seperti, “Waduh, akh…antum memang hebat.” Atau “Ane calonin antum
jadi ketum, deh!” “Antum gitu loh, siapa lagi yang bisa?” “Wah, binaan antum
jadi semua nih, hebat!”

Mengkondisikan dan mem-back up saudara-saudara kita adalah menjadi tugas dan
tanggung jawab amal jama’i pula. Semoga kita dapat saling menjaga. Seperti
ungkapan Asy Syahid Imad Aqil, mujahid Palestina, yang ketika dipuji oleh
teman-temannya akan keberanian aksinya melawan tentara-tentara Israel, ia
menjawab bahwa tak ada gunanya membicarakan amal yang telah lalu, karena dapat
merusak amal (dengan riya –red). Dan ia berkata, “Riya lebih aku takuti
daripada tentara-tentara Israel.” []
——————————————————————————————————————————————————
…::: SpEciAL TrAsH :::…
Pacaran Itu Sunnah Aug 28, ‘05 8:32 AM
for everyone
Direstui Nabi SAW

Bolehjadi, di antara sekian banyak argumen, yang paling diandalkan
untuk menghujat ‘pacaran islami’ adalah … “Islam sama sekali tidak
mengenal pacaran.” … “Pacaran bukan dari Islam, melainkan …
budaya jahiliyah modern.” … Benarkah pacaran adalah budaya
jahiliyah modern (dari Barat)? Mari kita periksa….

Dari Ibnu Abbas r.a., ia berkata: Nabi saw. mengirim satu pasukan
[shahabat], lalu mereka memperoleh rampasan perang yang di antaranya
terdapat seorang tawanan laki-laki. [Sewaktu interogasi], ia berkata,
“Aku bukanlah bagian dari golongan mereka [yang memusuhi Nabi]. Aku
hanya jatuh cinta kepada seorang perempuan, lalu aku mengikutinya.
Maka biarlah aku memandang dia [dan bertemu dengannya], kemudian
lakukanlah kepadaku apa yang kalian inginkan.” Lalu ia dipertemukan
dengan seorang wanita [Hubaisy] yang tinggi berkulit coklat, lantas
ia bersyair kepadanya, “Wahai dara Hubaisy! Terimalah daku selagi
hayat dikandung badanmu! Sudilah dikau kuikuti dan kutemui di suatu
rumah mungil atau di lembah sempit antara dua gunung! Tidak benarkah
orang yang dilanda asmara berjalan-jalan di kala senja, malam buta,
dan siang bolong?” Perempuan itu menjawab, “Baiklah, kutebus dirimu.”
Namun, mereka [para shahabat itu] membawa pria itu dan menebas
lehernya. Lalu datanglah wanita itu, lantas ia jatuh di atasnya, dan
menarik nafas sekali atau dua kali, kemudian meninggal dunia. Setelah
mereka bertemu Rasulullah saw., mereka informasikan hal itu [dengan
antusias] kepada beliau, tetapi Rasulullah saw. berkata [dengan
sindiran tajam]: “Tidak adakah di antara kalian orang yang
penyayang?” (HR ath-Thabrani [dengan sanad hasan] dalam Majma’
az-Zawâid 6: 209)

Kita perhatikan, tema utama informasi yang disampaikan oleh para
shahabat kepada Rasulullah sehingga beliau bersabda begitu adalah
kisah hubungan asmara di luar nikah. Saat itu barangkali mereka kira,
perilaku pacaran itu kemunkaran besar yang harus dicegah dengan
‘tangan’ (kekuatan) bila mampu, sedangkan kemampuan ini ada pada
mereka selaku pemenang pertempuran. Mereka menghukum mati si lelaki,
dan mungkin menyangkanya sebagai perbuatan baik demi mencegah
kemunkaran besar. Namun, Rasulullah justru marah.

Sebaliknya, kata Abu Syuqqah, “beliau menampakkan belas kasihnya
kepada kedua orang yang sedang dilanda cinta itu” dan menyalahkan
perbuatan shahabat. (Abdul Halim Abu Syuqqah, Kebebasan Wanita,
jilid 5, hlm. 75) Ini menyiratkan, seharusnya si tawanan dibebaskan
walau akibatnya kemudian ia melakukan pacaran dengan si dia. Dengan
demikian, ada kemungkinan bahwa pacaran (bercintaan dengan
kekasih-tetap) merupakan sunnah taqriri, kebiasaan yang direstui Nabi
saw..

Sampai di sini mungkin Anda masih penasaran: Manakah istilah
‘pacaran’ dalam hadits tersebut? Jawaban kita: Penyebutannya tidak
langsung tersurat, tetapi tersirat.

Untuk sampai ke pengertian itu, kita mengacu pada unsur-unsur
‘pacaran’ yang baku : bercintaan dengan kekasih-tetap. Adakah aktivitas bercintaan
di dalamnya? Ada. Ini ditunjukkan oleh ungkapan “Wahai dara Hubaisy,
terimalah daku selagi hayat dikandung badanmu!” dan “Baiklah…”
Tampaknya, rasa cinta antara keduanya itu begitu mendalam.
Sampai-sampai, si pria mempertaruhkan nyawa untuk dapat bertemu
dengan kekasihnya, sedangkan si wanita sampai jatuh dan meninggal
dunia di atas jasad kekasihnya. Ini menunjukkan, aktivitas bercintaan
itu terjadi antara sepasang kekasih yang tetap, bukan sekadar teman
sesaat. Dengan demikian, unsur-unsur ‘pacaran’ yang baku sudah
terkandung di dalam hadits tersebut….

Bagaimana bila sesudah kita kemukakan hadits yang mengisyaratkan
bahwa Rasulullah menghalalkan ‘pacaran’ (bercintaan dengan
kekasih-tetap), penghujat-penghujat ‘pacaran islami’ masih berpegang
pada fatwa bahwa “pacaran selalu haram” dan “tidak ada pacaran dalam
Islam”? Padahal mereka tidak mengemukakan nash yang mengharamkannya?
Dalam keadaan begitu, mungkin sebaiknya kita sampaikan ayat: “Dan
tidaklah patut bagi laki-laki yang beriman dan tidak [pula] bagi
perempuan yang beriman, bila Allah dan rasul-Nya telah menetapkan
suatu ketentuan [hukum], akan ada bagi mereka pilihan [hukum lain]
tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan
rasul-Nya, maka sungguh ia sesat, sesat yang nyata.” (al-Ahzaab [33]:
36)

Catatan: Untuk mengantisipasi kemungkinan kesalahpahaman, silakan
baca dengan lengkap buku Muhammad Shodiq, Wahai Penghujat Pacaran
Islami (Surakarta: Bunda Yurida, Desember 2004)

Kutipan dari buku Muhammad Shodiq, Wahai Penghujat Pacaran Islami,
Jangan Kau Undang Kemurkaan Allah dan Kemarahan Rasul-Nya
(Surakarta: Bunda Yurida, Desember 2004), hlm. 42-47
——————————————————————————————————————————————————
Pacaran dan Zinah:MUTUALLY EXCLUSIVE

Oleh fajri

Seorang sahabat pernah bercerita pada saya bahwa ‘pacaran islami’ menurut Ustadz Jeffry Al-Bukhory memiliki beberapa syarat. Misalnya nggak boleh berpandangan, berpegangan tangan dsb. Dan beliau menertawakannya karena merasa bahwa tidak ada pacaran yang seperti itu. Inilah yang menarik, dan membuat saya ingin membahasnya. Yah, terlepas dari kenyataan bahwa saya juga ‘punya’ (n_n). Pertanyaan mendasar yang akan mengawali analisis saya adalah: Ngapain Ustadz Jeffry Al-Bukhory capek-capek membuat kategori pacaran islami, kalau tidak ada orang yang pacaran dengan cara islami seperti itu ? Kenapa, seorang ustadz berani mengatakan seperti itu ? Padahal jelas sekali dikatakan dalam Al-Qur’an bahwa dilarang mendekati zinah, kemudian bahwa kita tidak boleh meniru kebiasaan suatu kaum karena itu membuat kita menjadi bagian dari kaum itu, dan juga tidak boleh melakukan hal yang tidak dikenal oleh islam.

Itu adalah karena pacaran dan zinah adalah dua hal yang ‘Mutually Exclusive’. Maksudnya adalah dua hal yang saling lepas dan (semestinya) tidak berkaitan. Tapi sekali lagi saya mohon supaya ini dibaca sampai habis. Sudah berulang kali ide saya disanggah sebelum selesai saya sampaikan karena mereka merasa sok pintar dan merasa sudah nyambung, padahal ternyata belum.

Apa sih sebenarnya pacaran itu ? Secara umum, pacaran itu adalah kedekatan hubungan dua manusia lawan jenis (normalnya sih begini…) yang merupakan tahap pengenalan untuk kemudian menikah. Ini bukan dari kamus manapun, tapi yah ini kesimpulan umum. Nah, ini juga ada bukan dalam islam ? Yakni ta’aruf ? Jadi, ini tidak bisa dibilang budaya yang tidak dikenal oleh islam. Ada pertentangan, mengenai tata cara dari ta’aruf itu sendiri. Banyak yang mengatakan bahwa ta’aruf itu selayaknya cuma perlu sebentar saja dan tidak perlu pacaran segala. Tapi itu relatif. Setiap orang punya kebutuhan yang berbeda-beda. Tiap orang butuh waktu yang bervariasi untuk kita bisa mengenal dan memahami orang lain, dan dan punya standar masing-masing untuk menganggapnya cukup.

Ada yang merasa bahwa kenal saja sudah cukup. Ada yang merasa bahwa merka perlu kenal, dan lebih memahami satu sama lain kemudian baru memutuskan dan sebagainya. Ada yang sudah kenal karena memang sahabat, sudah suka sama suka, tapi masih ingin memastikan dengan mengenal lebih dalam lagi. Apa salahnya kalau ta’arufnya lama ? Tidak ada salahnya. Kalau pakai ‘title’ ? Misalnya ‘pacar’ atau ‘kekasih’? Apa salahnya ?

Semua yang salah itu terletak pada apa yang cenderung terjadi. Kecenderungan orang-orang barat yang menganut free seks dan melakukan hubungan seks kalau berpacaran, berpegang-pegangan, berciuman, berpelukan dan sebagainya. Tapi ada satu hal yang perlu diingat. Orang nasrani yang taat juga tidak akan berhubungan seks sebelum menikah. Jadi budaya ini tidak eksklusif dimiliki oleh kaum nasrani dan tidak pula mewakilinya. Tapi mereka disesatkan oleh sekulerisme dan liberalisme yang memberikan justifikasi. Karena seks dinilai sebagai ‘bumbu’ cinta dan salah satu wujud perkenalan itu sendiri.

Bumbu cinta ? Nyatanya bisa saja orang melakukan seks dengan WTS tanpa merasakan cinta sama sekali. Jadi itu tidak ada hubungannya. Nyatanya juga, belum tentu semua pasangan pacar yang pernah seks toh akan langgeng. Tuh kan… Sudah di’cicip’i, tidak jadi dibeli. Nggilani… Apa iya kita perlu seks untuk mengenal pasangan kita ? Tentu saja tidak. Logikanya begini saja. Meskipun kita belum menikah, tahukah kita ‘cara’ melakukan seks ? Tentu kita tahu. Tahukah kita ‘bentuk’ lawan jenis kita seperti apa ? Tentu kita tahu. Enakkah seks itu ? Pasti enak. Makanya, tidak perlu khawatir. Kalau jeruk, belum tentu manis jadi dicicipi dulu. Kalau ini kan sudah pasti, coy ! Dan kita tidak perlu ‘mencicipi’ setiap sahabat kita kan untuk mengenalinya bukan ? Apalagi sudah dilarang untuk seks pranikah. Pegang-pegangan tangan, berdua-duaan, apalagi ciuman dan nggilani kalo sampe sleep-sleepan…. Dan kita bisa kok mencapai tujuan ‘pengenalan’ tanpa melakukan semua itu. Masuk akal.

Karena esensi dari pengenalan adalah komunikasi. Dan waktu yang dibutuhkan itu relatif. Toh bukan terbatas pada orang pacaran saja kalau mau seks bebas. Orang yang sesatnya sudah parah sih akan seks dengan siapa saja. Karena itu cuma mengumbar nafsu belaka saja. Jadi seks bebas bukan kesalahan yang eksklusif milik pacaran. Kalau memang pacaran dituduh sebagai pembenaran, ya itu salah. Itu tuduhan tidak beralasan dan mengada-ada. Sama saja seperti menimpakan kesalahan pada uang. Itu bisa juga kok jadi kambing hitam nyaris semua kejahatan mulai dari pembunuhan perampokan sampai seks bebas juga (prostitusi). Tapi apakah itu berarti uang itu salah ? Karena semua itu kembali pada niat. Apa sih tujuannya ? Dan apa sih yang kita lakukan untuk mencapainya ? Apakah relevan? Apakah terlarang ?

Bagaimana dengan minuman keras ? Kalau ini sudah jelas, karena pasti entah mabuk, atau merusak tubuh. Kemungkinan keburukan yang ada cuma dua. Salah satu dari yang tadi disebut, atau keduanya. Jadi ini sudah pasti. Tapi bagaimana dengan fakta bahwa banyak sekali orang yang melanggar ketentuan ini. Itu namanya ‘pelanggaran’. Hanya karena sesuatu cenderung dilanggar, bukan berarti aturan itu dihapuskan. Morfin itu dipakai untuk pengobatan, tapi aturan-aturan dibuat. Banyak yang melanggar, tapi polisi terus memburu para pelanggar dan pemakaian morfin pada tempatnya tetap diperbolehkan. Seks ada aturannya. Hanya boleh setelah menikah, dan pada orang yang dinikahi. Pelanggarnya banyak, tapi mereka semua dikenai dosa. Dan mereka yang melakukannya dengan mematuhi aturan tetap boleh melanjutkan aktivitas. Bagaimana kalau yang pacaran cuma main-main saja ? Ya jangan dong. Simpel kan ? Mereka tidak punya tujuan jelas, apalagi di tengah jalan pakai zinah segala. Itu dia yang dosa.

Dan bagaimana soal hati kita yang terus membayangkan si ‘dia’? Menurut saya itu wajar kalau namanya suka. Sehingga mau pacaran atau tidak, itu bisa terjadi dan alamiah. Tinggal istighfar, dan insyaAllah beres dan tidak berlanjut. Masalah mulai muncul kalau yang terfikir adalah hal yang tidak-tidak. Tapi skali lagi kalau memang otak ngeres, mau pacaran atau tidak, ya itu akan muncul. Dan kalau pacaran akan membuat itu lebih parah, itu adalah karena emang ngeres dan, dengan sok tahunya, merasa bahwa pacaran itu membenarkan hal-hal sinting seperti itu, dan itu jelas salah.

Dan coba dibayangkan. Jika kita benar-benar mencintai dan menyayangi seseorang, apakah kita akan tega untuk membayangkan atau bahkan melakukannya ? Tentunya tidak. Dapat disimpulkan bahwa yang terlarang adalah pacaran yang… pacaran yang… pacaran yang… Sehingga yang terlarang adalah teknis pelaksanaan. Secara konsep tidak karena masih termasuk dengan ta’aruf. Ini sekaligus untuk menguji komitmen saya. Pacaran itu tidak boleh dan toh tidak perlu seks, pegang-pegang, bertatapan sok mesra, peluk-peluk, berdua-duaan dsb. Tapi selama masih punya telinga dan mulut, jempol dan pulsa, kertas dan pena, atau ongkos warnet, komunikasi bisa terus berjalan dan pacaran bisa berjalan juga cuma dengan itu. Jika ada yang merasa itu semua tidak perlu, maka ya tidak usah. Karena ini adalah pilihan, dan ‘tidak perlu’ bukan berarti ‘tidak boleh’. Tapi ingat. Semua pilihan memiliki konsekuensi.

14 Komentar pada artikel “Pacaran dan Zinah:MUTUALLY EXCLUSIVE”
Ukhti yang peduli bilang:
April 19th, 2006 jam 14:05

Assalamu’alaykum warahmatullah

Akhi,
saya pernah terjebak dengan pikiran itu. Sempat.
Itu dikarenakan diri yang tidak dapat mengendalikan perasaan “sayang”.
Namun alangkah PENGECUTnya kita bila bicara pacaran dulu tapi nikah nanti….
Dalam iIslam hanya ada dua pilihan saat dorongan hati timbul, “menikah” atau “lupakan”.
ingat…Istigfar hanya akan membasuh telinga dan jemari yang digunakan untuk ber-sms dosa…tapi tidak seluruh tubuh yang berlumur “kasih sayang”. Sang Pemilik Hati akan mempertanyakan…kemana hati kita letakkan, ditangan dia yang “halal” atau yang “dihalal-halal kan?”
Hati kita milik Allah dan akan selalu begitu.
Sekali lagi, sangat PENGECUT bicara kasih sayang tanpa tanggung jawab.
Bila cinta…NIKAHI.
Belum berani, lupakan.
Perbaiki diri.
Bila jodoh pasti kembali.
Itu pun bila akhi percaya akan takdir Allah yang maha Agung dan Indah.

Wallahu’alamu bish showab

Wassalam
Fajri bilang:
April 23rd, 2006 jam 20:39

Afwan sebelumnya….
Terima kasih sudah peduli,
Tapi ini dia maksud saya yang nggak mau baca semuanya sampai selesai…

Intinya saya juga bilang nikah. Yang saya maksud adalah yang serius Tapi nikah itu pake ta’aruf toh ?
2 pertanyaan.
1.Kalo ta’aruf itu disebut ‘pacaran islami’ gimana ?
Saya sering dengan pernyataan konyol bahwa prnyataan di atas itu salah karena pacaran itu tidak islami. Itu sangat konyol, karena yang saya katakan adalah intinya ta’aruf dengan semua tata caranya. Ada yang lama, ada yang sebentar, intinya ta’aruf. Nah itulah yang disebut ‘pacaran islami’.
Kalaupun ada masalah dengan itu, adalah pelanggaran-pelanggaran praktis dan prejudis yang tidak eksklusif milik ta’aruf.

2.Kalo belum direstui gimana? Gimana kalo nikahnya nggak bisa langsung, tapi niat ada ? Bagaimana hubungan antara pasangan ini?
Pernyataan konyol lagi yang sering saya dapat: Dijaga. Apanya yang dijaga ? Jawaban apaan tuh ? Itu nggak menjawab apa-apa. Nggak cuma terhadap non-mukhrim aja toh yang mesti di jaga?
Intinya kita tau aja kalo kita udah saling suka dan mau nikah, tinggal tunggu saat yang tepat, ya tetap saja kita berhubungan biasa. Sama seperti dengan lawan jenis yang lainnya. Tidak ada yang diistimewakan dalam hal perlakuan, dan izzah tetap dijaga.

Jadinya orang bertanya-tanya: Terus yang pacaran itu yang mananya kalo nggak ada yang berubah ?
Niat untuk menikah dan istiqomah untuk berusaha. Cuma sebatas itu saja.

Jadi apa bentuk tanggung jawab atas kasih sayang yang Ukhti tanyakan? Niat dan istiqomah.

Doakan saya ya… (n_n)
orang awam bilang:
April 24th, 2006 jam 8:46

Sayangnya, “pacaran” itu tidak memiliki landasan hukum yang jelas. Makanya jadi susah untuk memaknainya. Kalau seperti yang Fajri bilang, tentang khamr, di dalam Al Qur’an disebutkan bahwa itu haram, maka ganja, shabu-shabu dan barang-barang yang punya akibat sama dengan khamr adalah haram.

Kalau pacaran?
Banyak yang memberikan dalil wa laa taqrobuz zina. Yang berpendapat demikian mengatakan, bahwa pacaran itu mendekati zina. Jadi tidak boleh dilakukan. Lalu ada yang nyeletuk, “Yang ngga boleh kan mendekati, kalo zina sekalian kan gpp”. Hehe, bukan begitu maksudnya. Kalau mendekati aja ngga boleh, apalagi melakukan… Yang “mendekati” itu yang seperti apa? Wallahu a’lam. Penafsiran orang-orang bisa jadi beda lagi. Mungkin ada orang yang terangsang kalau udah berpegangan, tapi yang lain ngerasa biasa-biasa aja. Ada juga yang dengan sekali pandang langsung berpikiran macam-macam. Makanya lalu diperintahkan untuk ghaddul bashar

Bagaimana dengan ta’aruf? Ada yang bilang, ta’aruf beda dengan pacaran, karena ta’aruf tidak dilakukan dengan berdua-duaan, selalu ada yang ketiga (bukan setan loh), mungkin ayah, murabbi, dll.

Mungkin kesalahannya adalah bila pacaran dengan mengatas namakan ta’aruf. Apakah pacaran = ta’aruf? Sebagian orang mungkin setuju, tapi yang lain berontak. Kenapa? Karena sekali lagi, arti “pacaran” itu sendiri orang-orang memaknainya lain-lain. Ada yang menganggap pacaran = jalan bareng, ada yang bilang “Namanya bukan pacaran tuh, kalo kissing aja ngga pernah”.

Kalau ada yang bilang “pacaran Islami” = ta’aruf, mungkin saja benar, karena mereka melakukan “kegiatan” pacaran itu dengan selalu didampingi oleh orang ke tiga. Dan bukankah itu sah-sah saja? (karena yang tidak boleh itu berkhalwat alias berdua-duaan). Lain lagi masalahnya kalau berdua-duaan yang dimaksud adalah berdua-duannya seorang dokter wanita dengan pasien pria. Berkholwatkah mereka? Tentu tidak. Niatnya kan beda. Merembet masalah niat bisa panjang lagi ceritanya…

Stop sampe sini aja lah. Namanya juga orang awam, nyuwun pangapunten kalau banyak salah. Semoga komentar ini tidak menambah daftar dosa-dosa saya selaku orang awam. Hanya Allah yang mengetahui segala sesuatu.
Yang lebih awam bilang:
April 26th, 2006 jam 20:30

Pacaran beda dengan ta’aruf.

Setahu saya ta’aruf itu dilakukan setelah ada pembicaraan dengan ortu. Artinya, sang ikhwan sudah minta persetujuan untuk menikah kepada ortunya dan sudah menemui ortu sang akhwat untuk mengkhitbahnya. Jadi sudah ada kepastian untuk menikah, bukan baru sekedar komitmen. Barulah ta’aruf yang bertujuan untuk SEDIKIT mengenal calon pasangan. Karena pada hakikatnya proses saling mengenal yang lebih mendalam dilakukan saat sudah menikah. Maka, sesuai anjuran Rasulullah, menikah itu ga usah muluk2, cukup cari tahu soal kecantikannya, kekayaannya, keturunannya tapi yg mau sukses cukup cari tahu soal AGAMANYA. Ga perlu lama2 khan?

Jadi, kalo baru berkomitmen untuk menikah, bukanlah ta’aruf.

Untuk orang awam, maap nih ye, sesama orang awam, setahu saya yang namanya berkhalwat itu sama siapa (selain mahram) aja gak boleh kalo belum nikah. Walau antara dokter dgn pasien. Bahkan beberapa ulama itu melarang kita tolabul ilmi di majelis yg berikhtilat (seperti di Indonesia), dalam ruang kuliah ngga ada hijab. Maka, kalo dalam syariat Islam, pasien wanita ditangani dokter wanita, pasien pria ditangani dokter pria. Kecuali daruroh.
orang awam (lagi) bilang:
April 27th, 2006 jam 8:25

Susahnya…jadi orang Indonesia… serba dosa
muslimah jogja bilang:
April 27th, 2006 jam 14:24

pacaran jaman sekarang emang susah….
coba kita hidup pada jaman nabi dulu,g usah pusing kita mikir dosa g ya yang saya lakukan.

tapi ta’aruf itu penting banget.Semisal beli kucing dalam karung,g tau cacat g tau bagus,pokoknya apa yang di dalam karung itu milik kamu.Sama seperti mau nikah,ga mau donk ujuk-ujuk punya pasangan yang g ngerti asal usulnya,mau ga mau kita kudu berta’aruf ke calon pasangan kita.
tapi seberapa jauh sih berta’aruf itu? boleh minta jawaban ga…..
Orang lain bilang:
April 27th, 2006 jam 17:15

Percaya deh, dulu waktu awal2 belajar agama, saya juga pengen banget berpacaran Islami.
Tapi, semakin banyak tau, semakin jauh dari keinginan itu. Coba renungkan apa hakikatnya Rasulullah melarang bersentuhan, berkhalwat, berikhtilat, gadhul bashar, dll. Yaitu untuk menjaga dari penyakit hati. Virus Merah Jambu, kata orang. Itulah yang sebenarnya berbahaya, selain zina.

Coba deh antum yg pada punya pacar islami, atau yg lagi ngecengin seseorang, renungkan….
Apakah shalat wajib antum sudah tepat waktu?
Apakah shalat antum sudah khusyuk hanya mengingat Allah?
Apakah yg ada dalam pikiran antum hanya Allah setiap saat?
Apakah niat segala aktifitas antum hanya karena Allah?
Apakah waktu2 antum digunakan untuk yg bermanfaat?
Ataukah….
Yg ada dipikiran antum lebih banyak ttg si doi
Makan, tidur, shalat, tidak bisa melupakan si doi
Antum beraktifitas supaya si doi melihat hal positif pd antum
Waktu antum digunakan untuk SMS-an, chatting, telpon2an yg isinya cuma rayu2an atau pembicaraan2 ringan tak berbobot seperti “Udah makan belum” “Gimana kabar hari ini?”

Daripada mikirin akhwat, mendingan waktu2 kita digunakan bwt ningkatin kualitas diri. Mikir akhwat nanti aja kalo udah siap. Ga usah takut gag punya jodoh.

Kongkretnya, lupakan soal pacaran, tingkatin kualitas diri, cari kerja, kalo udah baru cari akhwat, nikah.
Sirius Back bilang:
April 27th, 2006 jam 19:46

Ta’aruf >Perkenalan

dari diskusi-diskusi seeh taaruf ga boleh melebihi 3 bulan. Walaupun ini tidak ada dalilnya, namun kalo bisa sesingkat-singkatnya.
Tahu ga, yang namanya jodoh ga bakalan lari kemana.

tapi ta’aruf itu penting banget.Semisal beli kucing dalam karung,g tau cacat g tau bagus,pokoknya apa yang di dalam karung itu milik kamu.Sama seperti mau nikah,ga mau donk ujuk-ujuk punya pasangan yang g ngerti asal usulnya,mau ga mau kita kudu berta’aruf ke calon pasangan ki ta.
tapi seberapa jauh sih berta’aruf itu? boleh minta jawaban ga

Mo sedikit jawab neeh, ta’aruf yang jelas ada aturannya dalam Islam. Seberapa jauh ta’ruf tergantung keimanan seseorang. Katakan saja saya seorang yang sangat pemilih, pasti klo “calon ” ga punya “ini”saya ga mau, atau bla, bala sederetan keinginan yang lain boleh disampaikan pada prosese ta’aruf. Klo ditanya sejauh mana taaruf yang pasti tetap jaga hijab, bila ditolak ga usah sedih toh manusia itu semua ada jodohnya, klo ga ada jodoh di dunia, subhanalloh banget ia akan punya jodoh di akhirat.

Alloh akan memudahkan seoarng hamba nya yang sudah siap, just beleive it. So, bagi yang mau nikah kok taarufnya ga lancar-lancar husnudzon aja memang itulah yang terbaik, Alloh pasti punya skenario yang lain. Stop pacaran, tetep jaga izzah antum, serius kiy
fajri bilang:
April 29th, 2006 jam 12:59

Alhamdulillah tanggapannya banyak… Saya jadi banyak belajar juga nih, tapi saya masih teguh pada pendapat saya btw…
Menanggapi “ORANG LAIN” yang menurut saya sangat representatif, saya punya pertanyaan. Bagaimana kalau saya katakan bahwa: KAlau bisa memenuhi semua pertanyaan antum, apakah berarti nggak apa-apa ? Menurut saya ya. Karena begini.

Umpama antum syuro, kan bertemu lawan jenis tuh… Walau terpisah, tapi komunikasi terjadi. Biarpun ada hijab, tapi apa yang tampak bukanlah yang sesungguhnya membuat tertarik. Lalu antum tertarik. Kebetulan dia juga. Dan kebetulan lagi, sama-sama tau. Itu biasa banget kan terjari ? Nah, pertanyaannya adalah: Lalu bagaimana ?
Apa sih yang umumnya antum akan lakukan kemudian ? Tentu antum akan istighfar, dan terus menjaga hati. Mengenai hubungan antum dengan ‘dia’, ya tidak berbeda dengan akhwat lainnya. Kurang-lebihnya begitu bukan ? Wajar, dan apa adanya.
Lalu, salahkah kalau misalnya antum mengatakan: “InsyaAllah jika kita nanti berjodoh, saya ingin menikah dgn akhi” ? Nggak salah. Kalo dia bilang: “InsyaAllah iya.” ? Nggak salah juga kan ? Lalu kalau antum misalnya sudah merasa yakin, dan meminta izin ortunya? Salahkah itu ? Atau antum mau mencap orang lain belum siap ? SIapa sih yang memutuskan apa dirinya sudah siap ?

Lalu apa yang salah ? PREJUDIS ANTUM TENTANG PACARAN. Jadi walaupun semua yang terjadi sesuai saja dengan syariat, antum nggak akan liat. Misalnya, di zaman saat wanita terdiskriminasi, muncul stigma bahwa wanita itu tidak mampu apapun. Jadi saat ada wanita yang berusaha tampil, masyarakat akan tdiak percaya. Padahal, belum lihat dia seperti apa.

Sama seperti ini. Sebenarnya, kalau apa yang saya katakan tentang ‘pacaran islami’ dipublikasikan, orang akan berkata ITU MAH BUKAN PACARAN. Karena mereka sudah punya prejudis tentang apa yang mereka tahu tentang pacaran. Tapi secara psikologis, antum juga akan mengatakan bahwa ITU MELANGGAR SYARIAH. Padahal yang mananya sih yang melanggar ? Saya nggak melihat apapun. Kalaupun ada yang melanggar, yah itu namanya pelanggaran. Ta’aruf juga bisa saja dilanggar. Apapun bisa dilanggar.
Makanya, menurut saya “ORANG LEBIH AWAM” memberikan respon yang sama sekali tidak relevan. “Ta’aruf itu mesti ada izin ortu” dan sebagainya. Ya memang. Makanya, kalau menurut saya ya itulah yang mestinya dilakukan. Ini membuktikan apa ?

Nah itu dia maksud saya, kenapa BANYAK ORANG YANG MEMBANTAH SAYA SEBELUM MEMBACA/MENDENGAR SAMPAI HABIS. Karena antum sudah punya PREJUDIS, sehingga apapun penjelasan saya tidak akan tercerna semua. Dan wal hasil, akan menimbulkan respon yang entah irelevan atau masalah yang sudah terjawab.

Maka jujur saja, sebenarnya menurut saya semua respon di sini insyaAllah tidak ada yang salah. Benar semua, dan sesuai dengan hukum-hukum yang ada. Masalahnya, rata-rata tidak ada yang relevan dengan kasus yang saya bawakan. Kelihatannya yang paham sebenarnya maksud saya apa dan tidak termakan prejudis adalah respon dari ORANG AWAM (no 3)

Afwan kalau ada yang tersinggung, atau kurang setuju. InsyaAllah yang saya sampaikan barusan juga objektif, akurat, dan juga bebas dari prejudis. Karena saya pernah hidup dalam lingkungan dimana saya dituntut sangat sekuler, tapi juga dituntut kritis dan dinamis, sehingga insyaAllah kurang lebihnya terbebas dari prejudis.

Karena sesungguhnya, untuk menilai dengan fair dan tanpa prejudis, perlu sementara menghilangkan afiliasi hati dengan pihak tertentu. InsyaAllah ini bukan sekuler, tapi cuma pengkorelasian sebuah ide dengan ide lainnya.

Wallahualam
Orang lain bilang:
April 30th, 2006 jam 15:04

Saya jadi bingung sama antum…
Sebenernya kasus yg antum ajukan itu
“Sudah sama-sama suka dan segera mau menikah” (Kasus 1)
atau
“Sudah sama-sama suka, tapi belum siap nikah, dan menunggu sampai siap baru nikah”. (Kasus 2)

Karena, bisa jadi antum yang salah menilai, bahwa pendapat2 kami bukanlah PREJUDIS tapi ANALISIS.

Lalu, salahkah kalau misalnya antum mengatakan: “Insya Allah jika kita nanti berjodoh, saya ingin menikah dgn akhi” ? Nggak salah. Kalo dia bilang: “InsyaAllah iya.” ? Nggak salah juga kan ? Lalu kalau antum misalnya sudah merasa yakin, dan meminta izin ortunya? Salahkah itu ?

Pertama, baca dulu artikel ini. Kemudian, kalo dalam kasus 1, ini tidak salah. Ini sama dengan mengkhitbah. Kalo sama2 sudah bilang “iya” maka datangi ortu sang akhwat, langsung nikah deh. Tapi kalo dalam kasus 2, ini bahaya. Misalnya antum memperkirakan nikah 1 atau 2 tahun lagi. Selama 1 atau 2 tahun itu bakal banyak fitnah, hati mudah terkotori, rasa rindu yg menggebu memancing syahwat, ibadah tidak khusyuk, takut kehilangan, takut si dia diambil orang, takut rasa cinta dia berkurang, dll. Dan jujur saja, bila 2 orang terikat hatinya seperti itu, pasti ada keinginan besar untuk sering bertemu. Awal2nya memang bisa ditahan, tapi 1 tahun 2 tahun adalah waktu yg lama yg bisa menggoyahkan iman. Dan akhirnya merekapun tak kuasa menahan rindu, bertemulah mereka, berduaan, atau minimal bertemu dalam forum, kemudian pandang2an, atau aktifitas lain yg dilarang. Masya Allah. Padahal belum ada pertalian yg syah.

“Tidaklah aku tinggalkan sesudahku suatu fitnah yang lebih membahayakan bagi laki-laki daripada (fitnah) perempuan.” (H.R. Bukhari)

Umpama antum syuro, kan bertemu lawan jenis tuh… Walau terpisah, tapi komunikasi terjadi. Biarpun ada hijab, tapi apa yang tampak bukanlah yang sesungguhnya membuat tertarik. Lalu antum tertarik. Kebetulan dia juga. Dan kebetulan lagi, sama-sama tau. Itu biasa banget kan terjari ? Nah, pertanyaannya adalah: Lalu bagaimana ?

Jawabnya, Istighfar, jaga hati, jaga pergaulan dan kurangi intensitas bermuamalah dengan dia. Maka dalam syuro sekali pun harus di jaga dengan baik, hijabnya, kata2nya, suaranya, pandangannya.

“Maka janganlah kalian merendahkan suara dalam berbicara sehingga berkeinginan jeleklah laki-laki yang berpenyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang ma‘ruf.” (Al Ahzab: 32)

Sekali lagi, saya tidak menawarkan perselisihan, saya mau menawarkan solusi. Lupakan pacaran, lupakan soal wanita, sibukkan diri untuk memperbaiki diri, meningkatkan kualitas diri, habiskan pulsa untuk dakwah (bukan sayang2an), belajar ilmu agama dan ilmu dunia, siapkan mental, jadilah pria dewasa, cari ma’isyah, baru pikirkan nikah.
Kalo diri sudah keren, alim, sholeh, tajir, Insya Allah dapet pasangan yg berkualitas juga.

“Perempuan-perempuan jahat untuk laki-laki jahat, laki-laki Jahat untuk perempuan-perempuan jahat pula, perempuan-perempuan baik untuk laki-laki baik, laki-laki baik untuk perempuan-perempuan baik pula. Mereka itu (orang-orang baik) terlepas dan tuduhan yang mereka katakan, untuk mereka ampunan dan rezeki yang mulia.” (Q.S An-Nur:26)

Susah? Memang. Tapi bukankah itu lebih mulia?
fajri bilang:
May 1st, 2006 jam 23:33

“””Sebenernya kasus yg antum ajukan itu
“Sudah sama-sama suka dan segera mau menikah” (Kasus 1)
atau
“Sudah sama-sama suka, tapi belum siap nikah, dan menunggu sampai siap baru nikah”. (Kasus 2)”””

JAWAB:Ya entah salah satu atau keduanya.

Mengenai masalah gimana kalo syuro ketemu, sama2 suka dan sama2 tahu, katanya mesti “Istighfar, jaga hati, jaga pergaulan dan kurangi intensitas bermuamalah dengan dia. Maka dalam syuro sekali pun harus di jaga dengan baik, hijabnya, kata2nya, suaranya, pandangannya.”

JAWAB: Ya iyalah… Memangnya saya bilangnya apa? Tapi yang saya kurang setuju adalah “kurangi intensitas muamalah”. Sebab dalam bermuamalah dengan siapapun, tentunya harus secukupnya. Nggak kurang, nggak lebih. Karena sesungguhnya apapun yang “terlalu”, itu tidak baik untuk urusan apapun.
Sehingga, muamalah dengan si ‘dia’ juga nggak perlu dikurangin lah…. Sewajarnya saja sesuai kebutuhan. Kalo dikurangin, akan ‘terlalu’ kurang dong…

Tapi kalo emang ternyata jadi “terlalu’ intens, ya memang perlu dikurangi sih…

“habiskan pulsa untuk dakwah (bukan sayang2an)”

JAWAB: Itu mah mnjijikkan kalee… Boros duit buat gombal… Tapi lucu juga lho melihat sms orang-orang pacaran (tapi bukan konteks yang saya berikan lho…)…
Ada aja cara orang nge’flirt’ dengan cara gombal yang bodoh dan nggak masuk akal, tapi cewek bisa aja klepek klepek dengan itu….

“Lupakan pacaran, lupakan soal wanita, sibukkan diri untuk memperbaiki diri, meningkatkan kualitas diri, habiskan….. …..baru pikirkan nikah.”

JAWAB: Menurut saya keduanya itu bisa berjalan bersamaan kok. Dan setiap orang punya prioritas sendiri. Apalagi bisa saja ya terfikirkan juga bukan ? Masalahnya adalah:
1.Bagaimana kita menyikapi dan mengendalikan diri terhadap ‘keinginan’ atas lawan jenis.
2.Bagaimana kita membuatnya tidak mengganggu usaha kita memperbaiki diri dsb tersebut.

Susah? Memang. Tapi bisa, dan tidak salah. Dan juga bukannya tidak mulia
Orang lain bilang:
May 2nd, 2006 jam 13:11

Pertama, baca dulu artikel ini.
Bila kita terlanjur suka dengan seseorang, maka perketat penjagaan hati, dan kurangi intensitas muamalah. Karena syaithan lebih gencar menggoda saat kita bermuamalah dengan dia daripada dgn yang lain.
Sungguh saudaraku, saat hati kita kotor sekecil apapun, mustahil meraih kesempurnaan ibadah dan kemuliaan akhlak. Walau tangan, mata, telinga tidak berzina, hati kita lebih sering berzina.
“Zina kedua mata itu memandang, zina kedua telinga itu mendengar, zina kedua tangan itu menjabat, zina kedua kaki itu melangkah dan zina hati itu mengingini, mengangan-angankannya“ - ( Riwayat Bukhari dan Muslim)
Maka, jagalah hati.
Coba renungkan kenapa antum bersikeras ingin pacaran ? Karena susah melupakan dia? Karena sudah terlanjur cinta? Karena tidak bisa hidup tenang tanpanya? Karena hanya dia satu2nya wanita yg antum inginkan? Karena berat meninggalkan dia? Karena dia selalu terbayang di pikiran antum? Astaghfirullah…. hati-hati akhi…..
Harapan saya, mari kita sama2 perdalam ilmu agama, sedalam-dalamnya, jangan merasa cukup. Niscaya antum akan mengerti kenapa para ulama mengharamkan pacaran, kenapa para aktivis dakwah anti pacaran, kenapa Rasulullah dan para sahabatnya tidak ada yang pacaran. Ataukah antum menganggap para ulama itu kurang ilmunya? atau ketinggalan zaman? atau kurang mengetahui permasalahan masa kini? Astaghfirullah. Semoga kita diberi petunjuk.
Alex bilang:
May 9th, 2006 jam 10:59

Aku mau tanya, apbila sudah terlanjur gimana? dia wanita berjiblab dan agamanya bagus. Dan kami berusaha menjalani dan tidak neko-neko. Karena kami tau bahwa pacaran tidak boleh setelah terjadi .
Orang Lain bilang:
May 9th, 2006 jam 11:56

Pertama, istighfar!

Solusinya, kalau ente merasa sudah istitho’ah (mampu) maka menikahlah!
Kalo belum, entah namanya ‘putusan’ atau apa, ente harus menjaga diri. Tidak boleh ada rasa saling memiliki, tidak boleh ada perhatian yg berlebihan, anggap dia sebagai teman biasa saja yg tidak ada hubungan apa2. Kemudian bersabarlah, dan terus tingkatkan kualitas diri dengan belajar agama, berusaha mencari nafkah, tingkatkan ibadah. Bila sudah siap baru lah mencari pasangan. Tidak harus dengan si dia. Jodoh sudah ada yg mengatur, tidak usah khawatir tidak mendapat jodoh walau ‘putus’ dengan si dia.
——————————————————————————————————————————————————
Buletin Studia
07 Mei 2004 - 06:49
Pilih Syar’i, Tinggalkan Kompromi!
Edisi 194/Tahun ke-5 (10 Mei 2004)

Tantangan nggak cuma ada di Indosiar, tapi nongol di setiap sisi kehidupan kita. Konon kabarnya, orang bijak bilang tantangan dalam hidup adalah suatu anugerah yang bakal bikin kita lebih dewasa dalam bersikap dan berbuat. Cieee… karena adanya tantangan bakal ngetes sejauh mana kesungguhan niat kita tuk meraih tujuan. Siapa yang berani ngadepin setiap tan-tangan, berarti doi punya nyali bin tekad untuk maju. Sebaliknya, siapa yang justru malah menghindari tantangan alias jago ngeles, bisa-bisa dicap Dygta sebagai Pecundang Sejati .

Tantangan juga hadir di hadapan aturan Islam. Aturan yang kita yakini bakal bikin selamet dunia akhirat bagi yang istiqomah. Tantangan itu muncul karena perbedaan waktu antara zaman Rasulullah dan sekarang. Karena beda masa beda sarana. Dulu perbankan nggak ada, sekarang bejibun. Dulu pemerintahan demokrasi belum lahir, kini demokrasi dianggap satu-satunya solusi. Makanya ada yang ber-pendapat kudu ada reformasi terhadap aturan-aturan Islam. Terutama bagian yang dirasa udah nggak cucok lagi ama kondisi sekarang.

Nah, lalu muncul deh gaya hidup “kompromi” di kalangan umat Islam. Gaya hidup yang mencoba menjadikan aturan Islam sebagai aturan yang fleksibel. Nggak kaku bin jumud terhadap perkembangan zaman. Mirip-mirip sifat air yang selalu bisa menyesuaikan dengan tempat doi berada. Aturan poligami dianggap udah basi. Karena kini ada aturan emansipasi wanita yang kudu dijunjung tinggi. Sampe ada mahasiswi yang menggelar aksi penentangan terhadap aturan poligami. Wah berabe nih urusannya! Inga..inga.. firman Allah Swt.:

“Apakah kalian mengimani sebagian al-Quran dan mengingkari sebagian yang lainnya? Tiada balasan bagi orang-orang yang berbuat demikian di antara kalian selain kenistaan dalam kehidupan dunia, sementara pada hari Kiamat kelak mereka dilemparkan ke dalam azab yang sangat berat.” ( QS al-Baqarah [2]: 85 )

“Kompromi” di sekitar kita

Sobat muda muslim, tentu kita udah nyadar kalo lingkungan di sekitar kita kian steril dari aturan Islam. Mulai dari cara berpakaian, bergaul, di tempat kerja, sekolah, atau di sekitar rumah. Semuanya udah dibalut dengan paham sekuler yang berasal dari gaya hidup Barat. Paham ini yang nempatin aturan agama cuma buat di masjid atau majelis taklim doang. Itu pun sebatas lisan. Padahal kita sebagai muslim juga kudu terikat ama aturan Allah di mana aja dan kapan aja. Ini yang seringkali jadi dilema bagi remaja muslim. Bener kan?

Tentu, dilema yang dialami remaja muslim amat wajar terjadi. Karena aturan ling-kungan di sekitar kita seolah memaksa me-reka untuk sekuler. Inilah yang dikehen-daki musuh-musuh Islam. Melalui media informasi mereka, kita digiring me-ngikuti budaya Barat yang se-kuler dengan cap mo-dern, gaul bin trendi. Hingga kita nggak bisa lihat, denger, tonton, kecuali apa yang mereka tayangkan. Walhasil, pola pikir dan pola sikap kaum Muslimin banyak yang berkiblat pada gaya hidup Barat. Gaswat!

Akibat gaya hidup kompromi, banyak temen-temen kita yang mengalami krisis identitas sebagai muslim. Mereka seolah malu menampilkan sosoknya sebagai muslim atau muslimah. Seperti dalam tren busana musli-mah yang lagi banyak digandrungi. Berkerudung tapi seksi bin modis. Kerudungnya begitu ketat membalut kepala. Terus, ujung-ujung kain penutup kepala itu yang syar’i-nya menutupi bagian dada, malah ditarik ke atas dan dililitkan ke bagian belakang leher. Mereka menyebutnya kudung gaul. Tapi kok amburadul. Piye iki ?

Dalam pergaulan remaja ada istilah ‘pacaran islami’ dengan batasan no kiss no touch . Padahal jalan berdua dengan lawan jenis yang bukan mahramnya aja udah nggak boleh. Gimana bisa ada pacaran islami? Kecuali aktivitas pacaran itu dilakukan after merit . Itu baru siip! Uhuy!

Dalam aktivitas dakwah juga sami mawon. Ada yang coba mengompromikan metode dakwah Rasulullah dengan situasi dan kondisi untuk menarik simpati. Nggak berani nyinggung-nyinggung tradisi, adat, budaya, atau kebiasaan rusak yang berkembang di tengah masyarakat. Nggak pede jelasin kalo perayaan tahun baru masehi, Valentine Days, atau ikut kontes-kontes kecantikan dan penca-rian bakat itu bertentangan dengan Islam. Kalo gini sih, kesannya kayak nyari selamet. Padahal apapun risiko yang dihadapi atau hasil yang diraih, dakwah Islam tetep kudu disampaikan. Bisa-bisa kita termasuk pihak yang ikut melestarikan budaya sekuler kalo menutup-nutupi kebenaran yang datang dari Islam. Betul? Jangan sampe deh!

Jalan tengah = jalan salah

Gencarnya opini sikap kompromi bikin kaum Muslimin banyak yang tejebak. Mereka jadi doyan bersikap moderat (maksudnya jalan tengah. Bukan modal dengkul dan urat lho..) dalam menghadapi setiap permasalahan. Seolah sikap itu yang paling oke, paling selamet, dan diterima semua pihak. Padahal justru sikap itu malah menghindari masalah bukan menghadapinya. Nah lho, kok jadi muter-muter gini?

Begini, jalan tengah adalah konsep yang membangun ideologi kapitalisme. Ini diawali sekitar abad pertengahan. Ceritanya, saat itu ada dua pihak yang lagi bersitegang. Antara pihak gereja yang jadi perpanjangan tangan raja melawan pihak pemikir dan filosof Barat. Keduanya berbeda pendapat tentang agama Kristen dan perannya dalam kehidupan. Rohaniwan dan raja berpendapat kalo Kristen adalah agama yang layak untuk mengatur seluruh kehidupan. Sementara para pemikir dan filosof justru berpendapat sebaliknya. Karena mereka menganggap agama Kristen sebagai penyebab kehinaan dan ketertinggalan. Seharusnya akal manusialah yang layak untuk mengatur segala urusan kehidupan.

Dan ternyata, setelah melewati dua babak yang cukup sengit (emangnya sepak bola?) nggak ada yang menang atau kalah. Dua-duanya sama-sama ngeyel. Akhirnya keduanya me-nyepakati suatu jalan tengah. Mereka mengakui kalo aturan agama emang cocok buat ngatur hubungan manusia dengan Tuhannya. Tapii… aturan agama nggak boleh ikut campur dalam kehidupan manusia. Pokoke, pengaturan urusan kehidupan manusia diserahkan sepenuhnya kepada akal manusia. Titik. Dari sinilah lahir ide pemisahan agama dari kehidupan alias sekulerisme yang jadi prinsip dasar ideologi Kapitalisme. Moga-moga sampe sini kamu ngerti ya. Lanjuut!

Dengan prinsip di atas, orang-orang Barat itu selalu nyari jalan tengah untuk beresin persoalannya atau masalah orang lain. Katanya biar sama-sama enak dan nggak ada yang dirugikan. Seperti solusi yang ditawarkan negara-negara Barat dalam masalah negeri Palestina pada tahun 1948. Mereka melakukan pembagian tanah untuk dua negara: Palestina dan Israel. Tapi, bukannya menyelesaikan masalah, konsep jalan tengah ini malah menambah panjang permasalahan. Karena sampai saat ini, konflik Palestina masih to be continued . Suer!

Dari cerita di atas kita bisa lihat kalo jalan tengah nggak beresin masalah tapi malah menghindarinya. Nggak ada yang bisa tuntaskan masalah perbedaan pendapat dari masing-masing pihak yang berseteru. Baik tentang peran agama Kristen dalam kehidupan maupun perseteruan kaum Muslimin dan kaum Zionis Yahudi di Palestina. Padahal ini kan masalah keyakinan agama yang sifatnya prinsip banget. Jadinya masalah itu dibiarkan tetep ada alias ngambang. Garing banget kan? Padahal mah kudu ada ketegasan untuk hal-hal yang sifatnya prinsipil. Betul?

Ibaratnya, kudu ada yang menang atau kalah di putaran final Liga Champions. Kudu ada kejelasan diterima atau ditolak pas kita melamar seorang gadis. Dan kudu ada akademia yang tereliminasi di setiap konser AFI. Biar ketahuan siapa yang berhak mem-boyong piala Champions dan menyandang gelar tim terbaik Eropa. Siapa yang berhak mengikuti jejak Veri AFI. Atau siapa yang akan segera mengakhiri masa jomblonya. Yo’i kan?

Islam is never die

Allah swt. berfirman: “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS al-Mâidah [5]: 3)

Dalam ayat di atas Allah swt. memastikan kalo agama Islam adalah agama yang sempurna tanpa cacat en cela. Aturannya layak dipakai oleh siapa saja, kapan saja, dan di mana saja. Ini berarti nggak ada masalah yang nggak bisa diatasi oleh aturan Islam. Termasuk masalah baru yang muncul karena perkembangan zaman. Semuanya bisa diselesaikan. Pasti.

Adapun pendapat yang bilang hukum Islam itu fleksibel sebenernya berasal dari orang kafir. Seperti yang pernah disampaikan seorang orientalis Yahudi, Ignaz Goldziher, dalam bukunya. The Introduction to Islamic Law . Dia bilang, perubahan hukum tidak bisa diingkari lagi dengan adanya perubahan tempat dan zaman . Ini artinya fakta yang terjadi karena perkembangan zaman bisa jadi sumber buat pengambilan hukum Islam. Asal deh!

Padahal sampai kiamat sumber hukum Islam hanya al-Quran, as-Sunnah, dan yang dibenarkan oleh keduanya; yaitu Ijma Sahabat dan Qiyas. Sehingga dalam hal ini kedudukan fakta dijadikan sebagai obyek hukum. Kalo ada fakta baru, maka akan ada proses istinbath alias penggalian hukum terhadap fakta itu. Di sini terjadi proses penelaahan informasi yang lengkap bin komplit seputar fakta itu. Lalu digali status hukumnya berdasarkan sumber hukum Islam. Proses ijtihad yang dilakukan para muj-tahid inilah yang menjadikan Islam is Never Die !

Pilih syar’i, tinggalkan kompromi!

Sobat muda muslim, sekarang saatnya kita berkaca pada diri kita. Jalan hidup seperti apa yang akan kita pilih. Haruskah kita mengorbankan jati diri kita sebagai muslim demi status gaul, seksi, atau tren? Pantaskah kita mengutamakan ridho masyarakat daripada ridho Allah? Ragukah kita terhadap kesem-purnaan aturan Allah? Malukah kita kalo kudu istiqomah dengan aturan Islam di lingkungan sekuler sekitar kita?

Adakah kompromi atau jalan tengah yang ditunjukkin Rasulullah dalam hidupnya? Seperti saat pamannya, Abu Thalib, menawarkan pangkat, harta, dan kehormatan agar beliau mau meninggalkan Islam? Jawabnya: nggak ada. Nggak ada banget. Yang ada justru ketegasan sikap Rasulullah: “Demi Allah, wahai Paman, an-daikata mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan perkara ini (Islam), niscaya aku tidak akan meninggalkannya sampai Allah me-menangkan perkara itu atau aku hancur karenanya!”

So, mari kita jadikan Islam sebagai aturan hidup kita. Kita pelajari, pahami, amalkan, yakini, dan dakwahkan. Oke deh, pilih syar’i, and no compromise ! Met berjuang ye! [hafidz]
——————————————————————————————————————————————————
Aku cintakan dia kerana Allah???
bobhandburry writes: PACARAN, Upaya Mencari Jodoh Ideal?

Pacaran, setiap kali kita mendengarnya akan terlintas dibenak kita sepasang anak manusia yang tengah dimabuk cinta dan dilanda asmara, saling mengungkapkan rasa sayang serta rindu, untuk akhirnya memasuki sebuah biduk pernikahan. Lalu kenapa harus dipermasalahkan? Bukankah cinta itu fitrah
setiap anak adam? Bukankah orang membutuhkan tahap penjajakan sebelum pernikahan? Karena bagaimanapun juga, kegagalan saat pacaran lebih ringan daripada kegagalan setelah menikah. Marilah kira cermati masalah ini.

Semoga Allah mencurahkan cahaya kebenaran-Nya kepada kita semua.

Cinta, Fitrah Anak Manusia Manusia diciptakan oleh Allah ta’ala dengan membawa fitrah (insting) untuk
mencintai lawan jenisnya. sebagaimana firman-Nya : “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu Wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas,
perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS. Ali-Imran : 14).

Berkata Imam Qurthubi: “Allah ta’ala memulai dengan wanita karena kebanyakan manusia menginginkannya, juga karena mereka merupakan jerat-jerat syetan yang menjadi fitnah bagi kaum laki-laki, sebagaimana sabda Rasulullah SAW : “Tiadalah aku tinggalkan setelahku fitnah yang lebih berbahaya bagi laki-laki daripada wanita.” (HR. Bukhari : 5696, Muslim : 2740, Tirmidzi : 2780, Ibnu Majah : 3998).

Oleh karena itu, wanita adalah fitnah terbesar dibanding yang lainnya. (Tafsir Qurthubi 2/20).

Rasulullah SAW pun, sebagai manusia tak luput dari rasa cinta terhadap wanita.

Dari Annas bin Malik ra. berkata : Rasulullah SAW bersabda: “Disenangkan kepadaku dari urusan dunia wewangian dan wanita”. (HR. Ahmad 3/285, Nasa’i 7/61, Baihaqi 7/78 dan Abu Ya’la 6/199 dengan sanad hasan. Lihat Al-Misykah: 5261).

Karena cinta merupakan fitrah manusia, maka Allah ta’ala menjadikan wanita sebagai perhiasan dunia dan nikmat yang dijanjikan bagi orang-orang beriman di surga dengan bidadarinya. Dari Abdullah bin Amr bin Ash ra. berkata : Rasulullah SAW bersabda : “Dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baiknya perhiasan adalah wanita yang sholihah”. (HR. Muslim 10/56, Nasa’i 6/69, Ibnu Majah 1/571, Ahmad 2/168, Baihaqi 7/80).

Allah berfirman : “Di dalam surga-surga itu ada bidadari-bidadari yang baik-baik lagi cantik-cantik”. (QS. Ar-Rahman: 70).

Namun, Islam sebagai agama paripurna para Rasul, tidak membiarkan fitnah itu mengembara tanpa batas, Islam telah mengatur dengan tegas bagaimana menyalurkan cinta, juga bagaimana batas pergaulan antara
dua insan lawan jenis sebelum nikah, agar semuanya tetap berada dalam koridor etika dan norma yang sesuai dengan syari’at.

Etika Pergaulan Lawan Jenis Dalam Islam

Etika pergaulan tersebut antara lain :
1. Menundukan pandangan terhadap lawan jenis Allah memerintahkan kaum laki-laki untuk menundukan
pandangannya, sebagaimana firman-Nya : Katakanlah kepada laki-laki yang beriman : “Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya”. (QS. An-Nur : 30).

Sebagaimana hal ini juga diperintahkan kepada wanita beriman, Allah berfirman : Dan katakanlah kepada wanita yang beriman : “Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya.” (QS.
An-Nur : 31).

2. Menutup aurat

Allah berfirman : “Dan janganlah mereka menampakan perhiasannya, kecuali yang biasa nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya”. (QS. An-Nur : 31).

Juga firnan-Nya : Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mu’min : “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Ahzab : 59).

Perintah menutup aurat juga berlaku bagi semua jenis, sebagaimana sebuah hadits : Dari Abu Sa’id Al-Khudri ra. berkata : Rasulullah SAW bersabda : “Janganlah seorang laki-laki memandang aurat laki-laki, begitu juga wanita jangan melihat aurat wanita”. (HR. Muslim 1/641, Abu Dawud 4018, Tirmidzi 2793, Ibnu Majah 661).

3. Adanya pembatas antara laki-laki dengan wanita

Kalau ada sebuah keperluan terhadap lawan jenis, harus disampaikan dari balik tabir pembatas. Sebagaimana firman-Nya : “Dan apabila kalian meminta sesuatu kepada mereka (para wanita) maka mintalah dari balik hijab”. (QS. Al-Ahzab : 53)

4. Tidak berdua-duaan dengan lawan jenis

Dari Ibnu Abbas ra. berkata : saya mendengar Rasulullah SAW bersabda ; “Janganlah seorang laki-laki berdua-duaan (Khalwat) dengan wanita kecuali bersama mahramnya”. (HR. Bukhari 9/330,
Muslim 1341).

Dari Jabir bin Samurah berkata : Rasulullah SAW bersabda : “Janganlah salah seorang dari kalian berdua-duaan dengan seorang wanita, karena syetan akan menjadi yang ketiganya”. (HR. Ahmad 1/18, Tirmidzi 3/374 dengan sanad Shahih, lihat Takhrij Misykah 3188).

5. Tidak mendayukan ucapan

Seorang wanita dilarang mendayukan ucapan saat berbicara kepada selain suami. Firman Allah : “Hai istri-istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu
tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik”. (QS. Al-Ahzab : 32).

Berkata Imam Ibnu Katsir : “Ini adalah beberapa etika yang diperintahkan oleh Allah kepada para istri Rasulullah saw serta para wanita mu’minah lainnya, yaitu hendaklah dia kalau berbicara dengan orang
lain tanpa suara merdu, dalam artian janganlah seorang wanita berbicara dengan orang lain sebagimana dia berbicara dengan suaminya”. (Tafsir Ibnu Katsir 3/530).

6. Tidak menyentuh lawan jenis

Dari Ma’qil bin Yasar ra berkata : Rasulullah SAW bersabda : “Seandainya kepala seseorang ditusuk dengan jarum besi itu masih lebih baik dari pada menyentuh wanita yang tidak halal baginya”. (HR. Thabrani dalam Mu’jam Kabir 20/174/386 dan Rauyani dalam musnadnya 1283 dengan sanad hasan, lihat
Ash-Shohihah 1/447/226).

Berkata Syaikh Al-Albani rahimahullah: “Dalam hadits ini terdapat ancaman keras terhadap orang-orang yang menyentuh wanita yang tidak halal baginya”. (Ash-Shohihah 1/448).

Rasulullah SAW tidak pernah menyentuh wanita meskipun dalam saat-saat penting seperti membai’at dan lain-lain.

Dari ‘Aisyah berkata : “Demi Allah, tangan Rasulullah tidak pernah menyentuh tangan wanita sama sekali meskipun saat membaiat”. (HR. Bukhari 4891).

Inilah sebagian etika pergaulan laki-laki dengan wanita selain mahram, yang mana apabila seseorang melanggar semuanya atau sebagiannya saja akan menjadi dosa zina baginya, sebagaimana sabda Rasulullah SAW : Dari Abu Hurairah ra. dari Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya Allah menetapkan
untuk anak adam bagiannya dari zina, yang pasti akan mengenainya. zina mata dengan memandang, zina lisan dengan berbicara, sedangkan jiwa berkeinginan serta berangan-angan, lalu farji yang akan membenarkan atau mendustakan semuanya”. (HR. Bukhari 4/170, Muslim 8.52, Abu Dawud
2152).

Padahal Allah ta’ala telah melarang perbuatan zina dan segala sesuatu yang bisa mendekati perzinaan (Lihat Hirosatul Fadhilah oleh Syaikh Bakr Abu Zaid, Hal 94-98) sebagaimana firmanNya : “Dan janganlah
kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk”. (QS. Al-Isra’ : 32).

Hukum Pacaran

Setelah memperhatikan ayat dan hadits di atas, maka tidak diragukan lagi bahwa pacaran itu haram, karena beberapa sebab berikut :

1. Orang yang sedang pacaran tidak mungkin menundukan pandangannya terhadap kekasihnya.
2. Orang yang sedang pacaran tidak akan bisa menjaga hijab.
3. Orang yang sedang pacaran biasanya sering berdua-duaan dengan kekasihnya, baik didalam rumah atau di luar rumah.
4. Wanita akan bersikap manja dan mendayukan suaranya saat bersama kekasihnya.
5. Pacaran identik dengan saling menyentuh antara laki-laki dengan wanita, meskipun itu hanya jabat tangan.
6. Orang yang sedang pacaran, bisa dipastikan selalu membayangkan orang yang dicintainya.

Dalam kamus pacaran, hal-hal tersebut adalah lumrah dilakukan, padahal satu hal saja cukup untuk mengharamkan pacaran, lalu bagaimana kalau semuanya?.

Fatwa Ulama’ seputar Pacaran

Syaikh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin ditanya tentang hubungan cinta sebelum nikah (pacaran)? Jawab beliau : Jika hubungan itu sebelum akad nikah, baik sudah lamaran ataupun belum, maka hukumnya
haram, karena tidak boleh seseorang untuk bersenang-senang dengan wanita asing (bukan mahramnya) baik lewat ucapan, memandang, ataupun berdua-duaan. Sebagaimana telah tsabit dari Rasulullah SAW, bahwa beliau bersabda : “Janganlah seorang laki-laki berdua-duaan dengan seorang wanita kecuali bersama mahramnya, dan janganlah seorang wanita bepergian kecuali bersama mahramnya”. (Fatwa Islamiyah kumpulan Muhammad Al-Musnid 3/80).

Syaikh Abdullah bin Abdur Rahman Al-Jibrin ditanya : “Kalau ada seorang laki-laki yang berkorespondensi dengan seorang wanita yang bukan mahramnya, yang pada akhirnya mereka saling mencintai, apakah
perbuatan itu haram?” Jawab beliau : Perbuatan itu tidak diperbolehkan, karena bisa menimbulkan
syahwat diantara keduanya, serta mendorongnya untuk bertemu dan berhubungan, yang mana korespondensi semacam itu banyak menimbulkan fitnah dan menanamkan dalam hati seseorang untuk mencintai perzinaan yang akan bisa menjerumuskan seseorang pada perbuatan keji, maka saya menasehatkan kepada setiap orang yang menginginkan kebaikan bagi dirinya untuk menghindari surat-suratan, pembicaraan lewat telepon serta perbuatan semacamnya demi menjaga agama dan kehormatannya.

Syaikh Jibrin juga ditanya : “Apa hukumnya kalau ada seorang pemuda yang belum menikah menelepon gadis yang belum menikah?” Jawab beliau : Tidak boleh berbicara dengan wanita asing (bukan mahramnya)
dengan pembicaraan yang bisa menimbulkan syahwat, seperti rayuan, mendayukan suara baik lewat
telepon maupun lainnya. Sebagaimana firman Allah ta’ala : “Dan janganlah kalian melembutkan suara, sehingga akan berkeinginan orang-orang yang hatinya terdapat penyakit”. (QS. Al-Ahzab : 32).

Adapun kalau pembicaraan itu untuk sebuah keperluan, maka hal itu tidak mengapa apabila selamat dari
fitnah, akan tetapi hanya sekedar keperluan. (Fatawa Islamiyah 3/97).

Syubhat dan Jawabannya

Sebenarnya, keharaman pacaran lebih jelas dari pada matahari di siang bolong. Namun begitu masih ada yang berusaha menolaknya walaupun dengan dalil yang sangat rapuh, serapuh rumah laba-laba, diantara
syubhat itu adalah :

Tidak bisa dipukul rata bahwa pacaran itu haram, karena bisa saja orang pacaran yang Islami, tanpa melanggar syariat.

Jawab : Istilah “Pacaran Islami” itu *****a ada dalam khayalan, dan tidak pernah ada wujudnya. Karena anggaplah bisa menghindari khalwat, menyentuh serta menutup aurat. tapi tetap tidak akan bisa
menghindari dari saling memandang. Atau paling tidak membayangkan dan memikirkan kekasihnya. Yang
mana hal itu sudah cukup mengharamkan pacaran.

Orang sebelum memasuki dunia pernikahan, butuh untuk mengenal dahulu calon pasangan hidupnya, baik sisi fisik maupun karakter, yang mana hal itu tidak akan bisa dilakukan tanpa pacaran, karena bagaimanapun juga kegagalan sebelum menikah akan jauh lebih ringan daripada kalau terjadi setelah
nikah.

Jawab : Memang, mengenal fisik dan karakter calon istri maupun suami merupakan suatu hal yang dibutuhkan orang sebelum memasuki biduk pernikahan, agar tidak ada penyesalan di kemudian hari,
juga tidak terkesan membeli kucing dalam karung. Namun, tujuan ini tidak bisa menghalalkan sesuatu yang haram. Ditambah lagi, bahwa orang yang sedang jatuh cinta akan berusaha menanyakan segala yang baik dengan menutupi kekurangannya dihadapan kekasihnya. Juga orang yang sedang jatuh cinta akan menjadi buta dan tuli terhadap perbuatan kekasihnya, sehingga akan melihat semua yang dilakukannya
adalah kebaikan tanpa cacat. (Lihat Faidhul Qodir oleh Imam Al-Munawi 3/454).

Sebagaimana diriwayatkan dari Abu Darda : “Cintamu pada sesuatu membuatmu buta dan tuli”. (Hadits lemah baik marfu’ maupun mauquf, riwayat Bukhari dalam Tarikh Kabir 2/1/157, Abu Dawud 5130, Ahmad 5/194, Lihat Silsilah Dloifah 4/348/1868).
_____________________________________

Maraji :
Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Abu Yusuf / Majalh Al-Furqon Edisi 8.
Th.II/Rabi’ul Awwal 1424

Sumber : Eramuslim
——————————————————————————————————————————————————
KIAT BERGAUL ANTARA LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN
oleh : Siti Tri Zakiyah *

Alloh SWT tidak melarang suatu perbuatan apapun melainkan untuk kebaikan dan kemuliaan kita, untuk menjauhkan kita dari kerugian, bahkan untuk melindungi kita dari kehinaan dan kenistaan. Termasuk larangan untuk mendekati zina misalnya,

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan sesuatu jalan yang buruk.” (QS Al Isra [17] : 32) Bukan jangan berzina, tapi jangan mendekati zina. Dengan kata lain, mendekati zina saja dilarang, apalagi berzina. Bagaimana cara untuk tidak mendekati zina? Hal ini tentu akan sangat berkaitan dengan bagaimana cara bergaul antara laki-laki dan perempuan. Berikut ini kiat bergaul antara laki-laki dan perempuan yang bisa kita amalkan baik di sekolah, kampus, kantor, atau dimanapun kita berada.

1. Menutup aurat

“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu dan anak-anak perempuanmu dan wanita-wanita mukminah, Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka,…..” (QS Al Ahzab [33] : 59) Telah berkata Aisyah r.a, “Sesungguhnya Asma binti Abu Bakar menermui Nabi saw dengan dengan memakai busana yang tipis, maka Nabi berpaling darinya dan bersabda, “Hai Asma, sesungguhnya apabila wanita itu telah baligh (sudah haidh) tidak boleh dilihat daripadanya kecuali ini dan ini”, sambil mengisyaratkan pada muka dan telapak tangannya.” (HR Abu Dawud)

Termasuk bagian dari penyempurnaan menutup aurat adalah menggunakan pakaian yang longgar (tidak ketat), tidak menggunakan kain yang transparan atau tipis, model dan warna pakaian pun sebaiknya tak terlalu menarik perhatian laki-laki, juga tak berlebihan dalam menggunakan wewangian.

2. Menundukkan Pandangan

“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” (QS An Nuur [24] : 30)

“Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya…” (QS An Nuur [24] : 31)

3. Tegas dalam berbicara

“Hai istri-istri nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik..” (QS. Al Ahzab [33] : 32)

4. Menjaga jarak; tidak bersentuhan

Telah berkata Aisyah r.a, “Demi Alloh, sekali-kali dia (Rasul) tidak pernah menyentuh tangan wanita (bukan mahram) melainkan dia hanya membai’atnya (mengambil janji) dengan perkataaan.” (HR Bukhari dan Ibnu Majah)

5. Tidak berikhtilath (berdua-duaan)

“Barangsiapa beriman kepada Alloh dan hari akhir, maka janganlah seorang laki-laki sendirian dengan seorang wanita yang tidak disertai mahramnya. Karena sesungguhnya yang ketiganya adalah syaitan.” (HR Ahmad)

Dalam hal menutup aurat dan menjaga pandangan, walau laki-laki dan perempuan keduanya harus menutup aurat dan menjaga pandangan, tapi menjaga aurat lebih diutamakan bagi wanita sedangkan menjaga pandangan lebih diutamakan bagi laki-laki.

Bila para wanita menutup aurat dengan baik, mudah-mudahan upaya tersebut bisa membantu kaum lelaki yang belum mampu mengendalikan diri agar lebih terjaga pandangannya. Sebaliknya, bila kaum lelaki senantiasa menjaga pandangannya, walau ada wanita yang kurang sempurna menutup auratnya, maka tetap akan lebih sukar terlihat.

Selain itu, sering timbul pertanyaan, apakah dalam islam boleh pacaran? Seperti kita ketahui, orang-orang yang berpacaran itu biasanya tak menjaga batas-batas pergaulan antara laki-laki dan wanita seperti diatas, tak jarang yang aktifitasnya mendekati zina atau bahkan sampai berzina. Jadi, tidak ada pacaran dalam islam. Bila niat telah lurus dan telah siap dengan resiko suka duka berumah tangga, menjaga diri dengan menikah akan lebih dekat pada kebaikan.

Apakah ada pacaran islami? Ada sebagian orang yang mengira ta’aruf sebagai pacaran islami. Sebenarnya, ta’aruf adalah upaya mengenal seseorang yang kita pilih untuk kita jadikan pendamping hidup. Terlepas dari istilah pacaran, ta’aruf, atau apapun, islam memerintahkan kita untuk tetap menjaga aktivitas pergaulan dengan lawan jenis agar sesuai dengan rambu-rambu seperti diatas.

Maka dari itu, agar tak berduaan, saat ta’aruf pun kita tetap harus berupaya agar ditemani orang ketiga, misalnya teman perempuan, saudara perempuan, atau mahramnya. Selain itu, walau keputusanya harus matang dan tak tergesa-gesa, tapi prosesnya dianjurkan untuk dipersingkat agar tak tergelincir melakukan hal-hal yang tak disukai Alloh SWT.

Semoga Alloh SWT membimbing kita agar mampu menjaga dan mengendalikan diri dalam pergaulan dengan lawan jenis. Semoga Alloh juga melindungi kita dari perbuatan-perbuatan yang tak disukai-Nya.

Sumber: www.manajemenqolbu.com

——————————————————————————————————————————————————
Alternatif Pacaran: Jodohan?
Friday, November 25th, 2005

Intro

Teman saya menulis blog berjudul “Pacaran? Basi Tau!“. Setelah itu dia memberikan ke saya artikel-artikel dengan judul “Tidak Ada Pacaran Islami (Between Myth and Fact)” dan “TERNYATA (KATANYA) PACARAN ISLAMI ITU ADA LHO!”.

Tulisannya dan artikel-artikel tersebut membuat saya berpikir untuk yang kesekian kalinya tentang masalah ini. Pertanyaan yang selalu muncul adalah “Sebetulnya apa masalah sebenarnya?” dan “Ada nggak solusi Islaminya?”. Blog ini adalah rangkuman usaha saya untuk menjawab dua pertanyaan tersebut.

Kenapa Orang Berpacaran?

Dalam kehidupan sehari-hari, umumnya laki-laki berinteraksi dengan perempuan. Kalaupun tidak terjadi interaksi, terdapat banyak saat di mana laki-laki melihat perempuan dan sebaliknya (baik disengaja maupun tidak). Hal-hal yang telah disebutkan bisa menyebabkan seseorang tertarik ke lawan jenisnya. Tingkat ketertarikannya bisa beragam, namun setelah mencapai tingkat tertentu ketertarikan itu dinamakan orang sebagai “jatuh cinta”. Untuk memudahkan pembahasan ini, saya akan menggunakan istilah “pemimpi” untuk orang yang jatuh cinta dan “kekasihnya” untuk orang yang dicintai oleh pemimpi.

Sebetulnya apa yang diinginkan oleh pemimpi? Saya mengklaim bahwa tujuan pemimpi adalah MENIKAHI kekasihnya. Ingatlah tujuan tersebut baik-baik sebab itu akan menjadi acuan pembicaraan kita.

Sayangnya, bagi kebanyakan pemimpi terdapat halangan-halangan untuk menikah. Ada dua halangan yang bisa saya sebutkan di sini. Yang pertama adalah halangan finansial. Coba pikirkan mereka yang bersekolah di SMP, SMU, dan universitas. Sebagian besar dari mereka (atau kekasihnya) tidak akan mampu untuk menghidupi sebuah keluarga. Yang kedua adalah halangan umur. Menurut pemimpi, umurnya (atau kekasihnya) masih terlalu muda untuk bisa melakukan pernikahan yang diterima masyarakat.

Lalu apa solusi dari kedua masalah tersebut? Salah satu jawaban yang jelas adalah MENUNGGU. Seiring berjalannya waktu, pemimpi (beserta kekasihnya) akan bertambah umur dan (harapannya) mendapat pekerjaan. Lalu pemimpi bisa mengajak kekasihnya menikah.

Tapi tidak, kebanyakan pemimpi tidak menunggu! Mereka malah memulai dan menjalani hubungan yang disebut pacaran. Kenapa?

Alasannya sangat mudah dan sederhana: KEPEMILIKAN. Kalau kita pikirkan, pernikahan menjamin kepemilikan. Kalau pemimpi menikah dengan kekasihnya, maka mereka tidak akan menikah dengan orang lain (saya mengabaikan poligami dan poliandri untuk mempermudah pembicaraan kita).

Jadi, kalau pemimpi tidak bisa memiliki kekasihnya dalam ikatan pernikahan, dia akan mencari “hubungan sosial lain” yang juga menjanjikan kepemilikan (walupun dalam bentuk yang lebih lemah dari pernikahan). Ini untuk MENCEGAH kekasihnya dimiliki orang lain lebih dulu. Saat ini “hubungan sosial lain” yang tersedia adalah pacaran, maka merebaklah pacaran.

Rangkuman: Orang-orang berpacaran sebab mereka belum siap menikah namun tetap ingin memiliki kekasihnya. Dengan kata lain, mereka ingin mencegah kekasihnya dimiliki orang lain sebelum mereka sendiri bisa menikahinya.

Masalah pada Istilah “Pacaran”?

Pacaran (sebagaimana yang dilakukan banyak orang) berisi banyak aktivitas yang sebetulnya dilarang Islam: berdua-duaan, berpegangan tangan, berpelukan, dst. Ini berakibat bahwa saat dua orang berada dalam status “berpacaran”, terdapat “image” atau ekspektasi dari orang lain bahwa pasangan tersebut melakukan hal-hal yang telah disebutkan. Ini juga berakibat bahwa saat pemimpi “menembak” kekasihnya, kekasihnya berpikir bahwa mereka nanti akan melakukan hal-hal tersebut kalau sang kekasih menerima menjadi pacarnya.

Jadi, ikhwan yang mencintai seorang akhwat tapi belum siap menikah akan berhadapan dengan suatu dilema. Kalau ikhwan tersebut menunggu sampai siap, bagaimana kalau akhwat tersebut dinikahi orang lain lebih dulu? Untuk akhwat yang mencintai seorang ikhwan, pertanyaannya menjadi “Apakah dia akan memilih saya untuk menikah?”.

Bisa saja ikhwan dengan akhwat “berpacaran” dengan batasan-batasan tertentu agar “Islami”. Misalnya, dalam “berpacaran” tidak berduaan, bersentuhan, dsb. Sepertinya “pacaran” seperti itulah yang dimaksud saat orang mengatakan “pacaran Islami”. Tapi saya rasa ini lucu sebab istilah “pacaran” sudah begitu melekat dengan hal-hal seperti berduaan, bersentuhan, dsb. “Pacaran Islami” kedengarannya seperti suatu oxymoron.

Secara pelaksanaan, istilah “pacaran Islami” juga tidak begitu membantu saat pemimpi ingin “menembak” kekasihnya. Untuk mengajak pacaran (non-Islami) pemimpi tinggal mengatakan “Kamu mau nggak jadi pacarku?”. Simpel. Kalau ingin pacaran Islami, apakah harus mengatakan “Kamu mau nggak jadi pacarku? Tapi yang Islami. Maksudnya begini…”. Ukh, terlalu ribet.

Daripada menggunakan istilah “pacaran Islami”, bagaimana kalau digunakan istilah lain yang sama sekali tidak menggunakan kata “pacaran”? Kita didefinisikan dengan jelas maksud istilah baru tersebut lalu disosialisasikan.

Solusi: Hubungan Sosial Baru, Istilah Baru

Masalahnya telah ditemukan. Bagi kebanyakan pemimpi, pernikahan diinginkan namun tidak memungkinkan. Walaupun begitu mereka tetap menginginkan suatu bentuk kepemilikan (seberapapun lemahnya) sampai mereka bisa melangsungkan pernikahan. Satu-satunya alternatif yaitu “pacaran” menyulitkan mereka yang ingin Islami karena batasan “pacaran” tidak pernah jelas dan karena “pacaran” sebagaimana yang dilakukan banyak orang jelas-jelas tidak Islami. Kalau begitu, solusinya ya menciptakan jenis hubungan baru yang memberikan suatu bentuk kepemilikan namun tetap Islami.

Idealnya, hubungan jenis baru ini memiliki nama yang orisinil. Sayangnya saya tidak mendapatkan ide yang bagus (”racap”, kebalikan dari “pacar”, kedengarannya sangat jelek). Untuk itu saya akan menggunakan istilah yang sudah ada yaitu “jodoh”. Hubungan baru tersebut dideskripsikan pada dokumen berikut:

== Dokumen Panduan Perjodohan ==

1) Nama

“Jodoh” adalah nama relasi antara dua orang sebagaimana yang dipandu dalam dokumen ini.

Contoh penggunaan katanya adalah:

“Dia adalah jodohku.”
“Kami berjodohan.”
“Kamu sudah punya jodoh belum?”

2) Makna

Dengan berjodohan, kedua belah pihak menyatakan keinginannya untuk saling menikah jika keadaannya sudah memungkinkan.

Selama berjodohan kedua belah pihak setuju bahwa hubungannya diatur oleh syariat Islam (dalam hal ini berarti hubungan antara perempuan dengan laki-laki yang bukan mukhrimnya). Beberapa contohnya adalah:

* Tidak diperbolehkan untuk berduaan
* Tidak diperbolehkan berpandang-pandangan secara berlebihan
* Tidak diperbolehkan untuk bersentuhan (termasuk di antaranya berpegangan tangan, berpelukan, dan berciuman)

Dengan berjodohan, kedua belah pihak juga setuju untuk saling mengingatkan jika interaksi mereka melanggar syariat Islam.

3) Status

Dua orang bisa menjadi jodoh jika kedua belah pihak menginginkannya dan saling menyatakan keinginannya tersebut. Status jodoh bisa hilang jika salah satu pihak menyatakan keinginannya untuk berhenti berjodohan.

Dalam prakteknya, sesorang akan mengajak atau meminta orang lain untuk menjadi jodohnya, lalu pihak lain tersebut akan memberikan jawabannya. Aksi orang yang mengajak atau meminta disebut “memanah” (analoginya adalah “menembak” untuk meminta orang lain menjadi pacar.)

Contoh memanah:

“Aku suka kamu. Kamu mau nggak jadi jodohku?”

(tidak harus tatap muka, bisa saja melalui telepon, surat, maupun SMS (atau tatap lantai/dinding/jendela))

Contoh jawaban:

“Aku juga sebetulnya suka kamu. Ya, aku mau.”
“Aku pikir-pikir dulu. Nanti kukasih jawabannya besok.”
“Maaf, tapi aku suka orang lain.”
“Maaf, tapi aku sudah berjodohan.”

(Akhir dari Dokumen Panduan Perjodohan)

Pendefinisian “jodoh” yang jelas tersebut akan memudahkan baik pemimpi maupun kekasihnya. Untuk memanah, pemimpi tinggal mengatakan, “Kamu mau nggak jadi jodohku?” tanpa perlu menyertakan penjelasan yang panjang lebar. Kekasihnya juga akan mengerti segala konsekuensi jika menerimanya, sehingga bisa membuat keputusan yang sesuai.

Salah satu kekhawatiran orang tua kalau anaknya berpacaran adalah bahwa anaknya akan kelewatan. Ini karena hubungan “pacaran” tidak memiliki batasan yang jelas, sehingga orang tua tidak akan tahu apakah anaknya yang berpacaran hanya sebatas bergandengan tangan, berpelukan, berciuman, atau malah sudah yang lebih jauh lagi. Masalah ini tidak ada pada istilah “jodoh” karena batas-batasnya telah didefinisikan dengan jelas. Kalau orang tua tahu bahwa anaknya memiliki “jodoh”, maka orang tua tersebut bisa tenang karena berdasarkan batasan “jodoh” bersentuhan pun tidak boleh dilakukan anaknya.

Dokumen panduan di atas juga tidak mendefinisikan bahwa pemanah haruslah laki-laki. Menurut saya, tidak masalah kalau perempuan yang memanah, toh yang penting nanti keduanya sama-sama setuju untuk berjodohan.

Kalau kamu setuju dengan konsep perjodohan seperti yang telah disebutkan tadi (mungkin malah ingin mencobanya), langkah terakhir yang diperlukan adalah sosialiasi istilah beserta penjelasannya. Kalaupun kamu tidak setuju, kamu mungkin ingin menyebarkan tulisan ini untuk memicu diskusi lebih lanjut. Kalau ingin sosialisasi dalam skala besar, seluruh tulisan ini bisa diforward ke forum atau milis tertentu. Bisa juga diforward ke teman-teman terdekat kamu. Kalau tujuan kamu sebatas ingin memanah seseorang, pastikan orang tersebut membaca tulisan ini sebelum memanahnya. Namun kamu harus cepat, sebab siapa tahu orang lain lebih dulu memanah dia .
——————————————————————————————————————————————————

Pacaran Dalam Islam???

May 18th, 2006 by maneh-gob

Semua Artikel dibawah ini saya temukan dalam google dengan kata kunci “pacaran islami”.
Isinya ada yang Pro dan Kontra mengenai Pacaran yang Islami.

Saya mohon maaf kepada pihak2 yang tidak berkenaan dengan dimuatnya blog ini, karena sumbernya saya ambil secara acak dan tidak meminta izin terlebih dahulu.
Sekali lagi saya mohon maafa atas kesalahan yang telah saya perbuat. Insya 4JJI, 4JJI yang akan membalas semua budi baik rekan2.

——————————————————————————————————————————————————

Bagaimana Melakukan ‘Pendekatan’ yang Islami
Publikasi: 21/06/2004 08:18 WIB

Assalamu’alaikum

Ustadzah, saya mau bertanya, bagaimana cara yang baik berkenalan dengan seorang wanita muslimah yang Islami. Biasanya kan remaja sekarang melakukan yang namanya PDKT (pendekatan) kemudian pacaran, sedangkan dalam Islam kita tidak dibenarkan berpacaran, karena itu mendekati zina. Bagaimana penyelesaiannya, karena saat ini saya sedang tertarik kepada seorang wanita muslimah dan saya cukup bimbang dibuatnya.

Wassalamu’alaikum
Raden, Bandung

//answer//
Assalamu ‘Alaikum Wr. Wb.

Saudara Raden yang dirahmati Allah.

Dalam Islam memang tidak dikenal proses pacaran seperti apa yang dipahami generasi muda saat ini. Proses pacaran seringkali lebih banyak membawa mudharat daripada manfaat, bahkan seringkali membawa kepada perbuatan yang dilarang dalam agama. Melihat kecenderungan aktifitas pasangan muda yang berpacaran, sesungguhnya sangat sulit untuk mengatakan bahwa pacaran itu adalah media untuk saling mencinta satu sama lain. Sebab sebuah cinta sejati tidak berbentuk sebuah perkenalan singkat, misalnya dengan bertemu di suatu kesempatan tertentu lalu saling bertelepon, tukar menukar SMS, chatting dan diteruskan dengan janji bertemu langsung.

Semua bentuk aktifitas itu cenderung bukanlah sebuah aktifitas cinta, sebab yang terjadi adalah kencan dan bersenang-senang. Sama sekali tidak ada ikatan formal yang resmi dan diakui. Juga tidak ada ikatan tanggung-jawab antara mereka. Bahkan tidak ada ketentuan tentang kesetiaan dan seterusnya.

Padahal cinta itu memiliki, tanggung-jawab, ikatan syah dan sebuah harga kesetiaan. Dalam format pacaran, semua instrumen itu tidak terdapat, sehingga jelas sekali bahwa pacaran itu sangat berbeda dengan cinta.

Pacaran Bukanlah Penjajakan/Perkenalan

Bahkan kalau pun pacaran itu dianggap sebagai sarana untuk saling melakukan penjajagan, perkenalan atau mencari titik temu antara kedua calon suami istri, bukanlah anggapan yang benar. Sebab penjajagan itu tidak adil dan kurang memberikan gambaran sesungguhnya dari data yang diperlukan dalam sebuah persiapan pernikahan.

Dalam format mencari pasangan hidup, Islam telah memberikan panduan yang jelas tentang apa saja yang perlu diperhitungkan. Misalnya sabda Rasulullah SAW tentang 4 kriteria yang terkenal itu.

Dari Abi Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW berdabda,”Wanita itu dinikahi karena 4 hal: [1] hartanya, [2] keturunannya, [3] kecantikannya dan [4] agamanya. Maka perhatikanlah agamanya kamu akan selamat.” (HR. Bukhari Kitabun Nikah Bab Al-Akfa’ fiddin nomor 4700, Muslim Kitabur-Radha’ Bab Istihbabu Nikah zatid-diin nomor 2661)

Selain empat kriteria itu, Islam membenarkan bila ketika seorang memilih pasangan hidup untuk mengetahui hal-hal yang tersembunyi yang tidak mungkin diceritakan langsung oleh yang bersangkutan. Maka dalam masalah ini, peran orang tua atau pihak keluarga menjadi sangat penting.

Inilah proses yang dikenal dalam Islam sebaga ta’aruf. Jauh lebih bermanfaat dan objektif ketimbang kencan berduaan. Sebab kecenderungan pasangan yang sedang kencan adalah menampilkan sisi-sisi terbaiknya saja. Terbukti dengan mereka mengenakan pakaian yang terbaik, bermake-up, berparfum dan mencari tempat-tempat yang indah dalam kencan. Padahal nantinya dalam berumah tangga tidak lagi demikian kondisinya.

Istri tidak selalu dalam kondisi bermake-up, tidak setiap saat berbusana terbaik dan juga lebih sering bertemua dengan suaminya dalam keadaan tanpa parfum. Bahkan rumah yang mereka tempati itu bukanlah tempat-tempat indah mereka dulu kunjungi sebelumnya. Setelah menikah mereka akan menjalani hari-hari biasa yang kondisinya jauh dari suasana romantis saat pacaran.

Maka kesan indah saat pacaran itu tidak akan ada terus menerus di dalam kehidupan sehari-hari mereka. Dengan demikian, pacaran bukanlah sebuah penjajakan yang jujur, sebaliknya sebuah penyesatan dan pengelabuhan.

Dan tidak heran kita dapati pasangan yang cukup lama berpacaran, namun segera mengurus perceraian belum lama setelah pernikahan terjadi. Padahal mereka pacaran bertahun-tahun dan membina rumah tangga dalam hitungan hari. Pacaran bukanlah perkenalan melainkan ajang kencan saja.

Etika Ta’aruf

Dalam melakukan penjajagan yang syar`i, ada beberapa ketentuan yang harus dipatuhi antara lain:

1. Tidak Berduaan (Kholwah)

Kholwah adalah bersendirian dengan seorang perempuan lain (ajnabiyah). Yang dimaksud perempuan lain, yaitu: bukan isteri, bukan salah satu kerabat yang haram dikawin untuk selama-lamanya, seperti ibu, saudara, bibi dan sebagainya.

Ini bukan berarti menghilangkan kepercayaan kedua belah pihak atau salah satunya, tetapi demi menjaga kedua insan tersebut dari perasaan-perasaan yang tidak baik yang biasa bergelora dalam hati ketika bertemunya dua jenis itu, tanpa ada orang ketiganya. Dalam hal ini Rasulullah bersabda sebagai berikut:

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka jangan sekali-kali dia bersendirian dengan seorang perempuan yang tidak bersama mahramnya, karena yang ketiganya ialah syaitan.” (Riwayat Ahmad)

“Jangan sekali-kali salah seorang di antara kamu menyendiri dengan seorang perempuan, kecuali bersama mahramnya.”

2. Tidak Melihat Jenis Lain dengan Bersyahwat

Di antara sesuatu yang diharamkan Islam dalam hubungannya dengan masalah gharizah, yaitu pandangan seorang laki-laki kepada perempuan dan seorang, perempuan memandang laki-laki. Mata adalah kuncinya hati, dan pandangan adalah jalan yang membawa fitnah dan sampai kepada perbuatan zina.

Katakanlah kepada orang-orang mu’min laki-laki, “Hendaklah mereka itu menundukkan sebagian pandangannya dan menjaga kemaluannya” (an-Nur: 30-31)

3. Menundukkan Pandangan

Yang dimaksud menundukkan pandangan itu bukan berarti memejamkan mata dan menundukkan kepala ke tanah. Bukan ini yang dimaksud dan ini satu hal yang tidak mungkin. Hal ini sama dengan menundukkan suara seperti yang disebutkan dalam al-Quran dan tundukkanlah sebagian suaramu (Luqman: 19). Di sini tidak berarti kita harus membungkam mulut sehingga tidak berbicara.

Tetapi apa yang dimaksud menundukkan pandangan, yaitu: menjaga pandangan, tidak dilepaskan begitu saja tanpa kendali sehingga dapat menelan perempuan-perempuan atau laki-laki yang beraksi.

Pandangan yang terpelihara, apabila memandang kepada jenis lain tidak mengamat-amati kecantikannya dan tidak lama menoleh kepadanya serta tidak melekatkan pandangannya kepada yang dilihatnya itu.

Oleh karena itu pesan Rasulullah kepada Ali r.a:

“Hai Ali! Jangan sampai pandangan yang satu mengikuti pandangan lainnya. Kamu hanya boleh pada pandangan pertama, adapun yang berikutnya tidak boleh.” (Riwayat Ahmad, Abu Daud dan Tarmizi)

Rasulullah s.a.w. menganggap pandangan liar dan menjurus kepada lain jenis, sebagai suatu perbuatan zina mata. Sabda beliau: “Dua mata itu bisa berzina, dan zinanya ialah melihat.” (Riwayat Bukhari)

4. Hindari Berhias Yang Berlebihan (Tabarruj)

Tabarruj ini mempunyai bentuk dan corak yang bermacam-macam yang sudah dikenal oleh orang-orang banyak sejak zaman dahulu sampai sekarang. Ahli-ahli tafsir dalam menafsirkan ayat yang mengatakan:

“Dan tinggallah kamu (hai isteri-isteri Nabi) di rumah-rumah kamu dan jangan kamu menampak-nampakkan perhiasanmu seperti orang jahiliah dahulu.” (QS Ahzab: 33)

5. Dalam Teknisnya, tidak harus selalu dengan langkah formal, resmi atau protokoler. Bisa juga dengan cara yang tersamar yang tidak bisa dengan mudah ditafsirkan dengan mudah oleh pihak wanita sebagai bentuk penjajagan. Sebab bila sejak awal seorang wanita sadar bahwa dirinya sedang dijajagi, bisa jadi dia malah nervous, salah tingkah atau mungkin malah bertindak yang tidak-tidak. Maka bisa saja dilakukan secara pergaulan yang alami dan normal.

6. Selain itu bisa juga menggunakan utusan orang yang bisa dipercaya. Dan yang lebih utama adalah utusan yang berfungsi sekaligus sebagai konselor dalam urusan pernikahan. Sosoknya adalah orang yang sudah berpengalaman mendalam dalam urusan keluarga, sehingga apa yang diinformasikannya bukan semta-mata bahan mentah, melainkan dilengkapi dengan analisa yang sudah siap dijadikan bahan pertimbangan oleh anda.

Wassalamu’alaikum wr. wb.

Rr. Anita Widayanti. S.Psi

——————————————————————————————————————————————————
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Leo F. Buscaglia, begitu namanya. Seorang professor pendidikan di
University of Southren California, di Amerika. Ia seorang dengan seabreg
kegiatan sosial dan ceramah-ceramah tentang pendidikan. Satu tema yang terus
menerus dibawanya dalam banyak ceramah, adalah tentang cinta.

“Manusia tidak jatuh ‘ke dalam’ cinta, dan tidak juga keluar ‘dari cinta’.
Tapi manusia tumbuh dan besar dalam, cinta,” begitu katanya dalam sebuah
ceramah.

Cinta, di banyak waktu dan peristiwa orang selalu berbeda mengartikannya.
Tak ada yang salah, tapi tak ada juga yang benar sempurna penafsirannya.
Karena cinta selalu berkembang, ia seperti udara yang mengisi ruang kosong.

Cinta juga seperti air yang mengalir ke dataran yang lebih rendah. Tapi
ada satu yang bisa kita sepakati bersama tentang cinta.

Bahwa cinta, akan membawa sesuatu menjadi lebih baik, membawa kita untuk
berbuat lebih sempurna. Mengajarkan pada kita betapa, besar kekuatan yang
dihasilkannya.

Cinta membuat dunia yang penat dan bising ini terasa indah, paling tidak
bisa kita nikmati dengan cinta. Cinta mengajarkan pada kita, bagaimana
caranya harus berlaku jujur dan berkorban, berjuang dan menerima, memberi
dan mempertahankan.

Bandung Bondowoso tak tanggung-tanggung membangunkan seluruh jin dari
tidurnya dan menegakkan seribu candi untuk Lorojonggrang seorang. Sakuriang
tak kalah dahsyatnya, diukirnya tanah menjadi sebuah telaga dengan perahu
yang megah dalam semalam demi Dayang Sumbi terkasih yang ternyata ibu
sendiri. Tajmahal yang indah di India, di setiap jengkal marmer bangunannya
terpahat nama kekasih buah hati sang raja juga terbangun karena cinta. Bisa
jadi, semua kisah besar dunia, berawal dari cinta.

Cinta adalah kaki-kaki yang melangkah membangun samudera kebaikan. Cinta
adalah tangan-tangan yang merajut hamparan permadani kasih sayang.

Cinta adalah hati yang selalu berharap dan mewujudkan dunia dan kehidupan
yang lebih baik.

Dan Islam tidak saja mengagungkan cinta tapi memberikan contoh kongkrit
dalam kehidupan. Lewat kehidupan manusia mulia, Rasulullah tercinta. Ada
sebuah kisah tentang totalitas cinta yang dicontohkan Allah lewat kehidupan
Rasul-Nya.

Pagi itu, meski langit telah mulai menguning, burung-burung gurun enggan
mengepakkan sayap. Pagi itu, Rasulullah dengan suara terbata memberikan
petuah, “Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta
kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua hal pada
kalian, sunnah dan Al Qur’an. Barang siapa mencintai sunnahku, berati
mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan bersama-sama
masuk surga bersama aku.” Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata
Rasulullah yang teduh menatap sahabatnya satu persatu.

Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar (^_^)Vnya naik turun
menahan napas dan tangisnya. Ustman menghela napas panjang dan Ali
menundukkan kepalanya dalam-dalam. Isyarat itu telah datang, saatnya sudah
tiba. “Rasulullah akan meninggalkan kita semua,” desah hati semua sahabat
kala itu. Manusia tercinta itu, hampir usai menunaikan tugasnya di dunia.
Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan sigap menangkap
Rasulullah yang limbung saat turun dari mimbar. Saat itu, seluruh sahabat
yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu, kalau bisa.

Matahari kian tinggi, tapi pintu Rasulullah masih tertutup. Sedang di
dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang
berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya.
Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam.
“Bolehkah saya masuk?” tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk,

“Maafkanlah, ayahku sedang demam,” kata Fatimah yang membalikkan badan dan
menutup pintu. Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah
membukan mata dan bertanya pada Fatimah, “Siapakah itu wahai anakku?” “Tak
tahulah aku ayah, sepertinya ia baru sekali ini aku melihatnya,” tutur
Fatimah lembut. Lalu, Rasulullah menatap putrinya itu dengan pandangan yang
menggetarkan. Satu-satu bagian wajahnya seolah hendak di kenang.
“Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang
memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malakul maut,” kata Rasulullah,
Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri,
tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tak ikut menyertai. Kemudian
dipang(^_^)Vh Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia
menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini.

“Jibril, jelaskan apa hakku nanti dihadapan Allah?” Tanya Rasululllah
dengan suara yang amat lemah. “Pintu-pintu langit telah terbuka, para
malaikat telah menanti ruhmu. Semua surga terbuka lebar menanti
kedatanganmu,” kata jibril. Tapi itu ternyata tak membuat Rasulullah lega,
matanya masih penuh kecemasan. “Engkau tidak senang mendengar kabar ini?”
Tanya Jibril lagi. “Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?”
“Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman
kepadaku: ‘Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah
berada di dalamnya,” kata Jibril.

Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh
Rasulullah ditarik tampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh,
urat-urat lehernya menegang. “Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini.”
Lirih Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk
semakin dalam dan Jibril membuang muka. “Jijikkah kau melihatku, hingga kau
palingkan wajahmu Jibril?” Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu
itu. “Siapakah yang tega, melihat kekasih Allah direnggut ajal,” kata
Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah v(^_^)vik, karena sakit yang
tak tertahankan lagi. “Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua
siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku.” Badan Rasulullah mulai dingin,
kaki dan (^_^)Vnya sudah tak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak
membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya. “Uushiikum bis
shalati, wa maa malakat aimanuku, peliharalah shalat dan santuni orang-orang
lemah di antaramu.” Di luar !
pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah
menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telingan ke bibir
Rasulullah yang mulai kebiruan. “Ummatii, ummatii, ummatiii…” Dan,
pupuslah kembang hidup manusia mulia itu.
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
——————————————————————————————————————————————————
Assalamu `alaikum Warahmatullahi Wabaraktuh
Alhamdulillah, Washshalatu wassalamu `ala Rasulillah, wa ba’d.

Istilah pacaran itu sebenarnya bukan bahasa hukum, karena pengertian dan batasannya tidak sama buat setiap orang. Dan sangat mungkin berbeda dalam setiap budaya. Karena itu kami tidak akan menggunakan istilah `pacaran` dalam masalah ini, agar tidak salah konotasi.

Pacaran Dalam Pandangan Islam

a. Islam Mengakui Rasa Cinta

Islam mengakui adanya rasa cinta yang ada dalam diri manusia. Ketika seseorang memiliki rasa cinta, maka hal itu adalah anugerah Yang Kuasa. Termasuk rasa cinta kepada wanita (lawan jenis) dan lain-lainnya.

“Dijadikan indah pada manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik .”(QS. Ali Imran :14).

Khusus kepada wanita, Islam menganjurkan untuk mengejwantahkan rasa cinta itu dengan perlakuan yang baik, bijaksana, jujur, ramah dan yang paling penting dari semau itu adalah penuh dengan tanggung-jawab. Sehingga bila seseorang mencintai wanita, maka menjadi kewajibannya untuk memperlakukannya dengan cara yang paling baik.

Rasulullah SAW bersabda,”Orang yang paling baik diantara kamu adalah orang yang paling baik terhadap pasangannya (istrinya). Dan aku adalah orang yang paling baik terhadap istriku”.

b. Cinta Kepada Lain Jenis Hanya Ada Dalam Wujud Ikatan Formal

Namun dalam konsep Islam, cinta kepada lain jenis itu hanya dibenarkan manakala ikatan di antara mereka berdua sudah jelas. Sebelum adanya ikatan itu, maka pada hakikatnya bukan sebuah cinta, melainkan nafsu syahwat dan ketertarikan sesaat.

Sebab cinta dalam pandangan Islam adalah sebuah tanggung jawab yang tidak mungkin sekedar diucapkan atau digoreskan di atas kertas surat cinta belaka. Atau janji muluk-muluk lewat SMS, chatting dan sejenisnya. Tapi cinta sejati haruslah berbentuk ikrar dan pernyataan tanggung-jawab yang disaksikan oleh orang banyak.

Bahkan lebih ‘keren’nya, ucapan janji itu tidaklah ditujukan kepada pasangan, melainkan kepada ayah kandung wanita itu. Maka seorang laki-laki yang bertanggung-jawab akan berikrar dan melakukan ikatan untuk menjadikan wanita itu sebagai orang yang menjadi pendamping hidupnya, mencukupi seluruh kebutuhan hidupnya dan menjadi `pelindung` dan ‘pengayomnya`. Bahkan `mengambil alih` kepemimpinannya dari bahu sang ayah ke atas bahunya.

Dengan ikatan itu, jadilah seorang laki-laki itu `the real gentleman`. Karena dia telah menjadi suami dari seorang wnaita. Dan hanya ikatan inilah yang bisa memastikan apakah seorang laki-laki itu betul serorang gentlemen atau sekedar kelas laki-laki iseng tanpa nyali. Beraninya hanya menikmati sensasi seksual, tapi tidak siap menjadi the real man.

Dalam Islam, hanya hubungan suami istri sajalah yang membolehkan terjadinya kontak-kontak yang mengarah kepada birahi. Baik itu sentuhan, pegangan, cium dan juga seks. Sedangkan di luar nikah, Islam tidak pernah membenarkan semua itu. Kecuali memang ada hubungan `mahram` (keharaman untuk menikahi). Akhlaq ini sebenarnya bukan hanya monopoli agama Islam saja, tapi hampir semua agama mengharamkan perzinaan. Apalagi agama Kristen yang dulunya adalah agama Islam juga, namun karena terjadi penyimpangan besar sampai masalah sendi yang paling pokok, akhirnya tidak pernah terdengar kejelasan agama ini mengharamkan zina dan perbuatan yang menyerampet kesana.

Sedangkan pemandangan yang lihat dimana ada orang Islam yang melakukan praktek pacaran dengan pegang-pegangan, ini menunjukkan bahwa umumnya manusia memang telah terlalu jauh dari agama. Karena praktek itu bukan hanya terjadi pada masyarakat Islam yang nota bene masih sangat kental dengan keaslian agamanya, tapi masyakat dunia ini memang benar-benar telah dilanda degradasi agama.

Barat yang mayoritas nasrani justru merupakan sumber dari hedonisme dan permisifisme ini. Sehingga kalau pemandangan buruk itu terjadi juga pada sebagian pemuda-pemudi Islam, tentu kita tidak melihat dari satu sudut pandang saja. Tapi lihatlah bahwa kemerosotan moral ini juga terjadi pada agama lain, bahkan justru lebih parah.

c. Pacaran Bukan Cinta

Melihat kecenderungan aktifitas pasangan muda yang berpacaran, sesungguhnya sangat sulit untuk mengatakan bahwa pacaran itu adalah media untuk saling mencinta satu sama lain. Sebab sebuah cinta sejati tidak berentu sebuah perkenalan singkat, misalnya dengan bertemu di suatu kesempatan tertentu lalu saling bertelepon, tukar menukar SMS, chatting dan diteruskan dengan janji bertemua langsung.

Semua bentuk aktifitas itu sebenarnya bukanlah aktifitas cinta, sebab yang terjadi adalah kencan dan bersenang-senang. Sama sekali tidak ada ikatan formal yang resmi dan diakui. Juga tidak ada ikatan tanggung-jawab antara mereka. Bahkan tidak ada ketentuan tentang kesetiaan dan seterusnya.

Padahal cinta itu memiliki, tanggung-jawab, ikatan syah dan sebuah harga kesetiaan. Dalam format pacaran, semua instrumen itu tidak terdapat, sehingga jelas sekali bahwa pacaran itu sangat berbeda dengan cinta.

d. Pacaran Bukanlah Penjajakan / Perkenalan

Bahkan kalau pun pacaran itu dianggap sebagai sarana untuk saling melakukan penjajakan, perkenalan atau mencari titik temu antara kedua calon suami istri, bukanlah anggapan yang benar. Sebab penjajagan itu tidak adil dan kurang memberikan gambaran sesungguhnya dari data yang diperlukan dalam sebuah persiapan pernikahan.

Dalam format mencari pasangan hidup, Islam telah memberikan panduan yang jelas tentang apa saja yang perlu diperhitungkan. Misalnya sabda Rasulullah SAW tentang 4 kriteria yang terkenal itu.

Dari Abi Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW berdabda,”Wanita itu dinikahi karena 4 hal : [1] hartanya, [2] keturunannya, [3] kecantikannya dan [4] agamanya. Maka perhatikanlah agamanya kamu akan selamat. (HR. Bukhari Kitabun Nikah Bab Al-Akfa’ fiddin nomor 4700, Muslim Kitabur-Radha’ Bab Istihbabu Nikah zatid-diin nomor 2661)

Selain keempat kriteria itu, Islam membenarkan bila ketika seorang memilih pasangan hidup untuk mengetahui hal-hal yang tersembunyi yang tidak mungkin diceritakan langsung oleh yang bersangkutan. Maka dalam masalah ini, peran orang tua atau pihak keluarga menjadi sangat penting.

Inilah proses yang dikenal dalam Islam sebaga ta’aruf. Jauh lebih bermanfaat dan objektif ketimbang kencan berduaan. Sebab kecenderungan pasangan yang sedang kencan adalah menampilkan sisi-sisi terbaiknya saja. Terbukti dengan mereka mengenakan pakaian yang terbaik, bermake-up, berparfum dan mencari tempat-tempat yang indah dalam kencan. Padahal nantinya dalam berumah tangga tidak lagi demikian kondisinya.

Istri tidak selalu dalam kondisi bermake-up, tidak setiap saat berbusana terbaik dan juga lebih sering bertemua dengan suaminya dalam keadaan tanpa parfum. Bahkan rumah yang mereka tempati itu bukanlah tempat-tempat indah mereka dulu kunjungi sebelumnya. Setelah menikah mereka akan menjalani hari-hari biasa yang kondisinya jauh dari suasana romantis saat pacaran.

Maka kesan indah saat pacaran itu tidak akan ada terus menerus di dalam kehidupan sehari-hari mereka. Dengan demikian, pacaran bukanlah sebuah penjajakan yang jujur, sebaliknya sebuah penyesatan dan pengelabuhan.

Dan tidak heran kita dapati pasangan yang cukup lama berpacaran, namun segera mengurus perceraian belum lama setelah pernikahan terjadi. Padahal mereka pacaran bertahun-tahun dan membina rumah tangga dalam hitungan hari. Pacaran bukanlah perkenalan melainkan ajang kencan saja.

Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,
Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

Pusat Konsultasi syariah
——————————————————————————————————————————————————
Pacaran Islami, Memang Ada?
Publikasi : 15-02-2005

KotaSantri.com : Bagi remaja, bila istilah itu disebut-sebut bisa membuat jantung berdebar. Siapa sich yang enggak semangat bila bercerita seputar pacaran? Semua orang yang normal pasti senang dan bikin deg-degan.

Bicara soal cinta memang diakui mampu membangkitkan semangat hidup. Termasuk anak masjid, yang katanya “dicurigai” tak kenal cinta. Sama saja, anak masjid juga manusia, yang memiliki rasa cinta dan kasih sayang. Pasti dong, mereka juga butuh cinta dan dicintai. Soalnya perasaan itu wajar dan alami. Malah aneh bila ada orang yang enggak kenal cinta, jangan-jangan bukan orang.

Nah, biasanya bagi remaja yang sedang kasmaran, mereka mewujudkan cinta dan kasih sayangnya dengan aktivitas pacaran. Kaya’ gimana sich? Deuuh, pura-pura enggak tau. Itu tuch, cowok dan cewek yang saling tertarik, lalu mengikat janji, dan akhirnya ada yang sampai hidup bersama layaknya suami istri.

Omong-omong soal pacaran, ternyata sekarang ada gossip baru tentang pacaran islami. Ini kabar benar atau *****a upaya melegalkan aktivitas baku syahwat itu? Malah disinyalir, katanya banyak pula yang melakukannya adalah anak masjid. Artinya mereka itu pengen Islam, tapi pengen pacaran juga. Ah, ada-ada saja!!!!!

Memang betul, kalo dikatakan bahwa ada anak masjid yang meneladani tingkah James Van Der Beek dalam serial Dawson’s Creek, tapi bukan berarti kemudian dikatakan ada pacaraan Islami, itu enggak benar. Siapapun yang berbuat maksiat, tetap saja dosa. Jangan karena yang melakukan adalah anak masjid, lalu ada istilah pacaran Islami. Enggak bisa, jangan-jangan nanti kalau ada anak masjid kebetulan lagi nongkrongin judi togel, disebut judi Islam? Wah gawat bin bahaya.

Tentu lucu bin menggelikan dong bila suatu saat nanti teman-teman remaja yang berstatus anak masjid atau aktivis dakwah terkena “virus” cinta kemudian mengekspresikannya lewat pacaran. Itu enggak bisa disebut pacaran Islami karena memang enggak ada istilah itu. Jangan salah sangka, mentang-mentang pacarannya pakai jilbab, baju koko, dan berjenggot, lalu mojoknya di masjid, kita sebut aktivitas pacaran Islami. Wah salah besar itu!!!

Lalu bagaimana dengan sepak terjang teman-teman remaja yang terlanjur menganggap aktivitas baku syahwatnya sebagai pacaran Islami? Sekali lagi dosa! Iya dong. Soalnya siapa saja yang melakukan kemaksiatan jelas dosa sebagai ganjarannya. Apalagi anak masjid, malu-maluin ajach.

Coba simak QS. An-Nuur : 30, “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan menjaga kehormatannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” Kemudian QS. An-Nuur : 31, “Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan menjaga kehormatannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya…”.

Jadi gimana dong? Dalam Islam tetep tak ada yang namanya pacaran Islami. Lalu kenapa istilah itu bisa muncul? Boleh jadi karena teman-teman remaja hanya punya semangat keislaman saja tapi minus tsaqafah ‘pengetahuan’ Islamnya. So? Ngaji lagi yuk!!! (jilbab_is_good@yahoo.com) (m1ta)
——————————————————————————————————————————————————
[Sarikata.com] terpeleset akibat pujian

-==-
Tue, 28 Mar 2006 19:55:29 -0800

masjidits.com-Saya pernah berada dalam satu lingkungan dengan ikhwan yang Allah
karuniakan kepadanya wajah yang subhanallah, tutur kata yang sopan, lemah
lembut, dan alim, sehingga membuatnya dikagumi oleh banyak ikhwan maupun
akhwat. Ia benar-benar dijadikan teladan bagi ikhwah pada umumnya. Pujian
sering dilontarkan kepadanya, entah hanya dalam bentuk celetukan ringan ataupun
memang serius ingin memuji setinggi langit.

Hari demi hari berlalu. Hanya ada namanya di setiap event. Dalam arti, selalu
ia yang menjadi figur untuk ditampilkan di depan sebagai pembawa acara, kultum
dan sebagainya. Semua, bergantung kepadanya. Pun, ketika digelar teater Islam,
ia menjadi pemeran utama yang –sudah dapat dipastikan– membuat para penonton
ammah wanita berteriak histeris memanggil namanya. Sampai–sampai ada yang
memberi sekuntum bunga, usai pementasan tersebut.

Hingga …suatu hari, tersiarlah kabar yang membuat hati para ikhwah tersentak
luar biasa dan terluka. Karena sang ikhwan yang selama ini dijadikan teladan,
telah mengumandangkan gerakan pacaran Islami. Ia membela diri bahwa yang
dilakukannya memang pacaran, tetapi Islami, sehingga sah-sah saja di dalam
Islam. Ia pun memasang artikel yang membolehkan pacaran Islami, di mading.
Dengan siapakah ia berpacaran? Dengan salah satu fans-nya.

Ikhwah yang lain tentu tak tinggal diam melihat tindakan nyeleneh ini, dan
segera memberi pertolongan pertama berupa tausiyah (nasehat). Karena kejadian
ini bukan hanya akan berdampak pada pribadi saja, namun bisa berdampak luas
pada khalayak, sebab ia figur terdepan dakwah. Terjadilah, sebuah polemik di
lapangan. Banyak ammah yang mempertanyakan hal ini, “Bukankah si fulan, sang
aktivis masjid itu, juga pacaran?”

Meski saya sadari kedudukan saya ketika itu, yang notabene baru pemula dalam
mendalami Islam, tetapi hati saya terpanggil untuk ikut beramar ma’ruf nahi
munkar, setelah hampir semua ikhwan tak sanggup menasehatinya. Saya
memberanikan diri memberikan buku hadits dan menunjukkan kepadanya sebuah
hadits mengenai zina tangan, zina kaki, zina lisan, zina telinga, zina mata,
dan zina hati. Pun hadits tentang pemuda yang sebaiknya berpuasa bila belum
mampu menikah. Saya tinggalkan begitu saja ia dengan buku itu. Ia tertunduk
sejenak, membaca, dan menutup buku itu. Entah apa yang dipikirkannya.

Waktu berlalu cukup lama. Hingga suatu hari terdengar kabar di kalangan ikhwah
bahwa sang ikhwan tersebut sudah memutuskan kekasihnya. Semua ikhwah bersyukur
karena ia masih mau mendengar nasehat-nasehat kami, dan kembali ke jalan yang
benar.

Kisah ini hanyalah untuk kita ambil hikmahnya, bahwa kita semua turut
bertanggung jawab atas pengkondisian saudara kita. Memuji berlebihan dan
mengidolakan di hadapannya, akan membawa dampak yang kurang baik. Jika orang
yang kita rujuki itu ada dalam keadaan lemah iman, maka dapat membuatnya lupa
daratan, bahkan bisa lupa ibadah dan bersyukur kepada-Nya. Alhamdulillah sang
ikhwan ini segera bertaubat, tetapi bagaimana bila tidak? Disorientasi dalam
da’wah. Kala niat yang semula ikhlas hanya karena-Nya, namun di tengah
perjalanan, banyak rintangan dan godaan, yang merusak keikhlasan. Entah itu
disebabkan karena wanita, kekuasaan, atau harta.

Dan untuk akhiku dan ukhtiku yang lain… Suka atau tidak, terkadang dakwah
memang mengharuskan kita tampil di depan umum, hingga banyak orang yang
mengenal kita. Dan di antara para aktivis, pasti ada beberapa orang yang memang
sangat menonjol, atau memang sengaja ditonjolkan oleh jamaah. Konsekuensinya,
hal ini dapat membuat aktivis dan muslim lain terkagum-kagum padanya. Adalah
menjadi tanggung jawab kita juga untuk menjaga akhi dan ukhti kita, agar ia
tetap bercahaya keikhlasannya, hingga bertemu Rabbnya.

Dikisahkan, Hasan Al Banna dipuji oleh sang pembawa acara, bahwa inilah sang
pemuda bak Rasulullah saw dan para ikhwan adalah bak para sahabat. Hasan Al
Banna sontak segera meluruskan pernyataan itu dan mengatakan bahwa dirinya
bukanlah seperti yang dikatakan sang pembawa acara itu, karena ia hanyalah
seorang Hasan Al Banna yang memiliki kekurangan dan tidak selayaknya
disejajarkan dengan Rasululah saw yang ma’sum.

Berhati-hati terhadap lisan, untuk tidak memuji manusia hingga setinggi langit.
Inginkah kita kehilangan saudara, lantaran kita tidak bisa menjaga ucapan dan
celetukan seperti, “Waduh, akh…antum memang hebat.” Atau “Ane calonin antum
jadi ketum, deh!” “Antum gitu loh, siapa lagi yang bisa?” “Wah, binaan antum
jadi semua nih, hebat!”

Mengkondisikan dan mem-back up saudara-saudara kita adalah menjadi tugas dan
tanggung jawab amal jama’i pula. Semoga kita dapat saling menjaga. Seperti
ungkapan Asy Syahid Imad Aqil, mujahid Palestina, yang ketika dipuji oleh
teman-temannya akan keberanian aksinya melawan tentara-tentara Israel, ia
menjawab bahwa tak ada gunanya membicarakan amal yang telah lalu, karena dapat
merusak amal (dengan riya –red). Dan ia berkata, “Riya lebih aku takuti
daripada tentara-tentara Israel.” []
——————————————————————————————————————————————————
…::: SpEciAL TrAsH :::…
Pacaran Itu Sunnah Aug 28, ‘05 8:32 AM
for everyone
Direstui Nabi SAW

Bolehjadi, di antara sekian banyak argumen, yang paling diandalkan
untuk menghujat ‘pacaran islami’ adalah … “Islam sama sekali tidak
mengenal pacaran.” … “Pacaran bukan dari Islam, melainkan …
budaya jahiliyah modern.” … Benarkah pacaran adalah budaya
jahiliyah modern (dari Barat)? Mari kita periksa….

Dari Ibnu Abbas r.a., ia berkata: Nabi saw. mengirim satu pasukan
[shahabat], lalu mereka memperoleh rampasan perang yang di antaranya
terdapat seorang tawanan laki-laki. [Sewaktu interogasi], ia berkata,
“Aku bukanlah bagian dari golongan mereka [yang memusuhi Nabi]. Aku
hanya jatuh cinta kepada seorang perempuan, lalu aku mengikutinya.
Maka biarlah aku memandang dia [dan bertemu dengannya], kemudian
lakukanlah kepadaku apa yang kalian inginkan.” Lalu ia dipertemukan
dengan seorang wanita [Hubaisy] yang tinggi berkulit coklat, lantas
ia bersyair kepadanya, “Wahai dara Hubaisy! Terimalah daku selagi
hayat dikandung badanmu! Sudilah dikau kuikuti dan kutemui di suatu
rumah mungil atau di lembah sempit antara dua gunung! Tidak benarkah
orang yang dilanda asmara berjalan-jalan di kala senja, malam buta,
dan siang bolong?” Perempuan itu menjawab, “Baiklah, kutebus dirimu.”
Namun, mereka [para shahabat itu] membawa pria itu dan menebas
lehernya. Lalu datanglah wanita itu, lantas ia jatuh di atasnya, dan
menarik nafas sekali atau dua kali, kemudian meninggal dunia. Setelah
mereka bertemu Rasulullah saw., mereka informasikan hal itu [dengan
antusias] kepada beliau, tetapi Rasulullah saw. berkata [dengan
sindiran tajam]: “Tidak adakah di antara kalian orang yang
penyayang?” (HR ath-Thabrani [dengan sanad hasan] dalam Majma’
az-Zawâid 6: 209)

Kita perhatikan, tema utama informasi yang disampaikan oleh para
shahabat kepada Rasulullah sehingga beliau bersabda begitu adalah
kisah hubungan asmara di luar nikah. Saat itu barangkali mereka kira,
perilaku pacaran itu kemunkaran besar yang harus dicegah dengan
‘tangan’ (kekuatan) bila mampu, sedangkan kemampuan ini ada pada
mereka selaku pemenang pertempuran. Mereka menghukum mati si lelaki,
dan mungkin menyangkanya sebagai perbuatan baik demi mencegah
kemunkaran besar. Namun, Rasulullah justru marah.

Sebaliknya, kata Abu Syuqqah, “beliau menampakkan belas kasihnya
kepada kedua orang yang sedang dilanda cinta itu” dan menyalahkan
perbuatan shahabat. (Abdul Halim Abu Syuqqah, Kebebasan Wanita,
jilid 5, hlm. 75) Ini menyiratkan, seharusnya si tawanan dibebaskan
walau akibatnya kemudian ia melakukan pacaran dengan si dia. Dengan
demikian, ada kemungkinan bahwa pacaran (bercintaan dengan
kekasih-tetap) merupakan sunnah taqriri, kebiasaan yang direstui Nabi
saw..

Sampai di sini mungkin Anda masih penasaran: Manakah istilah
‘pacaran’ dalam hadits tersebut? Jawaban kita: Penyebutannya tidak
langsung tersurat, tetapi tersirat.

Untuk sampai ke pengertian itu, kita mengacu pada unsur-unsur
‘pacaran’ yang baku : bercintaan dengan kekasih-tetap. Adakah aktivitas bercintaan
di dalamnya? Ada. Ini ditunjukkan oleh ungkapan “Wahai dara Hubaisy,
terimalah daku selagi hayat dikandung badanmu!” dan “Baiklah…”
Tampaknya, rasa cinta antara keduanya itu begitu mendalam.
Sampai-sampai, si pria mempertaruhkan nyawa untuk dapat bertemu
dengan kekasihnya, sedangkan si wanita sampai jatuh dan meninggal
dunia di atas jasad kekasihnya. Ini menunjukkan, aktivitas bercintaan
itu terjadi antara sepasang kekasih yang tetap, bukan sekadar teman
sesaat. Dengan demikian, unsur-unsur ‘pacaran’ yang baku sudah
terkandung di dalam hadits tersebut….

Bagaimana bila sesudah kita kemukakan hadits yang mengisyaratkan
bahwa Rasulullah menghalalkan ‘pacaran’ (bercintaan dengan
kekasih-tetap), penghujat-penghujat ‘pacaran islami’ masih berpegang
pada fatwa bahwa “pacaran selalu haram” dan “tidak ada pacaran dalam
Islam”? Padahal mereka tidak mengemukakan nash yang mengharamkannya?
Dalam keadaan begitu, mungkin sebaiknya kita sampaikan ayat: “Dan
tidaklah patut bagi laki-laki yang beriman dan tidak [pula] bagi
perempuan yang beriman, bila Allah dan rasul-Nya telah menetapkan
suatu ketentuan [hukum], akan ada bagi mereka pilihan [hukum lain]
tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan
rasul-Nya, maka sungguh ia sesat, sesat yang nyata.” (al-Ahzaab [33]:
36)

Catatan: Untuk mengantisipasi kemungkinan kesalahpahaman, silakan
baca dengan lengkap buku Muhammad Shodiq, Wahai Penghujat Pacaran
Islami (Surakarta: Bunda Yurida, Desember 2004)

Kutipan dari buku Muhammad Shodiq, Wahai Penghujat Pacaran Islami,
Jangan Kau Undang Kemurkaan Allah dan Kemarahan Rasul-Nya
(Surakarta: Bunda Yurida, Desember 2004), hlm. 42-47
——————————————————————————————————————————————————
Pacaran dan Zinah:MUTUALLY EXCLUSIVE

Oleh fajri

Seorang sahabat pernah bercerita pada saya bahwa ‘pacaran islami’ menurut Ustadz Jeffry Al-Bukhory memiliki beberapa syarat. Misalnya nggak boleh berpandangan, berpegangan tangan dsb. Dan beliau menertawakannya karena merasa bahwa tidak ada pacaran yang seperti itu. Inilah yang menarik, dan membuat saya ingin membahasnya. Yah, terlepas dari kenyataan bahwa saya juga ‘punya’ (n_n). Pertanyaan mendasar yang akan mengawali analisis saya adalah: Ngapain Ustadz Jeffry Al-Bukhory capek-capek membuat kategori pacaran islami, kalau tidak ada orang yang pacaran dengan cara islami seperti itu ? Kenapa, seorang ustadz berani mengatakan seperti itu ? Padahal jelas sekali dikatakan dalam Al-Qur’an bahwa dilarang mendekati zinah, kemudian bahwa kita tidak boleh meniru kebiasaan suatu kaum karena itu membuat kita menjadi bagian dari kaum itu, dan juga tidak boleh melakukan hal yang tidak dikenal oleh islam.

Itu adalah karena pacaran dan zinah adalah dua hal yang ‘Mutually Exclusive’. Maksudnya adalah dua hal yang saling lepas dan (semestinya) tidak berkaitan. Tapi sekali lagi saya mohon supaya ini dibaca sampai habis. Sudah berulang kali ide saya disanggah sebelum selesai saya sampaikan karena mereka merasa sok pintar dan merasa sudah nyambung, padahal ternyata belum.

Apa sih sebenarnya pacaran itu ? Secara umum, pacaran itu adalah kedekatan hubungan dua manusia lawan jenis (normalnya sih begini…) yang merupakan tahap pengenalan untuk kemudian menikah. Ini bukan dari kamus manapun, tapi yah ini kesimpulan umum. Nah, ini juga ada bukan dalam islam ? Yakni ta’aruf ? Jadi, ini tidak bisa dibilang budaya yang tidak dikenal oleh islam. Ada pertentangan, mengenai tata cara dari ta’aruf itu sendiri. Banyak yang mengatakan bahwa ta’aruf itu selayaknya cuma perlu sebentar saja dan tidak perlu pacaran segala. Tapi itu relatif. Setiap orang punya kebutuhan yang berbeda-beda. Tiap orang butuh waktu yang bervariasi untuk kita bisa mengenal dan memahami orang lain, dan dan punya standar masing-masing untuk menganggapnya cukup.

Ada yang merasa bahwa kenal saja sudah cukup. Ada yang merasa bahwa merka perlu kenal, dan lebih memahami satu sama lain kemudian baru memutuskan dan sebagainya. Ada yang sudah kenal karena memang sahabat, sudah suka sama suka, tapi masih ingin memastikan dengan mengenal lebih dalam lagi. Apa salahnya kalau ta’arufnya lama ? Tidak ada salahnya. Kalau pakai ‘title’ ? Misalnya ‘pacar’ atau ‘kekasih’? Apa salahnya ?

Semua yang salah itu terletak pada apa yang cenderung terjadi. Kecenderungan orang-orang barat yang menganut free seks dan melakukan hubungan seks kalau berpacaran, berpegang-pegangan, berciuman, berpelukan dan sebagainya. Tapi ada satu hal yang perlu diingat. Orang nasrani yang taat juga tidak akan berhubungan seks sebelum menikah. Jadi budaya ini tidak eksklusif dimiliki oleh kaum nasrani dan tidak pula mewakilinya. Tapi mereka disesatkan oleh sekulerisme dan liberalisme yang memberikan justifikasi. Karena seks dinilai sebagai ‘bumbu’ cinta dan salah satu wujud perkenalan itu sendiri.

Bumbu cinta ? Nyatanya bisa saja orang melakukan seks dengan WTS tanpa merasakan cinta sama sekali. Jadi itu tidak ada hubungannya. Nyatanya juga, belum tentu semua pasangan pacar yang pernah seks toh akan langgeng. Tuh kan… Sudah di’cicip’i, tidak jadi dibeli. Nggilani… Apa iya kita perlu seks untuk mengenal pasangan kita ? Tentu saja tidak. Logikanya begini saja. Meskipun kita belum menikah, tahukah kita ‘cara’ melakukan seks ? Tentu kita tahu. Tahukah kita ‘bentuk’ lawan jenis kita seperti apa ? Tentu kita tahu. Enakkah seks itu ? Pasti enak. Makanya, tidak perlu khawatir. Kalau jeruk, belum tentu manis jadi dicicipi dulu. Kalau ini kan sudah pasti, coy ! Dan kita tidak perlu ‘mencicipi’ setiap sahabat kita kan untuk mengenalinya bukan ? Apalagi sudah dilarang untuk seks pranikah. Pegang-pegangan tangan, berdua-duaan, apalagi ciuman dan nggilani kalo sampe sleep-sleepan…. Dan kita bisa kok mencapai tujuan ‘pengenalan’ tanpa melakukan semua itu. Masuk akal.

Karena esensi dari pengenalan adalah komunikasi. Dan waktu yang dibutuhkan itu relatif. Toh bukan terbatas pada orang pacaran saja kalau mau seks bebas. Orang yang sesatnya sudah parah sih akan seks dengan siapa saja. Karena itu cuma mengumbar nafsu belaka saja. Jadi seks bebas bukan kesalahan yang eksklusif milik pacaran. Kalau memang pacaran dituduh sebagai pembenaran, ya itu salah. Itu tuduhan tidak beralasan dan mengada-ada. Sama saja seperti menimpakan kesalahan pada uang. Itu bisa juga kok jadi kambing hitam nyaris semua kejahatan mulai dari pembunuhan perampokan sampai seks bebas juga (prostitusi). Tapi apakah itu berarti uang itu salah ? Karena semua itu kembali pada niat. Apa sih tujuannya ? Dan apa sih yang kita lakukan untuk mencapainya ? Apakah relevan? Apakah terlarang ?

Bagaimana dengan minuman keras ? Kalau ini sudah jelas, karena pasti entah mabuk, atau merusak tubuh. Kemungkinan keburukan yang ada cuma dua. Salah satu dari yang tadi disebut, atau keduanya. Jadi ini sudah pasti. Tapi bagaimana dengan fakta bahwa banyak sekali orang yang melanggar ketentuan ini. Itu namanya ‘pelanggaran’. Hanya karena sesuatu cenderung dilanggar, bukan berarti aturan itu dihapuskan. Morfin itu dipakai untuk pengobatan, tapi aturan-aturan dibuat. Banyak yang melanggar, tapi polisi terus memburu para pelanggar dan pemakaian morfin pada tempatnya tetap diperbolehkan. Seks ada aturannya. Hanya boleh setelah menikah, dan pada orang yang dinikahi. Pelanggarnya banyak, tapi mereka semua dikenai dosa. Dan mereka yang melakukannya dengan mematuhi aturan tetap boleh melanjutkan aktivitas. Bagaimana kalau yang pacaran cuma main-main saja ? Ya jangan dong. Simpel kan ? Mereka tidak punya tujuan jelas, apalagi di tengah jalan pakai zinah segala. Itu dia yang dosa.

Dan bagaimana soal hati kita yang terus membayangkan si ‘dia’? Menurut saya itu wajar kalau namanya suka. Sehingga mau pacaran atau tidak, itu bisa terjadi dan alamiah. Tinggal istighfar, dan insyaAllah beres dan tidak berlanjut. Masalah mulai muncul kalau yang terfikir adalah hal yang tidak-tidak. Tapi skali lagi kalau memang otak ngeres, mau pacaran atau tidak, ya itu akan muncul. Dan kalau pacaran akan membuat itu lebih parah, itu adalah karena emang ngeres dan, dengan sok tahunya, merasa bahwa pacaran itu membenarkan hal-hal sinting seperti itu, dan itu jelas salah.

Dan coba dibayangkan. Jika kita benar-benar mencintai dan menyayangi seseorang, apakah kita akan tega untuk membayangkan atau bahkan melakukannya ? Tentunya tidak. Dapat disimpulkan bahwa yang terlarang adalah pacaran yang… pacaran yang… pacaran yang… Sehingga yang terlarang adalah teknis pelaksanaan. Secara konsep tidak karena masih termasuk dengan ta’aruf. Ini sekaligus untuk menguji komitmen saya. Pacaran itu tidak boleh dan toh tidak perlu seks, pegang-pegang, bertatapan sok mesra, peluk-peluk, berdua-duaan dsb. Tapi selama masih punya telinga dan mulut, jempol dan pulsa, kertas dan pena, atau ongkos warnet, komunikasi bisa terus berjalan dan pacaran bisa berjalan juga cuma dengan itu. Jika ada yang merasa itu semua tidak perlu, maka ya tidak usah. Karena ini adalah pilihan, dan ‘tidak perlu’ bukan berarti ‘tidak boleh’. Tapi ingat. Semua pilihan memiliki konsekuensi.

14 Komentar pada artikel “Pacaran dan Zinah:MUTUALLY EXCLUSIVE”
Ukhti yang peduli bilang:
April 19th, 2006 jam 14:05

Assalamu’alaykum warahmatullah

Akhi,
saya pernah terjebak dengan pikiran itu. Sempat.
Itu dikarenakan diri yang tidak dapat mengendalikan perasaan “sayang”.
Namun alangkah PENGECUTnya kita bila bicara pacaran dulu tapi nikah nanti….
Dalam iIslam hanya ada dua pilihan saat dorongan hati timbul, “menikah” atau “lupakan”.
ingat…Istigfar hanya akan membasuh telinga dan jemari yang digunakan untuk ber-sms dosa…tapi tidak seluruh tubuh yang berlumur “kasih sayang”. Sang Pemilik Hati akan mempertanyakan…kemana hati kita letakkan, ditangan dia yang “halal” atau yang “dihalal-halal kan?”
Hati kita milik Allah dan akan selalu begitu.
Sekali lagi, sangat PENGECUT bicara kasih sayang tanpa tanggung jawab.
Bila cinta…NIKAHI.
Belum berani, lupakan.
Perbaiki diri.
Bila jodoh pasti kembali.
Itu pun bila akhi percaya akan takdir Allah yang maha Agung dan Indah.

Wallahu’alamu bish showab

Wassalam
Fajri bilang:
April 23rd, 2006 jam 20:39

Afwan sebelumnya….
Terima kasih sudah peduli,
Tapi ini dia maksud saya yang nggak mau baca semuanya sampai selesai…

Intinya saya juga bilang nikah. Yang saya maksud adalah yang serius Tapi nikah itu pake ta’aruf toh ?
2 pertanyaan.
1.Kalo ta’aruf itu disebut ‘pacaran islami’ gimana ?
Saya sering dengan pernyataan konyol bahwa prnyataan di atas itu salah karena pacaran itu tidak islami. Itu sangat konyol, karena yang saya katakan adalah intinya ta’aruf dengan semua tata caranya. Ada yang lama, ada yang sebentar, intinya ta’aruf. Nah itulah yang disebut ‘pacaran islami’.
Kalaupun ada masalah dengan itu, adalah pelanggaran-pelanggaran praktis dan prejudis yang tidak eksklusif milik ta’aruf.

2.Kalo belum direstui gimana? Gimana kalo nikahnya nggak bisa langsung, tapi niat ada ? Bagaimana hubungan antara pasangan ini?
Pernyataan konyol lagi yang sering saya dapat: Dijaga. Apanya yang dijaga ? Jawaban apaan tuh ? Itu nggak menjawab apa-apa. Nggak cuma terhadap non-mukhrim aja toh yang mesti di jaga?
Intinya kita tau aja kalo kita udah saling suka dan mau nikah, tinggal tunggu saat yang tepat, ya tetap saja kita berhubungan biasa. Sama seperti dengan lawan jenis yang lainnya. Tidak ada yang diistimewakan dalam hal perlakuan, dan izzah tetap dijaga.

Jadinya orang bertanya-tanya: Terus yang pacaran itu yang mananya kalo nggak ada yang berubah ?
Niat untuk menikah dan istiqomah untuk berusaha. Cuma sebatas itu saja.

Jadi apa bentuk tanggung jawab atas kasih sayang yang Ukhti tanyakan? Niat dan istiqomah.

Doakan saya ya… (n_n)
orang awam bilang:
April 24th, 2006 jam 8:46

Sayangnya, “pacaran” itu tidak memiliki landasan hukum yang jelas. Makanya jadi susah untuk memaknainya. Kalau seperti yang Fajri bilang, tentang khamr, di dalam Al Qur’an disebutkan bahwa itu haram, maka ganja, shabu-shabu dan barang-barang yang punya akibat sama dengan khamr adalah haram.

Kalau pacaran?
Banyak yang memberikan dalil wa laa taqrobuz zina. Yang berpendapat demikian mengatakan, bahwa pacaran itu mendekati zina. Jadi tidak boleh dilakukan. Lalu ada yang nyeletuk, “Yang ngga boleh kan mendekati, kalo zina sekalian kan gpp”. Hehe, bukan begitu maksudnya. Kalau mendekati aja ngga boleh, apalagi melakukan… Yang “mendekati” itu yang seperti apa? Wallahu a’lam. Penafsiran orang-orang bisa jadi beda lagi. Mungkin ada orang yang terangsang kalau udah berpegangan, tapi yang lain ngerasa biasa-biasa aja. Ada juga yang dengan sekali pandang langsung berpikiran macam-macam. Makanya lalu diperintahkan untuk ghaddul bashar

Bagaimana dengan ta’aruf? Ada yang bilang, ta’aruf beda dengan pacaran, karena ta’aruf tidak dilakukan dengan berdua-duaan, selalu ada yang ketiga (bukan setan loh), mungkin ayah, murabbi, dll.

Mungkin kesalahannya adalah bila pacaran dengan mengatas namakan ta’aruf. Apakah pacaran = ta’aruf? Sebagian orang mungkin setuju, tapi yang lain berontak. Kenapa? Karena sekali lagi, arti “pacaran” itu sendiri orang-orang memaknainya lain-lain. Ada yang menganggap pacaran = jalan bareng, ada yang bilang “Namanya bukan pacaran tuh, kalo kissing aja ngga pernah”.

Kalau ada yang bilang “pacaran Islami” = ta’aruf, mungkin saja benar, karena mereka melakukan “kegiatan” pacaran itu dengan selalu didampingi oleh orang ke tiga. Dan bukankah itu sah-sah saja? (karena yang tidak boleh itu berkhalwat alias berdua-duaan). Lain lagi masalahnya kalau berdua-duaan yang dimaksud adalah berdua-duannya seorang dokter wanita dengan pasien pria. Berkholwatkah mereka? Tentu tidak. Niatnya kan beda. Merembet masalah niat bisa panjang lagi ceritanya…

Stop sampe sini aja lah. Namanya juga orang awam, nyuwun pangapunten kalau banyak salah. Semoga komentar ini tidak menambah daftar dosa-dosa saya selaku orang awam. Hanya Allah yang mengetahui segala sesuatu.
Yang lebih awam bilang:
April 26th, 2006 jam 20:30

Pacaran beda dengan ta’aruf.

Setahu saya ta’aruf itu dilakukan setelah ada pembicaraan dengan ortu. Artinya, sang ikhwan sudah minta persetujuan untuk menikah kepada ortunya dan sudah menemui ortu sang akhwat untuk mengkhitbahnya. Jadi sudah ada kepastian untuk menikah, bukan baru sekedar komitmen. Barulah ta’aruf yang bertujuan untuk SEDIKIT mengenal calon pasangan. Karena pada hakikatnya proses saling mengenal yang lebih mendalam dilakukan saat sudah menikah. Maka, sesuai anjuran Rasulullah, menikah itu ga usah muluk2, cukup cari tahu soal kecantikannya, kekayaannya, keturunannya tapi yg mau sukses cukup cari tahu soal AGAMANYA. Ga perlu lama2 khan?

Jadi, kalo baru berkomitmen untuk menikah, bukanlah ta’aruf.

Untuk orang awam, maap nih ye, sesama orang awam, setahu saya yang namanya berkhalwat itu sama siapa (selain mahram) aja gak boleh kalo belum nikah. Walau antara dokter dgn pasien. Bahkan beberapa ulama itu melarang kita tolabul ilmi di majelis yg berikhtilat (seperti di Indonesia), dalam ruang kuliah ngga ada hijab. Maka, kalo dalam syariat Islam, pasien wanita ditangani dokter wanita, pasien pria ditangani dokter pria. Kecuali daruroh.
orang awam (lagi) bilang:
April 27th, 2006 jam 8:25

Susahnya…jadi orang Indonesia… serba dosa
muslimah jogja bilang:
April 27th, 2006 jam 14:24

pacaran jaman sekarang emang susah….
coba kita hidup pada jaman nabi dulu,g usah pusing kita mikir dosa g ya yang saya lakukan.

tapi ta’aruf itu penting banget.Semisal beli kucing dalam karung,g tau cacat g tau bagus,pokoknya apa yang di dalam karung itu milik kamu.Sama seperti mau nikah,ga mau donk ujuk-ujuk punya pasangan yang g ngerti asal usulnya,mau ga mau kita kudu berta’aruf ke calon pasangan kita.
tapi seberapa jauh sih berta’aruf itu? boleh minta jawaban ga…..
Orang lain bilang:
April 27th, 2006 jam 17:15

Percaya deh, dulu waktu awal2 belajar agama, saya juga pengen banget berpacaran Islami.
Tapi, semakin banyak tau, semakin jauh dari keinginan itu. Coba renungkan apa hakikatnya Rasulullah melarang bersentuhan, berkhalwat, berikhtilat, gadhul bashar, dll. Yaitu untuk menjaga dari penyakit hati. Virus Merah Jambu, kata orang. Itulah yang sebenarnya berbahaya, selain zina.

Coba deh antum yg pada punya pacar islami, atau yg lagi ngecengin seseorang, renungkan….
Apakah shalat wajib antum sudah tepat waktu?
Apakah shalat antum sudah khusyuk hanya mengingat Allah?
Apakah yg ada dalam pikiran antum hanya Allah setiap saat?
Apakah niat segala aktifitas antum hanya karena Allah?
Apakah waktu2 antum digunakan untuk yg bermanfaat?
Ataukah….
Yg ada dipikiran antum lebih banyak ttg si doi
Makan, tidur, shalat, tidak bisa melupakan si doi
Antum beraktifitas supaya si doi melihat hal positif pd antum
Waktu antum digunakan untuk SMS-an, chatting, telpon2an yg isinya cuma rayu2an atau pembicaraan2 ringan tak berbobot seperti “Udah makan belum” “Gimana kabar hari ini?”

Daripada mikirin akhwat, mendingan waktu2 kita digunakan bwt ningkatin kualitas diri. Mikir akhwat nanti aja kalo udah siap. Ga usah takut gag punya jodoh.

Kongkretnya, lupakan soal pacaran, tingkatin kualitas diri, cari kerja, kalo udah baru cari akhwat, nikah.
Sirius Back bilang:
April 27th, 2006 jam 19:46

Ta’aruf >Perkenalan

dari diskusi-diskusi seeh taaruf ga boleh melebihi 3 bulan. Walaupun ini tidak ada dalilnya, namun kalo bisa sesingkat-singkatnya.
Tahu ga, yang namanya jodoh ga bakalan lari kemana.

tapi ta’aruf itu penting banget.Semisal beli kucing dalam karung,g tau cacat g tau bagus,pokoknya apa yang di dalam karung itu milik kamu.Sama seperti mau nikah,ga mau donk ujuk-ujuk punya pasangan yang g ngerti asal usulnya,mau ga mau kita kudu berta’aruf ke calon pasangan ki ta.
tapi seberapa jauh sih berta’aruf itu? boleh minta jawaban ga

Mo sedikit jawab neeh, ta’aruf yang jelas ada aturannya dalam Islam. Seberapa jauh ta’ruf tergantung keimanan seseorang. Katakan saja saya seorang yang sangat pemilih, pasti klo “calon ” ga punya “ini”saya ga mau, atau bla, bala sederetan keinginan yang lain boleh disampaikan pada prosese ta’aruf. Klo ditanya sejauh mana taaruf yang pasti tetap jaga hijab, bila ditolak ga usah sedih toh manusia itu semua ada jodohnya, klo ga ada jodoh di dunia, subhanalloh banget ia akan punya jodoh di akhirat.

Alloh akan memudahkan seoarng hamba nya yang sudah siap, just beleive it. So, bagi yang mau nikah kok taarufnya ga lancar-lancar husnudzon aja memang itulah yang terbaik, Alloh pasti punya skenario yang lain. Stop pacaran, tetep jaga izzah antum, serius kiy
fajri bilang:
April 29th, 2006 jam 12:59

Alhamdulillah tanggapannya banyak… Saya jadi banyak belajar juga nih, tapi saya masih teguh pada pendapat saya btw…
Menanggapi “ORANG LAIN” yang menurut saya sangat representatif, saya punya pertanyaan. Bagaimana kalau saya katakan bahwa: KAlau bisa memenuhi semua pertanyaan antum, apakah berarti nggak apa-apa ? Menurut saya ya. Karena begini.

Umpama antum syuro, kan bertemu lawan jenis tuh… Walau terpisah, tapi komunikasi terjadi. Biarpun ada hijab, tapi apa yang tampak bukanlah yang sesungguhnya membuat tertarik. Lalu antum tertarik. Kebetulan dia juga. Dan kebetulan lagi, sama-sama tau. Itu biasa banget kan terjari ? Nah, pertanyaannya adalah: Lalu bagaimana ?
Apa sih yang umumnya antum akan lakukan kemudian ? Tentu antum akan istighfar, dan terus menjaga hati. Mengenai hubungan antum dengan ‘dia’, ya tidak berbeda dengan akhwat lainnya. Kurang-lebihnya begitu bukan ? Wajar, dan apa adanya.
Lalu, salahkah kalau misalnya antum mengatakan: “InsyaAllah jika kita nanti berjodoh, saya ingin menikah dgn akhi” ? Nggak salah. Kalo dia bilang: “InsyaAllah iya.” ? Nggak salah juga kan ? Lalu kalau antum misalnya sudah merasa yakin, dan meminta izin ortunya? Salahkah itu ? Atau antum mau mencap orang lain belum siap ? SIapa sih yang memutuskan apa dirinya sudah siap ?

Lalu apa yang salah ? PREJUDIS ANTUM TENTANG PACARAN. Jadi walaupun semua yang terjadi sesuai saja dengan syariat, antum nggak akan liat. Misalnya, di zaman saat wanita terdiskriminasi, muncul stigma bahwa wanita itu tidak mampu apapun. Jadi saat ada wanita yang berusaha tampil, masyarakat akan tdiak percaya. Padahal, belum lihat dia seperti apa.

Sama seperti ini. Sebenarnya, kalau apa yang saya katakan tentang ‘pacaran islami’ dipublikasikan, orang akan berkata ITU MAH BUKAN PACARAN. Karena mereka sudah punya prejudis tentang apa yang mereka tahu tentang pacaran. Tapi secara psikologis, antum juga akan mengatakan bahwa ITU MELANGGAR SYARIAH. Padahal yang mananya sih yang melanggar ? Saya nggak melihat apapun. Kalaupun ada yang melanggar, yah itu namanya pelanggaran. Ta’aruf juga bisa saja dilanggar. Apapun bisa dilanggar.
Makanya, menurut saya “ORANG LEBIH AWAM” memberikan respon yang sama sekali tidak relevan. “Ta’aruf itu mesti ada izin ortu” dan sebagainya. Ya memang. Makanya, kalau menurut saya ya itulah yang mestinya dilakukan. Ini membuktikan apa ?

Nah itu dia maksud saya, kenapa BANYAK ORANG YANG MEMBANTAH SAYA SEBELUM MEMBACA/MENDENGAR SAMPAI HABIS. Karena antum sudah punya PREJUDIS, sehingga apapun penjelasan saya tidak akan tercerna semua. Dan wal hasil, akan menimbulkan respon yang entah irelevan atau masalah yang sudah terjawab.

Maka jujur saja, sebenarnya menurut saya semua respon di sini insyaAllah tidak ada yang salah. Benar semua, dan sesuai dengan hukum-hukum yang ada. Masalahnya, rata-rata tidak ada yang relevan dengan kasus yang saya bawakan. Kelihatannya yang paham sebenarnya maksud saya apa dan tidak termakan prejudis adalah respon dari ORANG AWAM (no 3)

Afwan kalau ada yang tersinggung, atau kurang setuju. InsyaAllah yang saya sampaikan barusan juga objektif, akurat, dan juga bebas dari prejudis. Karena saya pernah hidup dalam lingkungan dimana saya dituntut sangat sekuler, tapi juga dituntut kritis dan dinamis, sehingga insyaAllah kurang lebihnya terbebas dari prejudis.

Karena sesungguhnya, untuk menilai dengan fair dan tanpa prejudis, perlu sementara menghilangkan afiliasi hati dengan pihak tertentu. InsyaAllah ini bukan sekuler, tapi cuma pengkorelasian sebuah ide dengan ide lainnya.

Wallahualam
Orang lain bilang:
April 30th, 2006 jam 15:04

Saya jadi bingung sama antum…
Sebenernya kasus yg antum ajukan itu
“Sudah sama-sama suka dan segera mau menikah” (Kasus 1)
atau
“Sudah sama-sama suka, tapi belum siap nikah, dan menunggu sampai siap baru nikah”. (Kasus 2)

Karena, bisa jadi antum yang salah menilai, bahwa pendapat2 kami bukanlah PREJUDIS tapi ANALISIS.

Lalu, salahkah kalau misalnya antum mengatakan: “Insya Allah jika kita nanti berjodoh, saya ingin menikah dgn akhi” ? Nggak salah. Kalo dia bilang: “InsyaAllah iya.” ? Nggak salah juga kan ? Lalu kalau antum misalnya sudah merasa yakin, dan meminta izin ortunya? Salahkah itu ?

Pertama, baca dulu artikel ini. Kemudian, kalo dalam kasus 1, ini tidak salah. Ini sama dengan mengkhitbah. Kalo sama2 sudah bilang “iya” maka datangi ortu sang akhwat, langsung nikah deh. Tapi kalo dalam kasus 2, ini bahaya. Misalnya antum memperkirakan nikah 1 atau 2 tahun lagi. Selama 1 atau 2 tahun itu bakal banyak fitnah, hati mudah terkotori, rasa rindu yg menggebu memancing syahwat, ibadah tidak khusyuk, takut kehilangan, takut si dia diambil orang, takut rasa cinta dia berkurang, dll. Dan jujur saja, bila 2 orang terikat hatinya seperti itu, pasti ada keinginan besar untuk sering bertemu. Awal2nya memang bisa ditahan, tapi 1 tahun 2 tahun adalah waktu yg lama yg bisa menggoyahkan iman. Dan akhirnya merekapun tak kuasa menahan rindu, bertemulah mereka, berduaan, atau minimal bertemu dalam forum, kemudian pandang2an, atau aktifitas lain yg dilarang. Masya Allah. Padahal belum ada pertalian yg syah.

“Tidaklah aku tinggalkan sesudahku suatu fitnah yang lebih membahayakan bagi laki-laki daripada (fitnah) perempuan.” (H.R. Bukhari)

Umpama antum syuro, kan bertemu lawan jenis tuh… Walau terpisah, tapi komunikasi terjadi. Biarpun ada hijab, tapi apa yang tampak bukanlah yang sesungguhnya membuat tertarik. Lalu antum tertarik. Kebetulan dia juga. Dan kebetulan lagi, sama-sama tau. Itu biasa banget kan terjari ? Nah, pertanyaannya adalah: Lalu bagaimana ?

Jawabnya, Istighfar, jaga hati, jaga pergaulan dan kurangi intensitas bermuamalah dengan dia. Maka dalam syuro sekali pun harus di jaga dengan baik, hijabnya, kata2nya, suaranya, pandangannya.

“Maka janganlah kalian merendahkan suara dalam berbicara sehingga berkeinginan jeleklah laki-laki yang berpenyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang ma‘ruf.” (Al Ahzab: 32)

Sekali lagi, saya tidak menawarkan perselisihan, saya mau menawarkan solusi. Lupakan pacaran, lupakan soal wanita, sibukkan diri untuk memperbaiki diri, meningkatkan kualitas diri, habiskan pulsa untuk dakwah (bukan sayang2an), belajar ilmu agama dan ilmu dunia, siapkan mental, jadilah pria dewasa, cari ma’isyah, baru pikirkan nikah.
Kalo diri sudah keren, alim, sholeh, tajir, Insya Allah dapet pasangan yg berkualitas juga.

“Perempuan-perempuan jahat untuk laki-laki jahat, laki-laki Jahat untuk perempuan-perempuan jahat pula, perempuan-perempuan baik untuk laki-laki baik, laki-laki baik untuk perempuan-perempuan baik pula. Mereka itu (orang-orang baik) terlepas dan tuduhan yang mereka katakan, untuk mereka ampunan dan rezeki yang mulia.” (Q.S An-Nur:26)

Susah? Memang. Tapi bukankah itu lebih mulia?
fajri bilang:
May 1st, 2006 jam 23:33

“””Sebenernya kasus yg antum ajukan itu
“Sudah sama-sama suka dan segera mau menikah” (Kasus 1)
atau
“Sudah sama-sama suka, tapi belum siap nikah, dan menunggu sampai siap baru nikah”. (Kasus 2)”””

JAWAB:Ya entah salah satu atau keduanya.

Mengenai masalah gimana kalo syuro ketemu, sama2 suka dan sama2 tahu, katanya mesti “Istighfar, jaga hati, jaga pergaulan dan kurangi intensitas bermuamalah dengan dia. Maka dalam syuro sekali pun harus di jaga dengan baik, hijabnya, kata2nya, suaranya, pandangannya.”

JAWAB: Ya iyalah… Memangnya saya bilangnya apa? Tapi yang saya kurang setuju adalah “kurangi intensitas muamalah”. Sebab dalam bermuamalah dengan siapapun, tentunya harus secukupnya. Nggak kurang, nggak lebih. Karena sesungguhnya apapun yang “terlalu”, itu tidak baik untuk urusan apapun.
Sehingga, muamalah dengan si ‘dia’ juga nggak perlu dikurangin lah…. Sewajarnya saja sesuai kebutuhan. Kalo dikurangin, akan ‘terlalu’ kurang dong…

Tapi kalo emang ternyata jadi “terlalu’ intens, ya memang perlu dikurangi sih…

“habiskan pulsa untuk dakwah (bukan sayang2an)”

JAWAB: Itu mah mnjijikkan kalee… Boros duit buat gombal… Tapi lucu juga lho melihat sms orang-orang pacaran (tapi bukan konteks yang saya berikan lho…)…
Ada aja cara orang nge’flirt’ dengan cara gombal yang bodoh dan nggak masuk akal, tapi cewek bisa aja klepek klepek dengan itu….

“Lupakan pacaran, lupakan soal wanita, sibukkan diri untuk memperbaiki diri, meningkatkan kualitas diri, habiskan….. …..baru pikirkan nikah.”

JAWAB: Menurut saya keduanya itu bisa berjalan bersamaan kok. Dan setiap orang punya prioritas sendiri. Apalagi bisa saja ya terfikirkan juga bukan ? Masalahnya adalah:
1.Bagaimana kita menyikapi dan mengendalikan diri terhadap ‘keinginan’ atas lawan jenis.
2.Bagaimana kita membuatnya tidak mengganggu usaha kita memperbaiki diri dsb tersebut.

Susah? Memang. Tapi bisa, dan tidak salah. Dan juga bukannya tidak mulia
Orang lain bilang:
May 2nd, 2006 jam 13:11

Pertama, baca dulu artikel ini.
Bila kita terlanjur suka dengan seseorang, maka perketat penjagaan hati, dan kurangi intensitas muamalah. Karena syaithan lebih gencar menggoda saat kita bermuamalah dengan dia daripada dgn yang lain.
Sungguh saudaraku, saat hati kita kotor sekecil apapun, mustahil meraih kesempurnaan ibadah dan kemuliaan akhlak. Walau tangan, mata, telinga tidak berzina, hati kita lebih sering berzina.
“Zina kedua mata itu memandang, zina kedua telinga itu mendengar, zina kedua tangan itu menjabat, zina kedua kaki itu melangkah dan zina hati itu mengingini, mengangan-angankannya“ - ( Riwayat Bukhari dan Muslim)
Maka, jagalah hati.
Coba renungkan kenapa antum bersikeras ingin pacaran ? Karena susah melupakan dia? Karena sudah terlanjur cinta? Karena tidak bisa hidup tenang tanpanya? Karena hanya dia satu2nya wanita yg antum inginkan? Karena berat meninggalkan dia? Karena dia selalu terbayang di pikiran antum? Astaghfirullah…. hati-hati akhi…..
Harapan saya, mari kita sama2 perdalam ilmu agama, sedalam-dalamnya, jangan merasa cukup. Niscaya antum akan mengerti kenapa para ulama mengharamkan pacaran, kenapa para aktivis dakwah anti pacaran, kenapa Rasulullah dan para sahabatnya tidak ada yang pacaran. Ataukah antum menganggap para ulama itu kurang ilmunya? atau ketinggalan zaman? atau kurang mengetahui permasalahan masa kini? Astaghfirullah. Semoga kita diberi petunjuk.
Alex bilang:
May 9th, 2006 jam 10:59

Aku mau tanya, apbila sudah terlanjur gimana? dia wanita berjiblab dan agamanya bagus. Dan kami berusaha menjalani dan tidak neko-neko. Karena kami tau bahwa pacaran tidak boleh setelah terjadi .
Orang Lain bilang:
May 9th, 2006 jam 11:56

Pertama, istighfar!

Solusinya, kalau ente merasa sudah istitho’ah (mampu) maka menikahlah!
Kalo belum, entah namanya ‘putusan’ atau apa, ente harus menjaga diri. Tidak boleh ada rasa saling memiliki, tidak boleh ada perhatian yg berlebihan, anggap dia sebagai teman biasa saja yg tidak ada hubungan apa2. Kemudian bersabarlah, dan terus tingkatkan kualitas diri dengan belajar agama, berusaha mencari nafkah, tingkatkan ibadah. Bila sudah siap baru lah mencari pasangan. Tidak harus dengan si dia. Jodoh sudah ada yg mengatur, tidak usah khawatir tidak mendapat jodoh walau ‘putus’ dengan si dia.
——————————————————————————————————————————————————
Buletin Studia
07 Mei 2004 - 06:49
Pilih Syar’i, Tinggalkan Kompromi!
Edisi 194/Tahun ke-5 (10 Mei 2004)

Tantangan nggak cuma ada di Indosiar, tapi nongol di setiap sisi kehidupan kita. Konon kabarnya, orang bijak bilang tantangan dalam hidup adalah suatu anugerah yang bakal bikin kita lebih dewasa dalam bersikap dan berbuat. Cieee… karena adanya tantangan bakal ngetes sejauh mana kesungguhan niat kita tuk meraih tujuan. Siapa yang berani ngadepin setiap tan-tangan, berarti doi punya nyali bin tekad untuk maju. Sebaliknya, siapa yang justru malah menghindari tantangan alias jago ngeles, bisa-bisa dicap Dygta sebagai Pecundang Sejati .

Tantangan juga hadir di hadapan aturan Islam. Aturan yang kita yakini bakal bikin selamet dunia akhirat bagi yang istiqomah. Tantangan itu muncul karena perbedaan waktu antara zaman Rasulullah dan sekarang. Karena beda masa beda sarana. Dulu perbankan nggak ada, sekarang bejibun. Dulu pemerintahan demokrasi belum lahir, kini demokrasi dianggap satu-satunya solusi. Makanya ada yang ber-pendapat kudu ada reformasi terhadap aturan-aturan Islam. Terutama bagian yang dirasa udah nggak cucok lagi ama kondisi sekarang.

Nah, lalu muncul deh gaya hidup “kompromi” di kalangan umat Islam. Gaya hidup yang mencoba menjadikan aturan Islam sebagai aturan yang fleksibel. Nggak kaku bin jumud terhadap perkembangan zaman. Mirip-mirip sifat air yang selalu bisa menyesuaikan dengan tempat doi berada. Aturan poligami dianggap udah basi. Karena kini ada aturan emansipasi wanita yang kudu dijunjung tinggi. Sampe ada mahasiswi yang menggelar aksi penentangan terhadap aturan poligami. Wah berabe nih urusannya! Inga..inga.. firman Allah Swt.:

“Apakah kalian mengimani sebagian al-Quran dan mengingkari sebagian yang lainnya? Tiada balasan bagi orang-orang yang berbuat demikian di antara kalian selain kenistaan dalam kehidupan dunia, sementara pada hari Kiamat kelak mereka dilemparkan ke dalam azab yang sangat berat.” ( QS al-Baqarah [2]: 85 )

“Kompromi” di sekitar kita

Sobat muda muslim, tentu kita udah nyadar kalo lingkungan di sekitar kita kian steril dari aturan Islam. Mulai dari cara berpakaian, bergaul, di tempat kerja, sekolah, atau di sekitar rumah. Semuanya udah dibalut dengan paham sekuler yang berasal dari gaya hidup Barat. Paham ini yang nempatin aturan agama cuma buat di masjid atau majelis taklim doang. Itu pun sebatas lisan. Padahal kita sebagai muslim juga kudu terikat ama aturan Allah di mana aja dan kapan aja. Ini yang seringkali jadi dilema bagi remaja muslim. Bener kan?

Tentu, dilema yang dialami remaja muslim amat wajar terjadi. Karena aturan ling-kungan di sekitar kita seolah memaksa me-reka untuk sekuler. Inilah yang dikehen-daki musuh-musuh Islam. Melalui media informasi mereka, kita digiring me-ngikuti budaya Barat yang se-kuler dengan cap mo-dern, gaul bin trendi. Hingga kita nggak bisa lihat, denger, tonton, kecuali apa yang mereka tayangkan. Walhasil, pola pikir dan pola sikap kaum Muslimin banyak yang berkiblat pada gaya hidup Barat. Gaswat!

Akibat gaya hidup kompromi, banyak temen-temen kita yang mengalami krisis identitas sebagai muslim. Mereka seolah malu menampilkan sosoknya sebagai muslim atau muslimah. Seperti dalam tren busana musli-mah yang lagi banyak digandrungi. Berkerudung tapi seksi bin modis. Kerudungnya begitu ketat membalut kepala. Terus, ujung-ujung kain penutup kepala itu yang syar’i-nya menutupi bagian dada, malah ditarik ke atas dan dililitkan ke bagian belakang leher. Mereka menyebutnya kudung gaul. Tapi kok amburadul. Piye iki ?

Dalam pergaulan remaja ada istilah ‘pacaran islami’ dengan batasan no kiss no touch . Padahal jalan berdua dengan lawan jenis yang bukan mahramnya aja udah nggak boleh. Gimana bisa ada pacaran islami? Kecuali aktivitas pacaran itu dilakukan after merit . Itu baru siip! Uhuy!

Dalam aktivitas dakwah juga sami mawon. Ada yang coba mengompromikan metode dakwah Rasulullah dengan situasi dan kondisi untuk menarik simpati. Nggak berani nyinggung-nyinggung tradisi, adat, budaya, atau kebiasaan rusak yang berkembang di tengah masyarakat. Nggak pede jelasin kalo perayaan tahun baru masehi, Valentine Days, atau ikut kontes-kontes kecantikan dan penca-rian bakat itu bertentangan dengan Islam. Kalo gini sih, kesannya kayak nyari selamet. Padahal apapun risiko yang dihadapi atau hasil yang diraih, dakwah Islam tetep kudu disampaikan. Bisa-bisa kita termasuk pihak yang ikut melestarikan budaya sekuler kalo menutup-nutupi kebenaran yang datang dari Islam. Betul? Jangan sampe deh!

Jalan tengah = jalan salah

Gencarnya opini sikap kompromi bikin kaum Muslimin banyak yang tejebak. Mereka jadi doyan bersikap moderat (maksudnya jalan tengah. Bukan modal dengkul dan urat lho..) dalam menghadapi setiap permasalahan. Seolah sikap itu yang paling oke, paling selamet, dan diterima semua pihak. Padahal justru sikap itu malah menghindari masalah bukan menghadapinya. Nah lho, kok jadi muter-muter gini?

Begini, jalan tengah adalah konsep yang membangun ideologi kapitalisme. Ini diawali sekitar abad pertengahan. Ceritanya, saat itu ada dua pihak yang lagi bersitegang. Antara pihak gereja yang jadi perpanjangan tangan raja melawan pihak pemikir dan filosof Barat. Keduanya berbeda pendapat tentang agama Kristen dan perannya dalam kehidupan. Rohaniwan dan raja berpendapat kalo Kristen adalah agama yang layak untuk mengatur seluruh kehidupan. Sementara para pemikir dan filosof justru berpendapat sebaliknya. Karena mereka menganggap agama Kristen sebagai penyebab kehinaan dan ketertinggalan. Seharusnya akal manusialah yang layak untuk mengatur segala urusan kehidupan.

Dan ternyata, setelah melewati dua babak yang cukup sengit (emangnya sepak bola?) nggak ada yang menang atau kalah. Dua-duanya sama-sama ngeyel. Akhirnya keduanya me-nyepakati suatu jalan tengah. Mereka mengakui kalo aturan agama emang cocok buat ngatur hubungan manusia dengan Tuhannya. Tapii… aturan agama nggak boleh ikut campur dalam kehidupan manusia. Pokoke, pengaturan urusan kehidupan manusia diserahkan sepenuhnya kepada akal manusia. Titik. Dari sinilah lahir ide pemisahan agama dari kehidupan alias sekulerisme yang jadi prinsip dasar ideologi Kapitalisme. Moga-moga sampe sini kamu ngerti ya. Lanjuut!

Dengan prinsip di atas, orang-orang Barat itu selalu nyari jalan tengah untuk beresin persoalannya atau masalah orang lain. Katanya biar sama-sama enak dan nggak ada yang dirugikan. Seperti solusi yang ditawarkan negara-negara Barat dalam masalah negeri Palestina pada tahun 1948. Mereka melakukan pembagian tanah untuk dua negara: Palestina dan Israel. Tapi, bukannya menyelesaikan masalah, konsep jalan tengah ini malah menambah panjang permasalahan. Karena sampai saat ini, konflik Palestina masih to be continued . Suer!

Dari cerita di atas kita bisa lihat kalo jalan tengah nggak beresin masalah tapi malah menghindarinya. Nggak ada yang bisa tuntaskan masalah perbedaan pendapat dari masing-masing pihak yang berseteru. Baik tentang peran agama Kristen dalam kehidupan maupun perseteruan kaum Muslimin dan kaum Zionis Yahudi di Palestina. Padahal ini kan masalah keyakinan agama yang sifatnya prinsip banget. Jadinya masalah itu dibiarkan tetep ada alias ngambang. Garing banget kan? Padahal mah kudu ada ketegasan untuk hal-hal yang sifatnya prinsipil. Betul?

Ibaratnya, kudu ada yang menang atau kalah di putaran final Liga Champions. Kudu ada kejelasan diterima atau ditolak pas kita melamar seorang gadis. Dan kudu ada akademia yang tereliminasi di setiap konser AFI. Biar ketahuan siapa yang berhak mem-boyong piala Champions dan menyandang gelar tim terbaik Eropa. Siapa yang berhak mengikuti jejak Veri AFI. Atau siapa yang akan segera mengakhiri masa jomblonya. Yo’i kan?

Islam is never die

Allah swt. berfirman: “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS al-Mâidah [5]: 3)

Dalam ayat di atas Allah swt. memastikan kalo agama Islam adalah agama yang sempurna tanpa cacat en cela. Aturannya layak dipakai oleh siapa saja, kapan saja, dan di mana saja. Ini berarti nggak ada masalah yang nggak bisa diatasi oleh aturan Islam. Termasuk masalah baru yang muncul karena perkembangan zaman. Semuanya bisa diselesaikan. Pasti.

Adapun pendapat yang bilang hukum Islam itu fleksibel sebenernya berasal dari orang kafir. Seperti yang pernah disampaikan seorang orientalis Yahudi, Ignaz Goldziher, dalam bukunya. The Introduction to Islamic Law . Dia bilang, perubahan hukum tidak bisa diingkari lagi dengan adanya perubahan tempat dan zaman . Ini artinya fakta yang terjadi karena perkembangan zaman bisa jadi sumber buat pengambilan hukum Islam. Asal deh!

Padahal sampai kiamat sumber hukum Islam hanya al-Quran, as-Sunnah, dan yang dibenarkan oleh keduanya; yaitu Ijma Sahabat dan Qiyas. Sehingga dalam hal ini kedudukan fakta dijadikan sebagai obyek hukum. Kalo ada fakta baru, maka akan ada proses istinbath alias penggalian hukum terhadap fakta itu. Di sini terjadi proses penelaahan informasi yang lengkap bin komplit seputar fakta itu. Lalu digali status hukumnya berdasarkan sumber hukum Islam. Proses ijtihad yang dilakukan para muj-tahid inilah yang menjadikan Islam is Never Die !

Pilih syar’i, tinggalkan kompromi!

Sobat muda muslim, sekarang saatnya kita berkaca pada diri kita. Jalan hidup seperti apa yang akan kita pilih. Haruskah kita mengorbankan jati diri kita sebagai muslim demi status gaul, seksi, atau tren? Pantaskah kita mengutamakan ridho masyarakat daripada ridho Allah? Ragukah kita terhadap kesem-purnaan aturan Allah? Malukah kita kalo kudu istiqomah dengan aturan Islam di lingkungan sekuler sekitar kita?

Adakah kompromi atau jalan tengah yang ditunjukkin Rasulullah dalam hidupnya? Seperti saat pamannya, Abu Thalib, menawarkan pangkat, harta, dan kehormatan agar beliau mau meninggalkan Islam? Jawabnya: nggak ada. Nggak ada banget. Yang ada justru ketegasan sikap Rasulullah: “Demi Allah, wahai Paman, an-daikata mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan perkara ini (Islam), niscaya aku tidak akan meninggalkannya sampai Allah me-menangkan perkara itu atau aku hancur karenanya!”

So, mari kita jadikan Islam sebagai aturan hidup kita. Kita pelajari, pahami, amalkan, yakini, dan dakwahkan. Oke deh, pilih syar’i, and no compromise ! Met berjuang ye! [hafidz]
——————————————————————————————————————————————————
Aku cintakan dia kerana Allah???
bobhandburry writes: PACARAN, Upaya Mencari Jodoh Ideal?

Pacaran, setiap kali kita mendengarnya akan terlintas dibenak kita sepasang anak manusia yang tengah dimabuk cinta dan dilanda asmara, saling mengungkapkan rasa sayang serta rindu, untuk akhirnya memasuki sebuah biduk pernikahan. Lalu kenapa harus dipermasalahkan? Bukankah cinta itu fitrah
setiap anak adam? Bukankah orang membutuhkan tahap penjajakan sebelum pernikahan? Karena bagaimanapun juga, kegagalan saat pacaran lebih ringan daripada kegagalan setelah menikah. Marilah kira cermati masalah ini.

Semoga Allah mencurahkan cahaya kebenaran-Nya kepada kita semua.

Cinta, Fitrah Anak Manusia Manusia diciptakan oleh Allah ta’ala dengan membawa fitrah (insting) untuk
mencintai lawan jenisnya. sebagaimana firman-Nya : “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu Wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas,
perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS. Ali-Imran : 14).

Berkata Imam Qurthubi: “Allah ta’ala memulai dengan wanita karena kebanyakan manusia menginginkannya, juga karena mereka merupakan jerat-jerat syetan yang menjadi fitnah bagi kaum laki-laki, sebagaimana sabda Rasulullah SAW : “Tiadalah aku tinggalkan setelahku fitnah yang lebih berbahaya bagi laki-laki daripada wanita.” (HR. Bukhari : 5696, Muslim : 2740, Tirmidzi : 2780, Ibnu Majah : 3998).

Oleh karena itu, wanita adalah fitnah terbesar dibanding yang lainnya. (Tafsir Qurthubi 2/20).

Rasulullah SAW pun, sebagai manusia tak luput dari rasa cinta terhadap wanita.

Dari Annas bin Malik ra. berkata : Rasulullah SAW bersabda: “Disenangkan kepadaku dari urusan dunia wewangian dan wanita”. (HR. Ahmad 3/285, Nasa’i 7/61, Baihaqi 7/78 dan Abu Ya’la 6/199 dengan sanad hasan. Lihat Al-Misykah: 5261).

Karena cinta merupakan fitrah manusia, maka Allah ta’ala menjadikan wanita sebagai perhiasan dunia dan nikmat yang dijanjikan bagi orang-orang beriman di surga dengan bidadarinya. Dari Abdullah bin Amr bin Ash ra. berkata : Rasulullah SAW bersabda : “Dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baiknya perhiasan adalah wanita yang sholihah”. (HR. Muslim 10/56, Nasa’i 6/69, Ibnu Majah 1/571, Ahmad 2/168, Baihaqi 7/80).

Allah berfirman : “Di dalam surga-surga itu ada bidadari-bidadari yang baik-baik lagi cantik-cantik”. (QS. Ar-Rahman: 70).

Namun, Islam sebagai agama paripurna para Rasul, tidak membiarkan fitnah itu mengembara tanpa batas, Islam telah mengatur dengan tegas bagaimana menyalurkan cinta, juga bagaimana batas pergaulan antara
dua insan lawan jenis sebelum nikah, agar semuanya tetap berada dalam koridor etika dan norma yang sesuai dengan syari’at.

Etika Pergaulan Lawan Jenis Dalam Islam

Etika pergaulan tersebut antara lain :
1. Menundukan pandangan terhadap lawan jenis Allah memerintahkan kaum laki-laki untuk menundukan
pandangannya, sebagaimana firman-Nya : Katakanlah kepada laki-laki yang beriman : “Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya”. (QS. An-Nur : 30).

Sebagaimana hal ini juga diperintahkan kepada wanita beriman, Allah berfirman : Dan katakanlah kepada wanita yang beriman : “Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya.” (QS.
An-Nur : 31).

2. Menutup aurat

Allah berfirman : “Dan janganlah mereka menampakan perhiasannya, kecuali yang biasa nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya”. (QS. An-Nur : 31).

Juga firnan-Nya : Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mu’min : “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Ahzab : 59).

Perintah menutup aurat juga berlaku bagi semua jenis, sebagaimana sebuah hadits : Dari Abu Sa’id Al-Khudri ra. berkata : Rasulullah SAW bersabda : “Janganlah seorang laki-laki memandang aurat laki-laki, begitu juga wanita jangan melihat aurat wanita”. (HR. Muslim 1/641, Abu Dawud 4018, Tirmidzi 2793, Ibnu Majah 661).

3. Adanya pembatas antara laki-laki dengan wanita

Kalau ada sebuah keperluan terhadap lawan jenis, harus disampaikan dari balik tabir pembatas. Sebagaimana firman-Nya : “Dan apabila kalian meminta sesuatu kepada mereka (para wanita) maka mintalah dari balik hijab”. (QS. Al-Ahzab : 53)

4. Tidak berdua-duaan dengan lawan jenis

Dari Ibnu Abbas ra. berkata : saya mendengar Rasulullah SAW bersabda ; “Janganlah seorang laki-laki berdua-duaan (Khalwat) dengan wanita kecuali bersama mahramnya”. (HR. Bukhari 9/330,
Muslim 1341).

Dari Jabir bin Samurah berkata : Rasulullah SAW bersabda : “Janganlah salah seorang dari kalian berdua-duaan dengan seorang wanita, karena syetan akan menjadi yang ketiganya”. (HR. Ahmad 1/18, Tirmidzi 3/374 dengan sanad Shahih, lihat Takhrij Misykah 3188).

5. Tidak mendayukan ucapan

Seorang wanita dilarang mendayukan ucapan saat berbicara kepada selain suami. Firman Allah : “Hai istri-istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu
tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik”. (QS. Al-Ahzab : 32).

Berkata Imam Ibnu Katsir : “Ini adalah beberapa etika yang diperintahkan oleh Allah kepada para istri Rasulullah saw serta para wanita mu’minah lainnya, yaitu hendaklah dia kalau berbicara dengan orang
lain tanpa suara merdu, dalam artian janganlah seorang wanita berbicara dengan orang lain sebagimana dia berbicara dengan suaminya”. (Tafsir Ibnu Katsir 3/530).

6. Tidak menyentuh lawan jenis

Dari Ma’qil bin Yasar ra berkata : Rasulullah SAW bersabda : “Seandainya kepala seseorang ditusuk dengan jarum besi itu masih lebih baik dari pada menyentuh wanita yang tidak halal baginya”. (HR. Thabrani dalam Mu’jam Kabir 20/174/386 dan Rauyani dalam musnadnya 1283 dengan sanad hasan, lihat
Ash-Shohihah 1/447/226).

Berkata Syaikh Al-Albani rahimahullah: “Dalam hadits ini terdapat ancaman keras terhadap orang-orang yang menyentuh wanita yang tidak halal baginya”. (Ash-Shohihah 1/448).

Rasulullah SAW tidak pernah menyentuh wanita meskipun dalam saat-saat penting seperti membai’at dan lain-lain.

Dari ‘Aisyah berkata : “Demi Allah, tangan Rasulullah tidak pernah menyentuh tangan wanita sama sekali meskipun saat membaiat”. (HR. Bukhari 4891).

Inilah sebagian etika pergaulan laki-laki dengan wanita selain mahram, yang mana apabila seseorang melanggar semuanya atau sebagiannya saja akan menjadi dosa zina baginya, sebagaimana sabda Rasulullah SAW : Dari Abu Hurairah ra. dari Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya Allah menetapkan
untuk anak adam bagiannya dari zina, yang pasti akan mengenainya. zina mata dengan memandang, zina lisan dengan berbicara, sedangkan jiwa berkeinginan serta berangan-angan, lalu farji yang akan membenarkan atau mendustakan semuanya”. (HR. Bukhari 4/170, Muslim 8.52, Abu Dawud
2152).

Padahal Allah ta’ala telah melarang perbuatan zina dan segala sesuatu yang bisa mendekati perzinaan (Lihat Hirosatul Fadhilah oleh Syaikh Bakr Abu Zaid, Hal 94-98) sebagaimana firmanNya : “Dan janganlah
kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk”. (QS. Al-Isra’ : 32).

Hukum Pacaran

Setelah memperhatikan ayat dan hadits di atas, maka tidak diragukan lagi bahwa pacaran itu haram, karena beberapa sebab berikut :

1. Orang yang sedang pacaran tidak mungkin menundukan pandangannya terhadap kekasihnya.
2. Orang yang sedang pacaran tidak akan bisa menjaga hijab.
3. Orang yang sedang pacaran biasanya sering berdua-duaan dengan kekasihnya, baik didalam rumah atau di luar rumah.
4. Wanita akan bersikap manja dan mendayukan suaranya saat bersama kekasihnya.
5. Pacaran identik dengan saling menyentuh antara laki-laki dengan wanita, meskipun itu hanya jabat tangan.
6. Orang yang sedang pacaran, bisa dipastikan selalu membayangkan orang yang dicintainya.

Dalam kamus pacaran, hal-hal tersebut adalah lumrah dilakukan, padahal satu hal saja cukup untuk mengharamkan pacaran, lalu bagaimana kalau semuanya?.

Fatwa Ulama’ seputar Pacaran

Syaikh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin ditanya tentang hubungan cinta sebelum nikah (pacaran)? Jawab beliau : Jika hubungan itu sebelum akad nikah, baik sudah lamaran ataupun belum, maka hukumnya
haram, karena tidak boleh seseorang untuk bersenang-senang dengan wanita asing (bukan mahramnya) baik lewat ucapan, memandang, ataupun berdua-duaan. Sebagaimana telah tsabit dari Rasulullah SAW, bahwa beliau bersabda : “Janganlah seorang laki-laki berdua-duaan dengan seorang wanita kecuali bersama mahramnya, dan janganlah seorang wanita bepergian kecuali bersama mahramnya”. (Fatwa Islamiyah kumpulan Muhammad Al-Musnid 3/80).

Syaikh Abdullah bin Abdur Rahman Al-Jibrin ditanya : “Kalau ada seorang laki-laki yang berkorespondensi dengan seorang wanita yang bukan mahramnya, yang pada akhirnya mereka saling mencintai, apakah
perbuatan itu haram?” Jawab beliau : Perbuatan itu tidak diperbolehkan, karena bisa menimbulkan
syahwat diantara keduanya, serta mendorongnya untuk bertemu dan berhubungan, yang mana korespondensi semacam itu banyak menimbulkan fitnah dan menanamkan dalam hati seseorang untuk mencintai perzinaan yang akan bisa menjerumuskan seseorang pada perbuatan keji, maka saya menasehatkan kepada setiap orang yang menginginkan kebaikan bagi dirinya untuk menghindari surat-suratan, pembicaraan lewat telepon serta perbuatan semacamnya demi menjaga agama dan kehormatannya.

Syaikh Jibrin juga ditanya : “Apa hukumnya kalau ada seorang pemuda yang belum menikah menelepon gadis yang belum menikah?” Jawab beliau : Tidak boleh berbicara dengan wanita asing (bukan mahramnya)
dengan pembicaraan yang bisa menimbulkan syahwat, seperti rayuan, mendayukan suara baik lewat
telepon maupun lainnya. Sebagaimana firman Allah ta’ala : “Dan janganlah kalian melembutkan suara, sehingga akan berkeinginan orang-orang yang hatinya terdapat penyakit”. (QS. Al-Ahzab : 32).

Adapun kalau pembicaraan itu untuk sebuah keperluan, maka hal itu tidak mengapa apabila selamat dari
fitnah, akan tetapi hanya sekedar keperluan. (Fatawa Islamiyah 3/97).

Syubhat dan Jawabannya

Sebenarnya, keharaman pacaran lebih jelas dari pada matahari di siang bolong. Namun begitu masih ada yang berusaha menolaknya walaupun dengan dalil yang sangat rapuh, serapuh rumah laba-laba, diantara
syubhat itu adalah :

Tidak bisa dipukul rata bahwa pacaran itu haram, karena bisa saja orang pacaran yang Islami, tanpa melanggar syariat.

Jawab : Istilah “Pacaran Islami” itu *****a ada dalam khayalan, dan tidak pernah ada wujudnya. Karena anggaplah bisa menghindari khalwat, menyentuh serta menutup aurat. tapi tetap tidak akan bisa
menghindari dari saling memandang. Atau paling tidak membayangkan dan memikirkan kekasihnya. Yang
mana hal itu sudah cukup mengharamkan pacaran.

Orang sebelum memasuki dunia pernikahan, butuh untuk mengenal dahulu calon pasangan hidupnya, baik sisi fisik maupun karakter, yang mana hal itu tidak akan bisa dilakukan tanpa pacaran, karena bagaimanapun juga kegagalan sebelum menikah akan jauh lebih ringan daripada kalau terjadi setelah
nikah.

Jawab : Memang, mengenal fisik dan karakter calon istri maupun suami merupakan suatu hal yang dibutuhkan orang sebelum memasuki biduk pernikahan, agar tidak ada penyesalan di kemudian hari,
juga tidak terkesan membeli kucing dalam karung. Namun, tujuan ini tidak bisa menghalalkan sesuatu yang haram. Ditambah lagi, bahwa orang yang sedang jatuh cinta akan berusaha menanyakan segala yang baik dengan menutupi kekurangannya dihadapan kekasihnya. Juga orang yang sedang jatuh cinta akan menjadi buta dan tuli terhadap perbuatan kekasihnya, sehingga akan melihat semua yang dilakukannya
adalah kebaikan tanpa cacat. (Lihat Faidhul Qodir oleh Imam Al-Munawi 3/454).

Sebagaimana diriwayatkan dari Abu Darda : “Cintamu pada sesuatu membuatmu buta dan tuli”. (Hadits lemah baik marfu’ maupun mauquf, riwayat Bukhari dalam Tarikh Kabir 2/1/157, Abu Dawud 5130, Ahmad 5/194, Lihat Silsilah Dloifah 4/348/1868).
_____________________________________

Maraji :
Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Abu Yusuf / Majalh Al-Furqon Edisi 8.
Th.II/Rabi’ul Awwal 1424

Sumber : Eramuslim
——————————————————————————————————————————————————
KIAT BERGAUL ANTARA LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN
oleh : Siti Tri Zakiyah *

Alloh SWT tidak melarang suatu perbuatan apapun melainkan untuk kebaikan dan kemuliaan kita, untuk menjauhkan kita dari kerugian, bahkan untuk melindungi kita dari kehinaan dan kenistaan. Termasuk larangan untuk mendekati zina misalnya,

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan sesuatu jalan yang buruk.” (QS Al Isra [17] : 32) Bukan jangan berzina, tapi jangan mendekati zina. Dengan kata lain, mendekati zina saja dilarang, apalagi berzina. Bagaimana cara untuk tidak mendekati zina? Hal ini tentu akan sangat berkaitan dengan bagaimana cara bergaul antara laki-laki dan perempuan. Berikut ini kiat bergaul antara laki-laki dan perempuan yang bisa kita amalkan baik di sekolah, kampus, kantor, atau dimanapun kita berada.

1. Menutup aurat

“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu dan anak-anak perempuanmu dan wanita-wanita mukminah, Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka,…..” (QS Al Ahzab [33] : 59) Telah berkata Aisyah r.a, “Sesungguhnya Asma binti Abu Bakar menermui Nabi saw dengan dengan memakai busana yang tipis, maka Nabi berpaling darinya dan bersabda, “Hai Asma, sesungguhnya apabila wanita itu telah baligh (sudah haidh) tidak boleh dilihat daripadanya kecuali ini dan ini”, sambil mengisyaratkan pada muka dan telapak tangannya.” (HR Abu Dawud)

Termasuk bagian dari penyempurnaan menutup aurat adalah menggunakan pakaian yang longgar (tidak ketat), tidak menggunakan kain yang transparan atau tipis, model dan warna pakaian pun sebaiknya tak terlalu menarik perhatian laki-laki, juga tak berlebihan dalam menggunakan wewangian.

2. Menundukkan Pandangan

“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” (QS An Nuur [24] : 30)

“Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya…” (QS An Nuur [24] : 31)

3. Tegas dalam berbicara

“Hai istri-istri nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik..” (QS. Al Ahzab [33] : 32)

4. Menjaga jarak; tidak bersentuhan

Telah berkata Aisyah r.a, “Demi Alloh, sekali-kali dia (Rasul) tidak pernah menyentuh tangan wanita (bukan mahram) melainkan dia hanya membai’atnya (mengambil janji) dengan perkataaan.” (HR Bukhari dan Ibnu Majah)

5. Tidak berikhtilath (berdua-duaan)

“Barangsiapa beriman kepada Alloh dan hari akhir, maka janganlah seorang laki-laki sendirian dengan seorang wanita yang tidak disertai mahramnya. Karena sesungguhnya yang ketiganya adalah syaitan.” (HR Ahmad)

Dalam hal menutup aurat dan menjaga pandangan, walau laki-laki dan perempuan keduanya harus menutup aurat dan menjaga pandangan, tapi menjaga aurat lebih diutamakan bagi wanita sedangkan menjaga pandangan lebih diutamakan bagi laki-laki.

Bila para wanita menutup aurat dengan baik, mudah-mudahan upaya tersebut bisa membantu kaum lelaki yang belum mampu mengendalikan diri agar lebih terjaga pandangannya. Sebaliknya, bila kaum lelaki senantiasa menjaga pandangannya, walau ada wanita yang kurang sempurna menutup auratnya, maka tetap akan lebih sukar terlihat.

Selain itu, sering timbul pertanyaan, apakah dalam islam boleh pacaran? Seperti kita ketahui, orang-orang yang berpacaran itu biasanya tak menjaga batas-batas pergaulan antara laki-laki dan wanita seperti diatas, tak jarang yang aktifitasnya mendekati zina atau bahkan sampai berzina. Jadi, tidak ada pacaran dalam islam. Bila niat telah lurus dan telah siap dengan resiko suka duka berumah tangga, menjaga diri dengan menikah akan lebih dekat pada kebaikan.

Apakah ada pacaran islami? Ada sebagian orang yang mengira ta’aruf sebagai pacaran islami. Sebenarnya, ta’aruf adalah upaya mengenal seseorang yang kita pilih untuk kita jadikan pendamping hidup. Terlepas dari istilah pacaran, ta’aruf, atau apapun, islam memerintahkan kita untuk tetap menjaga aktivitas pergaulan dengan lawan jenis agar sesuai dengan rambu-rambu seperti diatas.

Maka dari itu, agar tak berduaan, saat ta’aruf pun kita tetap harus berupaya agar ditemani orang ketiga, misalnya teman perempuan, saudara perempuan, atau mahramnya. Selain itu, walau keputusanya harus matang dan tak tergesa-gesa, tapi prosesnya dianjurkan untuk dipersingkat agar tak tergelincir melakukan hal-hal yang tak disukai Alloh SWT.

Semoga Alloh SWT membimbing kita agar mampu menjaga dan mengendalikan diri dalam pergaulan dengan lawan jenis. Semoga Alloh juga melindungi kita dari perbuatan-perbuatan yang tak disukai-Nya.

Sumber: www.manajemenqolbu.com

——————————————————————————————————————————————————
Alternatif Pacaran: Jodohan?
Friday, November 25th, 2005

Intro

Teman saya menulis blog berjudul “Pacaran? Basi Tau!“. Setelah itu dia memberikan ke saya artikel-artikel dengan judul “Tidak Ada Pacaran Islami (Between Myth and Fact)” dan “TERNYATA (KATANYA) PACARAN ISLAMI ITU ADA LHO!”.

Tulisannya dan artikel-artikel tersebut membuat saya berpikir untuk yang kesekian kalinya tentang masalah ini. Pertanyaan yang selalu muncul adalah “Sebetulnya apa masalah sebenarnya?” dan “Ada nggak solusi Islaminya?”. Blog ini adalah rangkuman usaha saya untuk menjawab dua pertanyaan tersebut.

Kenapa Orang Berpacaran?

Dalam kehidupan sehari-hari, umumnya laki-laki berinteraksi dengan perempuan. Kalaupun tidak terjadi interaksi, terdapat banyak saat di mana laki-laki melihat perempuan dan sebaliknya (baik disengaja maupun tidak). Hal-hal yang telah disebutkan bisa menyebabkan seseorang tertarik ke lawan jenisnya. Tingkat ketertarikannya bisa beragam, namun setelah mencapai tingkat tertentu ketertarikan itu dinamakan orang sebagai “jatuh cinta”. Untuk memudahkan pembahasan ini, saya akan menggunakan istilah “pemimpi” untuk orang yang jatuh cinta dan “kekasihnya” untuk orang yang dicintai oleh pemimpi.

Sebetulnya apa yang diinginkan oleh pemimpi? Saya mengklaim bahwa tujuan pemimpi adalah MENIKAHI kekasihnya. Ingatlah tujuan tersebut baik-baik sebab itu akan menjadi acuan pembicaraan kita.

Sayangnya, bagi kebanyakan pemimpi terdapat halangan-halangan untuk menikah. Ada dua halangan yang bisa saya sebutkan di sini. Yang pertama adalah halangan finansial. Coba pikirkan mereka yang bersekolah di SMP, SMU, dan universitas. Sebagian besar dari mereka (atau kekasihnya) tidak akan mampu untuk menghidupi sebuah keluarga. Yang kedua adalah halangan umur. Menurut pemimpi, umurnya (atau kekasihnya) masih terlalu muda untuk bisa melakukan pernikahan yang diterima masyarakat.

Lalu apa solusi dari kedua masalah tersebut? Salah satu jawaban yang jelas adalah MENUNGGU. Seiring berjalannya waktu, pemimpi (beserta kekasihnya) akan bertambah umur dan (harapannya) mendapat pekerjaan. Lalu pemimpi bisa mengajak kekasihnya menikah.

Tapi tidak, kebanyakan pemimpi tidak menunggu! Mereka malah memulai dan menjalani hubungan yang disebut pacaran. Kenapa?

Alasannya sangat mudah dan sederhana: KEPEMILIKAN. Kalau kita pikirkan, pernikahan menjamin kepemilikan. Kalau pemimpi menikah dengan kekasihnya, maka mereka tidak akan menikah dengan orang lain (saya mengabaikan poligami dan poliandri untuk mempermudah pembicaraan kita).

Jadi, kalau pemimpi tidak bisa memiliki kekasihnya dalam ikatan pernikahan, dia akan mencari “hubungan sosial lain” yang juga menjanjikan kepemilikan (walupun dalam bentuk yang lebih lemah dari pernikahan). Ini untuk MENCEGAH kekasihnya dimiliki orang lain lebih dulu. Saat ini “hubungan sosial lain” yang tersedia adalah pacaran, maka merebaklah pacaran.

Rangkuman: Orang-orang berpacaran sebab mereka belum siap menikah namun tetap ingin memiliki kekasihnya. Dengan kata lain, mereka ingin mencegah kekasihnya dimiliki orang lain sebelum mereka sendiri bisa menikahinya.

Masalah pada Istilah “Pacaran”?

Pacaran (sebagaimana yang dilakukan banyak orang) berisi banyak aktivitas yang sebetulnya dilarang Islam: berdua-duaan, berpegangan tangan, berpelukan, dst. Ini berakibat bahwa saat dua orang berada dalam status “berpacaran”, terdapat “image” atau ekspektasi dari orang lain bahwa pasangan tersebut melakukan hal-hal yang telah disebutkan. Ini juga berakibat bahwa saat pemimpi “menembak” kekasihnya, kekasihnya berpikir bahwa mereka nanti akan melakukan hal-hal tersebut kalau sang kekasih menerima menjadi pacarnya.

Jadi, ikhwan yang mencintai seorang akhwat tapi belum siap menikah akan berhadapan dengan suatu dilema. Kalau ikhwan tersebut menunggu sampai siap, bagaimana kalau akhwat tersebut dinikahi orang lain lebih dulu? Untuk akhwat yang mencintai seorang ikhwan, pertanyaannya menjadi “Apakah dia akan memilih saya untuk menikah?”.

Bisa saja ikhwan dengan akhwat “berpacaran” dengan batasan-batasan tertentu agar “Islami”. Misalnya, dalam “berpacaran” tidak berduaan, bersentuhan, dsb. Sepertinya “pacaran” seperti itulah yang dimaksud saat orang mengatakan “pacaran Islami”. Tapi saya rasa ini lucu sebab istilah “pacaran” sudah begitu melekat dengan hal-hal seperti berduaan, bersentuhan, dsb. “Pacaran Islami” kedengarannya seperti suatu oxymoron.

Secara pelaksanaan, istilah “pacaran Islami” juga tidak begitu membantu saat pemimpi ingin “menembak” kekasihnya. Untuk mengajak pacaran (non-Islami) pemimpi tinggal mengatakan “Kamu mau nggak jadi pacarku?”. Simpel. Kalau ingin pacaran Islami, apakah harus mengatakan “Kamu mau nggak jadi pacarku? Tapi yang Islami. Maksudnya begini…”. Ukh, terlalu ribet.

Daripada menggunakan istilah “pacaran Islami”, bagaimana kalau digunakan istilah lain yang sama sekali tidak menggunakan kata “pacaran”? Kita didefinisikan dengan jelas maksud istilah baru tersebut lalu disosialisasikan.

Solusi: Hubungan Sosial Baru, Istilah Baru

Masalahnya telah ditemukan. Bagi kebanyakan pemimpi, pernikahan diinginkan namun tidak memungkinkan. Walaupun begitu mereka tetap menginginkan suatu bentuk kepemilikan (seberapapun lemahnya) sampai mereka bisa melangsungkan pernikahan. Satu-satunya alternatif yaitu “pacaran” menyulitkan mereka yang ingin Islami karena batasan “pacaran” tidak pernah jelas dan karena “pacaran” sebagaimana yang dilakukan banyak orang jelas-jelas tidak Islami. Kalau begitu, solusinya ya menciptakan jenis hubungan baru yang memberikan suatu bentuk kepemilikan namun tetap Islami.

Idealnya, hubungan jenis baru ini memiliki nama yang orisinil. Sayangnya saya tidak mendapatkan ide yang bagus (”racap”, kebalikan dari “pacar”, kedengarannya sangat jelek). Untuk itu saya akan menggunakan istilah yang sudah ada yaitu “jodoh”. Hubungan baru tersebut dideskripsikan pada dokumen berikut:

== Dokumen Panduan Perjodohan ==

1) Nama

“Jodoh” adalah nama relasi antara dua orang sebagaimana yang dipandu dalam dokumen ini.

Contoh penggunaan katanya adalah:

“Dia adalah jodohku.”
“Kami berjodohan.”
“Kamu sudah punya jodoh belum?”

2) Makna

Dengan berjodohan, kedua belah pihak menyatakan keinginannya untuk saling menikah jika keadaannya sudah memungkinkan.

Selama berjodohan kedua belah pihak setuju bahwa hubungannya diatur oleh syariat Islam (dalam hal ini berarti hubungan antara perempuan dengan laki-laki yang bukan mukhrimnya). Beberapa contohnya adalah:

* Tidak diperbolehkan untuk berduaan
* Tidak diperbolehkan berpandang-pandangan secara berlebihan
* Tidak diperbolehkan untuk bersentuhan (termasuk di antaranya berpegangan tangan, berpelukan, dan berciuman)

Dengan berjodohan, kedua belah pihak juga setuju untuk saling mengingatkan jika interaksi mereka melanggar syariat Islam.

3) Status

Dua orang bisa menjadi jodoh jika kedua belah pihak menginginkannya dan saling menyatakan keinginannya tersebut. Status jodoh bisa hilang jika salah satu pihak menyatakan keinginannya untuk berhenti berjodohan.

Dalam prakteknya, sesorang akan mengajak atau meminta orang lain untuk menjadi jodohnya, lalu pihak lain tersebut akan memberikan jawabannya. Aksi orang yang mengajak atau meminta disebut “memanah” (analoginya adalah “menembak” untuk meminta orang lain menjadi pacar.)

Contoh memanah:

“Aku suka kamu. Kamu mau nggak jadi jodohku?”

(tidak harus tatap muka, bisa saja melalui telepon, surat, maupun SMS (atau tatap lantai/dinding/jendela))

Contoh jawaban:

“Aku juga sebetulnya suka kamu. Ya, aku mau.”
“Aku pikir-pikir dulu. Nanti kukasih jawabannya besok.”
“Maaf, tapi aku suka orang lain.”
“Maaf, tapi aku sudah berjodohan.”

(Akhir dari Dokumen Panduan Perjodohan)

Pendefinisian “jodoh” yang jelas tersebut akan memudahkan baik pemimpi maupun kekasihnya. Untuk memanah, pemimpi tinggal mengatakan, “Kamu mau nggak jadi jodohku?” tanpa perlu menyertakan penjelasan yang panjang lebar. Kekasihnya juga akan mengerti segala konsekuensi jika menerimanya, sehingga bisa membuat keputusan yang sesuai.

Salah satu kekhawatiran orang tua kalau anaknya berpacaran adalah bahwa anaknya akan kelewatan. Ini karena hubungan “pacaran” tidak memiliki batasan yang jelas, sehingga orang tua tidak akan tahu apakah anaknya yang berpacaran hanya sebatas bergandengan tangan, berpelukan, berciuman, atau malah sudah yang lebih jauh lagi. Masalah ini tidak ada pada istilah “jodoh” karena batas-batasnya telah didefinisikan dengan jelas. Kalau orang tua tahu bahwa anaknya memiliki “jodoh”, maka orang tua tersebut bisa tenang karena berdasarkan batasan “jodoh” bersentuhan pun tidak boleh dilakukan anaknya.

Dokumen panduan di atas juga tidak mendefinisikan bahwa pemanah haruslah laki-laki. Menurut saya, tidak masalah kalau perempuan yang memanah, toh yang penting nanti keduanya sama-sama setuju untuk berjodohan.

Kalau kamu setuju dengan konsep perjodohan seperti yang telah disebutkan tadi (mungkin malah ingin mencobanya), langkah terakhir yang diperlukan adalah sosialiasi istilah beserta penjelasannya. Kalaupun kamu tidak setuju, kamu mungkin ingin menyebarkan tulisan ini untuk memicu diskusi lebih lanjut. Kalau ingin sosialisasi dalam skala besar, seluruh tulisan ini bisa diforward ke forum atau milis tertentu. Bisa juga diforward ke teman-teman terdekat kamu. Kalau tujuan kamu sebatas ingin memanah seseorang, pastikan orang tersebut membaca tulisan ini sebelum memanahnya. Namun kamu harus cepat, sebab siapa tahu orang lain lebih dulu memanah dia .

Reaksi: